Terima Kasih Karena Masih Membuat Rumah Kita Berantakan

“Aku heran sama istriku!” Suatu hari seorang teman mengunjungi saya dan mulai menceritakan keluhan-keluhannya tentang istrinya. “Aku sudah bingung harus bagaimana?” Katanya.
Sebenarnya saya tidak enak untuk membicarakan masalah pribadi seperti ini. Tetapi teman saya terus mengajak bicara. Tampaknya ia perlu teman bicara. “Apa masalahnya?” Tanya saya.
Raut wajahnya tampak kesal. Kemudian berubah kecewa, “Banyak,” jawabnya pendek.
“Apa yang paling membuatmu kesal?”
“Istriku pemalas!” Jawabnya.
Saya tak memberi komentar apa-apa, menunggunya melanjutkan pembicaraan.
“Setiap hari, sepulang kerja, rumah kami selalu berantakan.” Benar saja, ia melanjutkan ceritanya, “Padahal istriku seharian di rumah saja bareng anak-anak. Apa dia nggak bisa menyisihkan sedikit waktu buat ngurusin rumah?”
“Rumahku juga sering berantakan. Wajar aja, kan? Kita tidak tinggal di rumah kosong!” Jawab saya. Berusaha menenangkan.
Teman saya tampak berpikir. “Iya, sih. Tapi… ini beda!” Katanya kemudian, “Istriku memang dasarnya saja pemalas! Dulunya dia anak orang kaya, nggak pernah kerja ini-itu, termasuk mungkin nggak pernah beres-beres rumah.”
“Hmmm… Mungkin kalian butuh asisten rumah tangga?” Saya berusaha memberi pendapat.
“Sayangnya, kita belum bisa bayar asisten rumah tangga… Tapi, harusnya dia ngerti kondisiku, dong! Aku mempercayakan urusan rumah kepadanya. Harusnya dia bisa handle!”
Saya berusaha memahami perasaannya. Saya juga sering merasakan hal yang sama, kadang-kadang mengeluhkan masalah yang sama pada istri saya. Wajar saja sepulang kerja suami ingin melihat rumah dalam kondisi yang bersih dan rapi. Tetapi, bukankah wajar juga jika istri kita kelelahan seharian bermain dengan anak-anak, juga barangkali mengurusi hal lainnya, sehingga urusan rumah kadang-kadang terabaikan?
“Kadang-kadang, aku juga mengeluhkan hal yang sama,” jawab saya kemudian. “Tetapi mungkin kita perlu kacamata baru?”
“Kacamata baru?”
“Ya, semacam sudut pandang baru.” Jawab saya.
“Maksudmu?”
“Kadang-kadang, kita mungkin tidak bisa mengubah masalah yang kita hadapi. Tetapi kita bisa mengubah cara pandang kita dalam melihat masalah itu.”
Teman saya membetulkan posisi duduknya, ia mulai tertarik pada pembicaraan ini.
“Kita tidak tinggal di rumah kosong,” saya berusaha menjelaskan, “Mungkin kita justru perlu melihat rumah yang berantakan dengan perasaan yang bahagia.”
“Kenapa?” Tanya teman saya. Heran.
“Bayangkan jika tak ada mereka di rumah. Bayangkan tak ada istri dan anak-anak. Misalnya, karena satu dan lain hal, mereka sudah tidak ada lagi di tengah-tengah kehidupan kita. Di ruang tengah tak ada lagi anak-anak yang berlarian mengotori karpet dengan kaki berlumpur, tak ada lagi sisa-sisa makanan di sofa karena mereka lompat-lompat sambil makan, tak ada lagi mainan yang tidak dibereskan… Karena mereka telah tiada. Lalu di dapur, tak ada lagi noda masakan yang menempel di kompor, atau cucian piring yang menumpuk, atau apa saja… Sebab istri kita sudah pergi untuk selama-lamanya…”
Teman saya menarik nafas panjang, kemudian menundukkan kepalanya.
“Kita tidak tinggal di rumah kosong. Kita tidak tinggal sendirian,” Ujar saya, “Barangkali rumah yang berantakan harus kita lihat sebagai semacam pemberitahuan bahwa kita masih bersama istri dan anak-anak kita. Rumah yang berantakan adalah bukti kehadiran mereka… Bahwa anak-anak kita masih berbahagia bermain dan berlarian di rumahnya. Bahwa istri kita selalu berbaik hati menghabiskan waktunya di rumah, menemani anak-anak bermain, dan tak meminta apa-apa lagi yang boleh jadi kita tak sanggup untuk mewujudkannya.”
Tiba-tiba teman saya menangis. Agak lama sehingga saya juga merasa sedih. Saya merasa apa yang baru saja saya bicarakan berlaku untuk diri saya sendiri.
“Makasih banyak, Fahd. Seringkali kita memang butuh kacamata baru untuk melihat sesuatu. Seringkali kita butuh temen ngobrol.” Ujar teman saya.
Saya menganggukkan kepala. “Aku juga terima kasih. Ini seperti mengingatkan diri sendiri. Aku juga sering gagal melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain…”
Tak lama, teman saya meminta pamit. Katanya, ia ingin segera menemui istri dan anak-anaknya.
Ada perasaan yang sama hadir dalam diri saya. Saya ingin segera menemui Rizqa, Kalky dan Kemi. Saya ingin segera melihat rumah saya yang masih berantakan… Dengan sisa-sisa makanan di sofa, mainan dan potongan-potongan kertas di atas karpet di ruang bermain Kalky, baju-baju Kemi yang basah terkena muntahnya sendiri… Lalu saya akan ke dapur, melihat noda-noda bekas Rizqa memasak, piring-piring kotor bekas mereka makan bersama… atau apa saja yang memberi tahu saya bahwa istri dan anak-anak saya masih ada di rumah dan baik-baik saja. Saya ingin memeluk mereka sambil berbisik, “Terima kasih karena masih membuat rumah kita berantakan…”
Demikianlah, kadang-kadang kita memang tak membutuhkan kehidupan lainnya, yang seringkali kita bayangkan sebagai kehidupan yang sempurna. Kita hanya perlu mensyukuri apa yang ada, yang sudah kita punya, sambil sesekali membersihkan lensa kacamata agar lebih baik dalam melihat apa saja yang indah di sekeliling kita.
Melbourne, 9 Februari 2015
FAHD PAHDEPIE

loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar