Tiga Wujud Kebudayaan

Terdapat tiga wujud kebudayaan. Kebudayaan yang diartikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia mempunyai tiga wujudnya. Di antara wujud kebudayaan tersebut (Koentjaranignrat (1990) dalam Budiwati dan Mutiara (2003)) yaitu:
Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan-gagasan, nilai-nilai, norma-norma, perraturan dan sebagainya
Wujud pertaman ini adalah wujud ideal dari kebudayaan. Dalam wujud yang pertama ini, kebudayaan bersifat abstrak, artinya tidak dapat diraba atau difoto. Sebaai suatu kopleks ide, maka lokasinya ada di dalam kepala-kepala manusia, atau dengan pertakaan lain, ada di dalam alam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan bersangkutan itu hidup. Ide-ide dan gagasan-gagasan dari individu-individu yang hidup bersama dalam suatu masyarakat, memberi jiwa kepada masyarakat tersebut. Artinya, apa pun yang dilakukan, yang terjadi, dan yang ada dalam masyarakat dijiwai oleh ide-ide para warganya. Gagasan-gagasan yang ada di masyarakat saling terkait antara satu dengan yang lainnya, sehingga membentuk suatu sistem budaya, atau cultured system.
Contoh: upacara kurban babi pada masyarakat Tembaga di pegunungan Irian, di mana pada upacara tersebut sejumlah babi disembelih untuk dipersembahkan kepada arwah para leluhur. Upacara korban ini dilakukan setelah peperangan antarsuku selesai. peeperangan antar suku terjadi biasanya karena memperebutkan tanah, di mana karena populasi babi yang sangat besar mengakibatkan suatu suku membutuhkan tanah yang lebih luas. Ketika peperangan selesai maka dilakukan lah upacara sembelih kurban babi, di samping untuk memperingati kemenangan juga untuk mengurangi populasibabi.
Wujud kebudayaan sebagai suatu kopleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
Wujud kedua ini disebut juga sistem sosial atau social system, yang berkaitan dengan tindakan berpola dari manusia itu sendiri. Sistem sosial itu terdiri dari aktivitasw-aktivitas dari manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain, menurut pola-pola tertentu yan berdasarkanadat tata kelakuan. Sistem sosial ini bersifat konkret, artinya dapat diamati.
Contoh: aktivitas barter yang terjadi antara para nelayan dengan petani pedalaman pada masyarakat Melanesia di kepulauanTrobiand di sebelah timur laut Niu Gini. Setelah para nelayan berhasil menangkap ikan maka biasanya yang ditinggalkan di rumah hanya sebagian kecil saja, sedangkan yang lainnya akan ditukar dengan beberapa hasil bumi yang dibawa para petani pedalaman yang sudah menuggunya di pantai. Selanjutnya petani pedalaman ini akan membawa ikan-ikan hasil barteran dengan berlari sejauh bermil-mil agar ikan tetap segar sesampai di rumah.
Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia
Wujud ketika ini disebut juga kebudayaan fisik, karena merupakan seluruh total hasil fisik dari aktivitas, perbuatan, dan kara semua manusia dalam masyarakat.
Contoh: candi borobudur.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar