Teori Penokohan

Ada beberapa teori penokohan. Penokohan merupakan satu bagian penting dalam membangun sebuah cerita. Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan untuk menyampaikan ide, motif, plot, dan tema (Fananie, 2000). Istilah “penokohan” lebih luas pengertiannya daripada “tokoh” dan “perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan, dan bagaimana penempatan dan pelukisnya dalam sebua h cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca. Penokohan dan karakterisasi perwatakan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak-watak tertentu dalam sebuah cerita. Atau seperti dikatakan oleh Jones (1968), Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
Penokohan sekaligus menyarankan pada teknik pewujudan dan pengembangan tokoh dalam sebuah cerita. Dalam istilah penokohan terkandung dua aspek: Isi dan bentuk. Tokoh, watak, dan segala emosi yang dikandungnya itu adalah aspek isi, sedangkan teknik pewujudannya dalam karya fiksi adalah bentuk. Penokohan sebagai salah satu unsur pembangunan fiksi dapat dikaji dan dianalisis keterjalinannya dengan unsur-unsur pembangunan lainnya. Jika fiksi yang bersangkutan merupakan sebuah karya yang berhasil, berbagai unsur yang lain, misalkan dengan unsur plot dan tema, atau unsur latar,sudut pandang, gaya, amanat, dan lain-lain (Nurgiantoro, 2002).
Tokoh cerita (character), menurut Abrams (1981), adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang di ekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Dari kutipan tersebut juga dapat diketahui bahwa antara seorang tokoh dengan kualitas pribadinya erat berkaitan dengan penerimaan pembaca.
David Daiches (1948) menyebutkan bahwa karakter pelaku cerita fiksi dapat muncul dari sejumlah peristiwa dan bagaimana reaksi tokoh tersebut pada peristiwa yang dihadapi. Walaupun tokoh cerita hanya merupakan tokoh ciptaan pengarang, ia haruslah merupakan seorang tokoh yang hidup secara wajar, sewajar sebagaimana kehidupan manusia yang terdiri dari darah dan daging, yang mempunyai pikiran dan perasaan. Kehidupan tokoh cerita adalah kehidupan dalam dunia fiksi, maka ia haruslah bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan cerita dengan perwatakan yang disandangnya (Nurgiantoro, 2002).
Dalam kasus kepribadian tokoh, pemaknaan dilakukan berdasarkan kata-kata (verbal) dan tingkah laku lain (non verbal).
Metode verbal (dialog dan percakapan)
Nugriyantoro (2002) menjelaskan bahwa percakapan yang dilakukan oleh tokoh cerita dimaksudkan untuk menggamb arkan sifat tokoh yang bersangkutan. Tidak semua percakapan menunjukkan sikap tokoh, namun percakapan yang efektif dan baik adalah percakapan yang menunjukkan sifat atau watak dari tokoh pelakunya.
Fenanie (2000) mengatakan dengan adanya dialog-dialog yang dikemukakan pengarang, pembaca dapat mengetahui sejauh mana moralitas, mentalitas, pemikiran, dan watak tokohnya.
Metode non verbal (deskripsi perbuatan)
Metode non verbal menggambarkan watak atau karakter tokoh cerita dengan cara mendeskripsi tindak tanduk atau perbuatan yang dilakukan oleh tokoh cerita. Mido (1994) juga menjelaskan bahwa non verbal merupakan cara penyampaian informasi tanpa menggunakan bahasa, dan cara penyampaian ini sampai kepada kita melalui saluran yang terlihat, termasuk perilaku ekspresi, seperti ekspresi wajah, isyarat, postur, dan penampilan. Selain itu, metode ini adalah metode yang paling efektif untuk menunjukkan unsur-unsur karakter seorang tokoh.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar