Sejarah Hepatitis B

Dalam Sejarah Hepatitis B pertama kali dikenal dengan istilah “Penyakit kuning” dan sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu yaitu sejak abad 5 SM di Babilonia. Kemudian Hipocrates seorang tabib Yunani Kuno (460-375 SM), yang menemukan bahwa penyakit kuning ini menular sehingga ia menamakan penyakit tersebut sebagai icterus infectiosa.
Sifat menular dari penyakit hepatitis B ini telah diketahui pada abad 8 M, ketika Paus Zacharias menganjurkan suatu tindakan untuk mencegah penularan lebih lanjut yaitu dengan melakukan isolasi terhadap penderita.
Penyakit kuning yaitu hepatitis virus yang dikenal sebagai Water Viral Hepatitis tercatat sebagai wabah untuk pertama kali pada tahun 1895 di Inggris, kemudian timbul di Skandinavia pada tahun 1916 dan tahun 1944, lalu di New Delhi tahun 1955.
Pada tahun 1963 jenis hepatitis ini dikenal dengan Hepatitis Serum yaitu hepatitis yang penularannya melalui darah dengan masa tunas 2-6 bulan. Pada tahun 1965 virus hepatitis B (VHB) ditemukan pertama kali oleh Dr. Baruch S. Blumberg dan asistennya Dr. Barbara Werner. Mereka mendeteksi adanya suatu antigen dalam darah seorang warga Suku Aborigin Australia penderita hemophilia. Antigen ini kemudian dinamakan australian antigen. Sekarang lebih dikenal nama antigen permukaan VHB (HBsAg) karena terdapat dipermukaan VHB. Atas jasanya tersebut beliau mendapat hadiah nobel untuk bidang kedokteran pada tahun 1976.
Pada tahun 1965, Blumberg dkk melaporkan penemuan pertama kali antigen permukaan hepatitis B (HBsAg), juga dikenal sebagai antigen Australia. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1970, Dane memvisualisasikan virus hepatitis B (HBV) virion. Sejak itu, kemajuan besar telah dibuat mengenai epidemiologi, virologi dan pengobatan virus hepatitis B.
Diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi dengan virus hepatitis B (HBV). Sekitar 350 juta orang adalah pembawa seumur hidup, dan hanya 2% serokonversi spontan (sembuh sendiri tanpa pengobatan) per tahun. Program vaksinasi yang sedang berlangsung tampaknya menjanjikan dalam upaya untuk mengurangi prevalensi penyakit HBV.
Virus hepatitis B (HBV) ditularkan melalui darah maupun produk darah dan secara seksual (hubungan intim). Konsekuensi dari perjalanan hepatitis B kronis yang aktif tanpa pengobatan akan berkembang menjadi sirosis hati (kerusakan total hati) dan perkembangannya kearah kanker hati.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar