Proses Pembentukan Karakter

Proses pembentukan karakter merupakan sebuah proses yang panjang. Manusia tidak sekadar memiliki tantangan berhadapan dengan determinasi yang berasal dari luar dirinya, seperti kultur, kekuatan alam, struktur sosial, dan lain-lain. Ia juga dianugrahi kekuatan internal, sebuah kesadaran akan batas-batas, sekaligus kemungkinan akan pengembangan yang mampu mengatasi kelemahan dan keterbatasan tersebut. Karakter terjadi bukan karena ciri itu telah ada di sana dan emndominasinya, melainkan sebuah proses menjadi yang terbentuk satu demi satu melalui keputusan individu dalam bereaksi atas data di luar dirinya.
Determinasi natural dalam diri manusia memang ada. Namun, individu tidak hanya sekedar memiliki sikap reaktif naturalis, seperti pola perilaku instingtif yang menjadi ciri khas binatang. Manusia juga memiliki sikap proaktif untuk menentukan, mengambil jarak, membuat proyek dalam rangka mengarahkan dirinya ke masa depan. Manusia mampu membangun kehendak untuk mengafirmasi dan meguasai, serta kemampuan membaktikan diri sepenuhnya ke arah yang dikehendaki dengan kesetiaan dan ketekunan. Inilah cirri mekanisme internal diri manusia yang tak dapat ditolak keberadaannya.
Manusia dianugrahi kemampuan untuk meletakkan pertumbuhan karakternya dalam kerangka keterbatasan, namun sekaligus kemungkinan diri manusia untuk mengatasi ket erbatasannya. Meskipun manusia memiliki batasan atas kenyataan fisik yang mereka miliki, tidaklah dapat diingkari bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Melalui akal budinya manusia mengatasi keterbatasan fisik natural yang diterima dengan menciptakan kultur yang sifatnya suportif atas kelanggengan hidup mereka. Melalui kesadaran akan nilai, manusia memiliki kekuatan untuk melakukan untuk melakukan apa yang baik. Bahkan ia bisa mengorbankan dirinya demi nilai tersebut meskipun pilihan itu menghasilkan penderitaan, kesengsaraan, bahkan kematian bagi dirinya.
Secara natural kodrat kita memiliki keterarahan yang oleh Mounier disebut sebagai tujuan interior (inner finality). Keterarahan dari dalam inilah yang mengarahkan manusia dan memberikan horizon serta perspektif ke depan yang akan diraih manusia. Dengannya, manusia mampu melemparkan dirinya ke masa depan melalui keputusan-keputusan kecil yang dirangkainya dalam kehidupan sehari-hari.
Karakter yang pada mulanya dipahami melalui konteks meta psikologi, yaitu sebuah usaha memahami manusia dari dinamika psikologi yang menyertainya, berupa kecenderungan temperamental, kini menjadi semakin terfokus pada proses pilihan bebas manusia sebagai penentu dan penghayat nilai. Usaha pengembangan karakter memiliki dimensi pengembangan bagi kualitas moral seseorang. “karakter melibatkan di dalamnya pengembangan sesuatu yang esensial di mana jika sesuatu itu dihilangkan akan menghilangkan identitas permanen individu (Paulo Freire, 1994).
Yang menjadi masalah dalam mengembangkan karakter adalah kemampuan untuk tetap menjaga identitas permanen dalam diri manusia., yaitu semakin menjadi sempurna dalam proses penyempurnaan dirinya sebagai manusia. Oleh karena itu, karakter bukanlah perpanjangan keluasan hidup psikologis. Karakter dengan demikian tidak dapat diredusir sebagai keinginan manusia untuk mencapai kebahagiaan, ketentraman, kesenangan, dan lain-lain yang lebih merupakan perpanjangan dari kebutuhan psikologis manusia. Karakter merupakan ciri dasar melalui mana pribadi itu memiliki keterarahan ke depan dalam membentuk dirinya secara penuh sebagai manusia apa pun pengalaman psikologis yang dimilikinya.
Mengingat bahwa pengembangan karakter merupakan proses terus-menerus, karakter bukanlah kenyataan, melainkan keutuhan perilaku. Karakter bukanlah hasil atau produk, melainkan usaha hidup. Usaha ini akan semakin efektif ketika manusia melaksanakan apa yang memang masih mungkin bias dilakukan oleh manusia.
Manusia berbeda dengan binatang karena ia memiliki kemungkinan-kemungkinan yang terbuka di masa depan. Manusia mampu memodifikasi hidupnya dan membuat sebuah proyek bagi masa depannya. Dengan demikian, manusia menghidupi gerak maju dalam sejarahnya melewati momen vital yang menjadikan setiap pengalaman sebagai drama singularitasnya, melalui kontardiksi, komplikasi, dan ambivalensi yang senantiasa menjadi bagian dari pengalaman eksistensialnya. Manusia hanya bisa mengenali karakternya jika ia mencoba mengenali dan mencintai janji-janji yang ada dalam struktur antropoligisnya (Doni, 2007).
Perbedaan sudut pandang dan pendekatan tentang karakter membuat para pemikir kontemporer memiliki pemaham berbeda tentang karakter. Bagi Mounier, personalisme yang diusungnya membuat dia memahami karakter sebagai struktur dasar antropologis manusia yang terbuka pada yang transenden. Memahami karakter baginya adalah mengetahui , “janji-janji” yang membuat manusia itu terbuka pada kemungkinan mengatasi keterbatasan kodratinya. Terlebih, karakter membuat manusia mampu membuat proyek dan setia pada proyek hidupnya untuk mengarah ke masa depan.
F.R Paulhan, misalnya, menganggap karakter sebagai sebagai “Perilaku tipikal berbeda yang diyakini oleh pribadi berhadapan dengan nilai-nilai estetis, ekonomis, politis, sosial dan religius”. Secara sintetis A. Nicefero mendefinisikan karakter sebagai “ada aku di dalam masyarakat.” (A. Niceforo, 1953). Defini lain diajukan oleh R. Diana. Ia mengatakan bahwa karakter merupakan, “keseluruhan disposisi kodrati (congenite) dan disposisi yang telah dikuasai secara stabil yang mendefinisikan seseorang individu dalam keseluruhan tata perilaku psikisnya yang menjadikannya tipikal dalam cara berpikir dan bertindak.” (R. Diana: 1964). Diana dengan persis memtakan dua aspek dan stabilitas (kesatuan berkesinambungan dalam kurun waktu). Karena itu ada semacam proses strukturasi psikologis dalam diri individu yang secara kodrati sifatnya reaktif terhadap lingkungan.
Beberapa kriteria, seperti stabilitas pola perilaku, kesinambungan dalam waktu, koherensi cara berpikir dan bertindak merupakan proses pembentukan karakter setiap individu. Jadi karakter merupakan sebuah kondisi dinamis struktur antropologis individu, yang tidak mau sekedar berhenti atas determinasi kodratinya melainkan juga sebuah usaha hidup untuk menjadi semakin integral mengatasi determinasi alam dalam dirinya demi proses penyempurnaan dirinya terus-menerus. Kebebasan manusialah yang membuat struktur antropologis itu tidak determinan, melainkan menjadi faktor yang membantu pengembangan manusia secara integral. Karakter sekaligus berupa hasil dan proses dalam diri manusia yang sifatnya stabil dan dinamis untuk senantiasa berkembang maju mengatasi kekurangan dan kelemahan dirinya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar