Pengertian Psikologi Sastra

Pengertian psikologi sastra menurut Wellek (1949) dalam Siswantoro (2005) mengemukakan bahwa: By “psychology of literature”, we mean the psychological study of the writer, as type and as individual, or the study of the creative process, or the study of the psychological types and laws present within works of literature, or finally, the effects of literature upon its readers (Yang  dimaksud  “psikologi  sastra”  adalah  studi  atau  telaah  analisis  terhadap  penulis sebagai sosok yang bisa dipelajari lewat teori psikologi-teori psikologi tertentu, atau sebagai sosok individu  yang berkepribadian khusus atau  analisis terhadap  proses  penciptaan  pada  saat  menulis,  atau  analisis  terhadap  tipe-tipe psikologis dan hukum-hukum psikologis yang hadir di dalam karya sastra atau pada akhirnya analisis terhadap pengaruh sastra atas para pembaca.
Psikologi  sastra  adalah  kajian  sastra  yang  memandang  karya  sebagai  aktivitas  kejiwaan. Pengarang  akan  menggunakan  cipta,  rasa,  dan  karsa  dalam  berkarya.  Begitu  pula  pembaca, dalam  menanggapi  karya  juga  tidak  akan  lepas  dari  kejiwaan  masing-masing.  Psikologi  sastra juga mengenal karya sastra sebagai pantulan kejiwaan. Pengarang akan menangkap gejala jiwa kemudian diolah kedalam teks dan dilengkapi dengan kejiwaannya. Proyeksi pengalaman sendiri dan pengalaman hidup disekitar pengarang, akan terproyeksi secara imajiner kedalam teks sastra. Jatman  (1985:165)  berpendapat  bahwa  karya  sastra  dan  psikologi  memang  memiliki pertautan yang erat, secara tidak langsung dan fungsional. Pertautan tidak langsung, karena baik sastra  maupun  psikologi  memiliki  objek  yang  sama  yaitu  kehidupan  manusia.  Psikologi  dan sastra  memiliki  hubungan  fungsional  karena  sama-sama  untuk  mempelajari  keadaan  kejiwaan orang  lain,  bedanya  dalam  psikologi  mempelajari  manusia  sebagai  ciptaan  Illahi  secara  riil, sedangkan dalam sastra mempelajari manusia sebagai ciptaan imajinasi pengarang (Endraswara, 2003).
Dalam pandangan Wellek dan Warren (1990) dan Hadjana (1985), psikologi sastra mempunyai empat kemungkinan penelitian, antara lain:
  1. Penelitian  terhadap  psikologi  pengarang  sebagai  tipe  atau  sebagai  pribadi.  Studi  ini cenderung ke arah psikologi seni. 
  2. Penelitian  proses  kreatif  dalam  kaitannya  dengan  kejiwaan.  Studi  ini  berkaitan  pula dengan psikologis proses keatif. 
  3. Penelitian hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra. 
  4. Penelitian dampak psikologis teks sastra kepada pembaca (Endraswara, 2003).
Budi  Utama  (2004)  mengemukakah  tiga  alasan  psikologi  sastra  masuk  dalam  kajian sastra adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui perilaku dan motivasi para tokoh dalam karya sastra.  Langsung  atau  tidak  langsung,  perilaku  dan  motivasi  para  tokoh  tampak  juga  dalam kehidupan  sehari-hari. 
  2. Untuk  mengetahui  perilaku  dan  motivasi  pengarang,  dan 
  3. Untuk mengetahui reaksi psikologi pembaca. Karya  sastra  merupakan  hasil  ungkapan  jiwa  seorang  pengarang  yang  di  dalamnya melukiskan  suasana  kejiwaan  pengarang,  baik  suasana  sakit  maupun  emosi. 
Roekhan  (dalam Aminudin  1990),  Psikologi  sastra  memandang  bahwa  karya  sastra  sebagai  hasil  kreativitas pengarang yang menggunakan media bahasa dan diabadikan untuk kepentingan estetik. Hubungan  antara  karya  sastra  dan  psikologi  juga  dikemukakan  oleh  Suwardi  (2004) yang mengemukan bahwa karya sastra dipandang sebagai gejala psikologis, akan menampilkan aspek-aspek  kejiwaan  melalui  tokoh-tokoh  jika  kebetulan  teks  berupa  prosa  atau  drama sedangkan jika dalam bentuk puisi akan disampaikan melalui larik-larik dan pilihan kata khas.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar