Pengertian Indigenous Psychology

Pengertian Indigenous Psychology adalah bidang psikologi yang berusaha memperluas batas dan substansi psikologi umum. Meskipun indigenous psychology maupun psikologi umum berusaha mengungkapkan fakta-fakta universal, tetapi titik awal penelitiannya berbeda. Psikologi umum berusaha menemukan prinsip-prinsip yang terkondekstual, mekanis, universal, dan berasumsi bahwa teori-teori psikologi saat ini bersifat universal (Koch & Leary, 1985). Akan tetapi indigenous psychology mempertanyakan universalitas teori-teori psikologi yang sudah ada dan upaya-upaya untuk menemukan psychologycal universals dalam konteks sosial, budaya, dan ekologis (Kim & Berry, 1993; Yang, 2000). Indigenous psychology mempresentasikan sebuah pendekatan yang konteks (keluarga, sosial, kultural, dan ekologis) isinya (yakni makna, nilai, dan keyakinan) secara eksplisit dimasukkan ke dalam desain penelitian.
Kim dan Berry (1993) memberikan pengertian indigenous psychology “the study of human behavior or mind that is native that is not transported from other regions, and that is designed for its people” (kajian ilmiah tentang perilaku atau pikiran manusia yang native (asli), yang tidak ditransportasikan dari wilayah lain, dan yang dirancang untuk masyarakatnya).
Sepuluh karakteristik indigenous psychology adalah sebagai berikut:
Pertama, indigenous psychology menekankan psikologis dalam konteks keluarga, sosial, politik, filosofis, historis, religius, kultural, dan ekologis.
Kedua, berlawanan dengan miskonsepsi populer, indigenous psychology bukanlah studi tentang orang pribumi (native), kelompok etnikatau orang yang hidup di Negara-negara Dunia Ketiga. Penelitian-penelitian tentang indigenous telah sering dipersamakan dengan studi antropologis terhadap orang “eksotik” yang hidup di pedalaman. indigenous psychology dibutuhkan untuk semua kelompok kultural, pribumi, dan etnik, termasuk negara-negara yang sedang berkembang secara ekonomis.
Ketiga, indigenous tidak mengafirmasi atau menghalangi pemakaian metode tertentu. indigenous psychology adalah bagian dari tradisi ilmu pengetahuan yang salah satu aspek pentingnya pekerjaan ilmiah adalah menemukan metode-metode yang tepat untuk fenomena yang sedang diinvestigasi. Boulding (1980) mencatat bahwa, “dalam masyarakat ilmiah adakeragaman metode yang besar, dan salah satu masalah yang masih harus dihadapi ilmu pengetahuan adalah perkembangan metode yang tepat yang berkorespondensi dengan bidang-bidang epistemologis yang berbeda”.
Keempat, diasumsikan bahwa hanya orang pribumi atau insider (orang dalam) di sebuah budaya yang dapat memahami fenomena indigenous dan kultural dan bahwa seorang outsider (orang luar) hanya bisa memiliki pemahaman yang terbatas. Meskipun seseorang lahir dan dibesarkan di sebuah asyarakat tertentu bias memiliki insights tentang fenomena indigenous, tetapi hal ini mungkin tidak selalu terjadi.
Kelima,indigenous psychology berbeda dengan psikologi naïf Heider (1958). Heider (1958) mencatat bahwa di bidang perilaku interpersonal “the ordinary person has agreat and profound understanding of himself and other people which, though unformulated or vaguely conceived, enables him to interact in more or less adaptive ways”.
Keenam, konsep-konsep indigenous telah dianalisis sebagai contoh-contoh indigenous psychologies. Konsep philotimo di Yunani (orang yang “sopan, berbudi, dapat diandalkan, bangga”, Triandis, 1972), anasakti di India (“non-detachment”, Pande & Naidu, 1992), amae Jepang (“in-dulgent dependence”, Doi, 1973), Kapwa di Filiphina (“identitas yang sama dengan orang lain”, Enriquez, 1993), dan Jung di Korea (“kelekatan dan afeksi yang mendalam”, Choi, Kim, & Choi, 1993) telah dianalisis dan berbagai sindroma terkait budaya) telah diintroduksikan (Yap, 1974).
Ketujuh, banyak pakar indigenous psychology yang mencari buku-buku filsafat atau keagamaan untuk menjelaskan fenomena indigenous. Mereka menggunakan Philosophical treaties (seperti Confusian Classics) atau buku keagamaan (Al-Quran atau Wedha) sebagai penjelasan fenomena psikologis.
Kedelapan,indigenous psychology diidentifikasi sebagai bagian tradisi ilmu budaya (Kim dan Berry, 1993). Berbeda dengan ilmu fisika, biologi, orang lain, dan dirinya (Bandura, 1997; Kim & Berry, 1993). Oleh karena kita adalah agen perubahan, maka kita adalah subjek dan sekaligus objek penelitian.
Kesembilan,indigenous psychology menganjurkan pengaitan antara humanitas (misalnya, filsafat, sejarah, agama, dan kesastraan, yang difokuskan pada pengetahuan analitis, analisis empirik, dan verifikasi).
Kesepuluh, Enriquez (1993) mengidentifikasi dua titik awal penelitian dalam indigenous psychology: indigenization from without dan indigenization from whitin.Indigenization fro without melibatkan mengambil teori, konsep, dan metode psikologi yang sudah ada dan memodifikasi mereka agar cocok dengan konteks budaya lokalnya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar