Pengertian Anak Indigo


Apa Pengertian anak Indigo? Indigo merupakan fenomena yang dapat dikatakan masih baru di Indonesia. Walaupun di dunia sudah banyak negara-negara yang meneliti mengenai keberadaan indigo ini, salah satunya Rusia. Nama indigo berasal dari bahasa Spanyol yang berarti nila, yang merupakan kombinasi warna biru dan ungu. Warna indigo pada manusia dapat diidentifikasi melalui cakra di tubuh yang Terletak di kening, persisnya antara cakra leher yang berwana biru dengan cakra puncak kepala yang berwarna ungu. Prinsipnya, cakra memiliki spektrum warna mulai merah sampai ungu; seperti spektrum warna pelangi. Warna nila menempati posisi keenam pada deretan vertikal cakra yang dalam bahasa Sansekerta disebut cakra ajna (terletak di dahi, diantara dua mata).
Istilah indigo dipopulerkan pada tahun 1998 melalui buku yang berjudul ”The Indigo Children” yang ditulis oleh pasangan suami istri Lee Carroll dan Jan Tober. Namun, istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Nancy Ann Tappe, seorang konselor terkemuka di Amerika Serikat pada tahun 1970. Nancy meneliti warna aura manusia dan memetakan artinya untuk menandai kepribadiannya. Dari hasil penelitiannya, Nancy menemukan bahwa anak-anak yang mempunyai warna aura indigo (nila) menunjukkan kelebihan-kelebihan yang mengarah kepada indera keenam seperti dituangkannya dalam buku “Understanding Your Life Through Color”, 1982. Penelitian lanjutan untuk mengelompokkan pola dasar perangai manusia melalui warna aura mendapat dukungan psikiater Dr. McGreggor di San Diego State University. Dalam klasifikasi yang baru itu Nancy membahas warna nila yang muncul kuat pada hampir 80% aura anak-anak yang lahir setelah tahun 1980 (http://newspaper.pikiran-rakyat.com).
Lee Carroll dan Jan Tober dalam bukunya ”The Indigo Children”, mengemukakan 10 ciri yang paling umum dari anak indigo, yaitu:
  1. Mereka datang ke dunia dengan perasaan serta perilaku yang menyiratkan kebesaran.
  2. Mereka mempunyai perasaan patut atau layak untuk berada di dunia dan heran jika orang lain tidak merasakannya.
  3. Penghargaan terhadap diri sendiri bukan merupakan masalah besar. Mereka justru menyampaikan kepada orangtua ”siapa mereka sebenarnya”.
  4. Mereka memiliki kesulitan dengan kekuasaan absolut, terutama kekuasaan tanpa penjelasan atau pilihan.
  5. Mereka terkadang tidak mau melakukan beberapa hal tertentu misalnya mengantre, karena hal tersebut merupakan sesuatu yang sulit bagi mereka.
  6. Mereka kerap merasa frustrasi dengan sistem yang berorientasi ritual dan tidak membutuhkan pemikiran kreatif.
  7. Mereka kerap melihat sesuatu atau mengerjakan sesuatu dengan cara yang lebih baik, apakah itu di rumah maupun di sekolah.
  8. Mereka sepertinya terlihat antisosial, kecuali dalam kalangan sendiri. Sekolahpun terkadang sulit untuk bersosialisasi dengan mereka.
  9. Mereka tidak merespons pada disiplin yang kaku
  10. Mereka tidak malu untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang mereka butuhkan
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar