Pendidikan Ramah Anak

Konsep pendidikan ramah anak terlahir karena adanya UU No.23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak sebagai implementasi dari Konvensi Hak Anak (KHA) di Indonesia. Konvensi Hak Anak (KHA) adalah konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang melindungi hak-hak anak. Undangundang Perlindungan anak adalah salah satu bagian dari mengoperasionalkan Konvensi Hak Anak (KHA). UU Perlindungan Anak adalah satu undangundang mengenai hak-hak anak yang menjelaskan secara rinci tentang perlindungan anak. Perlindungan adalah salah satu dari hak-hak anak yang esensial. Perlindungan ini meliputi perlindungan terhadap kekerasan, eksploitasi, diskriminasi, dan  penelantaran. UU Perlindungan Anak memberikan kerangka payung yang sangat bermanfaat untuk memberikan perlindungan bagi sebagian besar anak-anak rentan/rawan. Salah satu kekuatan dari UU ini adalah adanya sangsi yang jelas dan tegas terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran terhadap hak anak.
Selain itu, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Oleh karena itu dapat digambarkan bahwa pendidikan ramah anak adalah suatu pendekatan dalam prosespembelajaran yang mengutamakan nilai humanistik yang disebut juga mendidik anak dengan pendekatan kasih sayang.
Anak tidak lagi dijadikan obyek pembelajaran namun sebagai subyek pembelajaran, dimana orang tua dan guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing bagi mereka. Dengan kata lain bahwa pendidikan ramah anak adalah pengembangan pembelajaran yang humanistik pada anak dan berusaha mengubah suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dengan memenuhi atau mendukung hak anak serta memadukan potensi fisik, psikis dan mental anak dengan pendekatan kasih sayang baik dalam keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
Dilihat dari definisi pendidikan ramah anak di atas hampir sama dengan istilah PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Namun yang perlu digaris bawahi bahwa PAIKEM adalah strategi pembelajaran yang saat ini sering diterapkan oleh guru. Dimana anak didik tidak diperlakukan seperti bejana kosong yang pasif yang hanya menerima kucuran ceramah sang guru tentang ilmu pengetahuan atau informasi.
Oleh karenanya strategi pembelajaran PAIKEM juga diterapkan dalam pendidikan ramah anak untuk menciptakan sekolah yang ramah anak (SRA).
Pola Pendidikan Ramah Anak
Bagi setiap orang tua, mempunyai anak adalah hal yang sangat membahagiakan, namun kebahagiaan tersebut juga harus diiringi dengan kewajiban untuk menumbuh kembangkan buah hati dan menfasilitasi segala kebutuhan belajarnya. Dengan memahami karakteristiknya anda akan dapat menangkap segal isyarat yang ditampilkan anak melalui perilakunya. Hal tersebut bermanfaat untuk merespon perilaku anak sehingga tanggapan yang muncul adalah yang mengandung unsur belajar mendidik. Pengalaman belajar yang terjadi dalam keluarga merupakan pengalaman pertama. Paling utama, dan paling penting bagi anak, pengalaman belajar yang menyenangkan, nyaman, dan aman serta lingkungan yang menarik dimasa kecil merupakan permulaan yang sangat berharga. Merekayang merasakan itu, akan memaknai dan merefleksikan pengalamannya ketika dewasa. Sebaliknya, mereka yang dilalaikan dan ditekan dengan berbagai cara akan tetap menemukan kesulitan belajar sepanjang hidupnya dan mungkin menghadapi kesulitan bergaul dengan orang lain. Karenanya pola pengasuhan, pada gilirannya pasti berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan berikutnya. Oleh karena itu memberi kesempatan seluas-seluasnya pada anak untuk mengembangkan semua potensinya adalah suatu prinsip dasar dari suatu pola pengasuhan yang sangat baik bagi pembentukan karakter anak yaitu dengan menerapkan pola pendidikan yang ramah anak.
Minimal ada 5 (lima) indikasi sebuah kawasan hidup yang berada dalam kategori ramah anak:
  1. Anak terlibat dalam pengambilan keputusan tentang masa depan diri, keluarga, dan lingkungannya.
  2. Kemudahan mendapatkan layanan dasar pendidikan, kesehatan dan layanan lain untuk tumbuh kembang.
  3. Adanya ruang terbuka untuk anak dapat berkumpul, bermain, dan berkreasi dengan sejawatnya dengan aman serta nyaman. 
  4. Adanya aturan yang melindungi anak dari bentuk kekerasan dan eksploitasi.
  5. Tidak adanya diskriminasi dalam hal apapun terkait suku, ras, agama, dan golongan.
Banyak cara yang dapat diterapkan oleh orang tau ataupun guru dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah terhadap anak, antara lain:
Mengenalkan Kasih Sayang
Berikut ini hal-hal yang perlu anda lakukan untuk mengenalkannya tentang arti kasih sayang:
  1. Berikan ia pelukan kasih sayang, sentuhan candaan, senyuman, dan tawa yang gembira atau cerita saat bercengkrama dengan anak.
  2. Libatkan atau masukkan anak dalam kehidupan keluarga sehingga tumbuh rasa memiliki dan kebersamaan.
  3. Hibur dan dukung ketika anak luka, sakit, jatuh, atau saat anak menghadapi kekecewaan.
  4. Sediakan waktu untuk memahami apa yang ingin (coba) dikatakan dan dikerjakan anak kepada anda.
  5. Jelaskan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang bagaiman melakukan sesuatu secara baik dan mengapa sesuatu hal itu terjadi.
  6. Bantu anak belajar bagaimana cara berteman atau berinteraksi satu sama lain secara akrab dan menyenangkan, bahkan dapat bertahan.
  7. Dengan penuh keikhlasan, bantulah anak mengatasi perilaku yang sulit dilakukannya yang merupakan bagian dari pertumbuhan. Hal terpenting janganlah hal tersebut menjadi alasan anda untuk (mengurangi) mencintainya.
Memberi semangat atau dorongan
Semangat atau dorongan anda dan keluarga sangat membantu pertumbuhan dan perkembangan belajar anak. Berikut ini hal-hal yang disarankan untuk mendapat semangat dan dorongan adalah:
  1. Mempelajari pembicaraan atau bahasa didalam keluarga
  2. Bermain sendiri atau bersama teman-temannya
  3. Memperhatikan, meneliti, mendengar dan menyimak, mengungkapkan rasa ingin tahu, serta meminta bantuan ketika memerlukannya.
  4. Mengerjakan sesuatu sepanjang ia sanggup melakukannya
  5. Menggunakan imajenasi
  6. Menimbang atau memikirkan perasaan orang lain
  7. Membaca sesuatu 
Memfasilitasi
 Berikut hal-hal yang perlu anda fasilitasi:
  1. Beri anak asupan makanan bergizi
  2. Sediakan mainan yang tepat atau cocok bagi usia dan tahap perkembangan anak.
  3. Informasikan keadaan keluarga pada anak
  4. Kenalkan anak dengan orang lain dan pengalaman-pengalaman yang dapat memperluas kepercayaan diri, pengetahuan, dan keterampilan anak.
  5. Sediakan tempat agar anak bisa beraktifitas, “berbuat ribut”, serta  tempat agar anak dapat beristirahat dengan tenang.
  6. Ajak ia berkunjung ke anggota keluarga, “pesta” keluarga, atau tempat-tempat festival atau hiburan khusus.
  7. Menyediakan musik, lagu-lagu, cerita-cerita, gambar-gambar, dan buku-buku yang diperlukan untuk belajar anak.
Rasa hormat dan mengharga
  1. Berikut hal yang perlu dilakukan dalam menumbuhkan rasa hormat dan menghargai. Kenalkan tentang perbedaan individu dalam pertumbuhan, watak atau tempramennya, serta minat dan kemampuannya.
  2. Beritakan tentang perasaannya, bahwa dia tidak sekuat orang dewasa. 
  3. Carikan aktivitas (yang cocok) yang dapat melatih atau membuatnya beraktifitas dan berfikir sesuai perkembangannya
  4. Nilai dan hargai prestasinya sesuaidengan perkembangan fisik, sosial dan keterampilan berfikirnya.
  5. Berilah anak waktu dan kesempatanuntuk mengerjakan sesuatu oleh dirinya sendiri atau bersama dengan temannya.
  6. Bicarakanlah hal yang berkaitan dengan diri anak secara menyenangkan dan penuh rasa hormat.
  7. Dengarkan atau simak pertanyaannya dengan serius atau sungguhsungguh dan cobalah jawab dengan sederhana dan dengan jawaban yang menyenangkan. 
Mengenalkan mana yang “tidak boleh”
Berikut ini hal-hal yang perlu anda lakukan untuk mengenalkannya tentang makna “tidak boleh” pada buah hati:
  1. Mengenalkan maksud atau makna dari sebuah larangan atau “ketidak bolehan”. Biarkan anak mengetahui batas-batas apa yang boleh dikerjakan dan diharapkan serta mana yang tidak boleh.
  2. “Tidak boleh” tidak seharusnya mutlak digunakan dengan arti yang sesungguhnya, atau diletakkan pada makna tersebut. Mungkin maksudnya adalah anak “diusia” tersebut belum saatnya. Katakanlah hal itu melalui cara yang dapat dipahami anak.
  3. Sebaiknya, kata “tidak boleh” digunakan dengan lembut, suara halus, dan jangan digunakan untuk membatasi suatu penjelasan atau pendapat anak, atau digunakan dengan penuh kejengkelan.
  4. Kata “tidak boleh” boleh digunankan asalkan menjamin anak tidak menjadi frustasi.
  5. Jika sesuatu memang “boleh” atau “tidak boleh” dilakuakan, sampaikanlah alasan mengenai hal itu pada anak.
Selain di rumah pendidikan ramah anak juga diterapkan di sekolah dan kita sering mendengarnya dengan istilah sekolah ramah anak (SRA). Untuk menciptakan sekolah yang ramah bagi anak ada beberapa hal yang harus dipenuhi:
  1. Perasaan aman dan nyaman dalam belajar 
  2. Metode pembelajaran yang menyenangkan dan mudah di pahami
  3. Iklim kompetisi yang sehat dalam berprestasi
  4. Iklim akademis yang mendukung adanya kajian-kajian kritis dalam forum-forum diskusi kecil diluar jam pelajaran.
Kondisi-kondisi diatas adalah seuah syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh semua komponen, baik staf pengaja, tata usaha dan murid sendiri serta orang tua. Tanpa usaha semua pihak kondisi-kondisi tersebut tidak akan pernah tercapai.
Penerapan sekolah ramah anak (SRA) dapat dilakukan dengan cara, antara lain:
  1. Belajar bersama sebagai suatu komunitas belajar 
  2. Menempatkan anak sebagai pusat pembelajaran
  3. Mendorong partisipasi anak dalam belajar, dengan memberikan kebebasan anak dalam berkreasi dan mengeluarkan pendapat.
  4. Guru memiliki minat untuk memberikan layanan pendidikan yang terbaik dengan tidak membeda-bedakan status sosial anak didiknya.
  5. Membiasakan anak bertoleransi dengan teman-temannya dengan menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
  6. Menghindari hukuman yang tidak rasional dan menggantinya dengan hukuman yang edukatif.
  7. Menerapkan srtategi pembelajaran berbasis PAIKEM (pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan).
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar