Mekanisme Kerja Antibiotik

Mekanisme kerja antibiotik berbeda-beda untuk semua jenis obat. Tetapi pada dasarnya dapat di kelompokkan menjadi 5 jenis mekanisme kerja antibiotik, yaitu sebagai berikut:
  1. Penghambatan sintetis dinding bakteri. Sistesisnya terganggu sehingga dinding sel bakteri kurang sempurna dan tidak dapat menahan tekanan osmotik dari plasma lagi dengan akibat pecah, misalnya: penicillindan sefalosporin.
  2. Penghambatan membran sel. Sitoplasma  semua  sel  hidup  dibatasi  oleh  memberan  sitoplasma,  yang  berperan sebagai barrier permiabilitas selektif.
  3. Penghambatan sintetis protein di ribosom.
  4. Penghambatan sintetis asam nukleat.
  5. Penghambatan metabolik (antagonis folat)
Dari  masing-masing  golongan  terdapat  mekanisme  kerja;  farmakokintetik, farmakodinamik, serta aktifitas antimikroba yang berbeda-beda. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan kegunaan di dalam klinik. Karena perbedaan ini juga maka mekanisme resistensi dari masing-masing golongan juga mengalami perbedaan.
Antibiotik yang diujikan (Jawetz, 2001; Kusuma, 2010): 
  1. Sulfametoksazol (disingkat SXT, TMP-SMX, TMP-SMZ atau TMP-sulfa) adalah antibiotika sulfonamida kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol, dalam  rasio 1 : 5, digunakan dalam pengobatan berbagai bakteri infeksi. Sulfametoksazol bertindak sebagai  inhibitor  palsu  substrat sintetase  dihydropteroate.   Sulfametoksazol  adalah analog dari p    -aminobenzoic acid      (PABA),  merupakan enzim  inhibitor kompetitif, menghambat  produksi asam  dihydropteroic.  Trimetoprim  bertindak  sebagai pengganggu  aksi  bakteri reduktase  dihydrofolate,  yang  menghambat  sintesis  asam tetrahydrofolic. 
  2. Ampisilin/sulbaktam adalah  kombinasi  umum  dari   penisilin  yang  diturunkan; antibiotik    ampisilin   dan sulbaktam.  Ampisilin memiliki mekanisme yang sama dalam penghancuran dinding peptidoglikan,  ampisilin mampu berpenetrasi kepada bakteri gram positif dan gram negatif.  Hal ini disebabkan keberadaan gugus amino pada ampisilin,  sehingga  membuatnya  mampu  menembus  membran  terluar  (outer membran) pada bakteri gram negatif. Sulbaktam merupakan penghambat enzim beta laktamase yang paling aktif. Aktifitas dari sulbaktam dapat berupa bakterisidal atau bakteriostatik tergantung strainnya dan diperantarai ikatan dengan PBP. 
  3. Siprofloksasin  adalah  antibiotik  golongan  kuinolon.   Secara  intraseluler  obat  ini menghambat replikasi DNA bakteri dengan mengganggu kerja DNA  girase  (topoisomerase  II)  selama  pertumbuhan  dan  reproduksi  bakteri.   Bersifat bakterisidal, efektif terhadap organisme gram negatif. 
  4. Sefotaksim adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga yang mempunyai khasiat bakterisidal, bekerja dengan menghambat sintesis mukopeptida pada dinding sel  bakteri.   Sefotaksim  sangat  stabil  terhadap  hidrolisis  β  laktamase,  maka Sefotaksim  digunakan  sebagai  alternatif  lini  pertama  pada  bakteri  yang  resisten terhadap penisilin. Sefotaksim memiliki aktifitas spektrum yang lebih luas terhadap organisme  gram  positif  dan  gram  negatif. Tetapi  aktifitas  Sefotaksim  lebih  besar terhadap bakteri gram negatif, sedangkan aktifitas terhadap bakteri gram positif lebih kecil.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar