Konflik Sosial Masyarakat

Konflik sosial masyarakat adalah hal yang lumrah terjadi. Selama manusia hidup dan menjalani aktifitas kehidupan, selama itu mereka selalu berhadapan dengan konflik terlepas dari ukuran dari konflik itu sendiri. Manusia sangat beragam karena dipengaruhi oleh faktor ras, etnis, agama, dan status.
Konflik selain banyak terjadi pada masyarakat kalangan menengah ke bawah, juga dapat terjadi pada masyarakat yang memiliki lapisan sosial kelas atas, misalnya konflik antaranggota dewan yang terjadi di dalam gedung MPR/DPR. Para pejabat yang merupakan anggota dewan dari setiap fraksi atau organisasi kepartaian saling mengajukan pendapat dan mempertahankan argumentasinya dalam sidang. Untuk mencapai kemufakatan hasil sidang, sering para anggota dewan berselisih dan berbeda pendapat.
Dapat kita garis bawahi bahwa konflik merupakan proses sosial yang pasti akan terjadi di tengah-tengah masyarakat yang selalu bergerak. Konflik terjadi karena adanya perbedaan atau kesalahpahaman antara individu atau kelompok masyarakat yang satu dan individu atau kelompok masyarakat yang lainnya. Dalam konflik selalu ada perselisihan dan pertentangan antara pihak-pihak yang berkonflik. Konflik bisa dialami oleh siapa pun pada berbagai lapisan sosial masyarakat. Ia bisa dimulai dari yang kecil, yaitu diri sendiri (konflik batin), keluarga, masyarakat sekitar, nasional, dan global.
Menurut pandangan Karl Marx, kejahatan dan konflik berhubung erat dengan perkembangan kapitalisme. Dugaan tersebut menyebutkan bahwa apa yang menjadi latar belakang konflik, didefinisikan oleh kelompok berkuasa dalam masyarakat untuk melindungi kepentingan mereka sendiri.
Untuk mendapatkan gambaran lebih luas tentang pengertian konflik, berikut ini merupakan beberapa definisi yang dikemukakan para ahli.

  1. Robert M.Z. Lawang, mengatakan bahwa konflik diartikan sebagai perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka, seperti nilai, status, kekuasaan, dan sebagainya, yang tujuan mereka berkonflik itu tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya. Ia adalah benturankekuatan dalam mendapatkan sesuatu yang dianggap berharga, bernilai yang mana hal-hal tersebut memiliki jumlah yang santa terbatas, maka yang terjadi adalah perebutan dan konflik.
  1. Kartono, berpendapat bahwa konflik adalah proses sosial yang bersifat antagonistik dan terkadang tidak bisa diserasikan karena dua belah pihak yang berkonflik memiliki tujuan, sikap, dan struktur nilai yang berbeda, yang tercermin dalam berbagai bentuk perilaku perlawanan, baik yang halus, terkontrol, tersembunyi, tidak langsung, terkamuflase maupun yang terbuka dalam bentuk tindakan kekerasan.
  1. Peter Harris dan Ben Relly (1998), berpendapat bahwa sifat konflik yang tajam di dunia telah berubah dalam satu dekade terakhir, baik dalam inti permasalahan maupun dalam bentuk pengekspresiannya. 

Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar