Gangguan Kepribadian Borderline

Gangguan Kepribadian Borderline (Border-line Personality Disorder) adalah gangguan kepribadian yang sering dijumpai. Gangguan ini berada di perbatasan antara gangguan neurotik dan psikotik dengan gejala-gejala afek, mood, tingkah laku dan self-imagetidak stabil yang sangat berat dalam tingkah laku, emosi, identitas, dan hubungan-hubungan antarpribadi, Semiun (2006).
Penderita ini biasanya ditandai dengan mood yang selalu berubah-ubah, pada suatu waktu ia dapat begitu banyak memberikan pendapat (secara positif), lalu mendadak tampak depresi, kemudian di waktu yang lain tiba-tiba dia mengeluh tentang perasaannya. Individu ini juga tidak tahan atau tidak dapat hidup apabila berada sendirian, emosi marahnya berdaya kuat dan bersifat destruktif sehingga dalam tekanan keadaan tertentu, menyakiti diri sendiri adalah cara untuk mengekspresikan kesepian dan keputusasaan dalam jiwanya, Gunadi (2002).
Pada umumnya orang dengan kepribadian borderline dibesarkan oleh orangtua yang kurang memberikan kehangatan kasih sayang yang berkesinambungan, mereka hanya menerima perintah yang bersifat otoriter dan hal ini yang menyebabkan ketika mereka memiliki relasi dengan orang lain, mereka akan cenderung menuntut sesuatu yang tidak pernah mereka dapatkan yaitu pengertian dan kasih sayang yang porsinya tidak wajar.
Secara umum dapat dijelaskan bahwa individu dengan gangguan kepribadian borderline menampilkan perasaan kesepian yang kronis, impulsifitas, self-abuse tindakan menyakiti diri sendiri seperti memotong urat nadi sendiri, meminum racun, hingga percobaan bunuh diri yang manipulative dan sangat menuntut keterlibatan dari orang-orang terdekatnya, Widury (2007).
Perbedaan antara gangguan kepribadian borderline dan skizofrenia adalah, pada individu borderline tidak memiliki episodepsikotik yang berkepanjangan dan tidak mengalami gangguan berpikir. Menghiraukan banyak orang tetapi memiliki kecenderungan untuk berbicara hanya dengan orang tertentu, seperti keluarga, atau pribadi yang memiliki pengaruh terhadap apa yang dialaminya, Fausiah (2007).
Walaupun penampilan luarnya tampak positif, namun apabila menelusuri riwayat kehidupannya, biasanya dipenuhi dengan perilaku berbohong, membolos, kabur dari rumah, mencuri, menjahili, berkelahi, pemakaian obat-obatan dan lainnya yang biasanya telah dimulai sejak masa kanak-kanak. Gangguan ini tidak dapat disamakan dengan gangguan keterbelakangan mental schizofrenia, karena pada gangguan ini penderita tidak mengalami delusi atau kehilangan kesadaran secara permanen.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar