Cabai Rawit


Cabai rawit (Capsicum frutescens)  memiliki ukuran buah yang kecil dengan rasa yang pedas bila dibandingkan dengan cabai besar. Tanaman cabai rawit dikenal sebagai tanaman cabai paling mudah beradaptasi dengan lingkungan tempat tumbuhnya dan tanaman yang luwes dibudidayakan. Namun daerah tumbuh yang paling cocok yaitu dataran dengan ketinggian 0-500 meter dari permukaan laut. Kondisi tanah secara umum harus subur dengan derajat keasaman (ph) tanah antara 6,0 7,0. Kelembaban tanahnya harus cukup dengan ditandai oleh kandungan air yang tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Tanah tersebut juga mempunyai suhu yang sedang, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu tinggi yaitu berkisar antara 15° 28 ° C. Hanya saja, cabai rawit yang ditanam di tempat yang berbeda akan menghasilkan produksi yang berbeda pula. Oleh karena itu, cabai rawit lebih unggul dibandingkan dengan cabai besar. Keunggulan tersebut yaitu cabai rawit lebih tahan terhadap hama penyakit khususnya penyakit layu bakteri, busuk buah, dan bercak daun (Setiadi 1999).
Umumnya, para petani di Pulau Jawa mengenal tiga musim dalam menanam cabai rawit, yaitu musim labuhan (saat hujan mulai turun), musim marengan (saat hujan akan berakhir), dan musim kemarau. Namun petani cabai rawit di Kabupaten Garut umumnya memiliki umur pemanenan yaitu berkisar antara 7-12 bulan dan pada umumnya melakukan penanaman bibit pada musim marengan. Pemanenan dilakukan tiap minggu atau dua minggu sekali. Pada situasi lapang, kebanyakan petani melakukan pemanenan berdasarkan pada keadaan pasar. Bila pasar cabai kurang menguntungkan, buah dipanen dalam keadaan yang benar-benar tua. Sebaliknya bila keadaan pasar menguntungkan, petani menanam cabai rawit dengan selang waktu pendek dengan warna yang belum merah merata.
Cabai rawit memiliki beberapa varietas, salah satunya yaitu cakra putih. Cakra putih merupakan varietas cabai rawit merah yang berwarna putih kekuningan saat muda dan akan berubah merah cerah saat masak. Pertumbuhan tanaman varietas ini sangat kuat dan membentuk banyak percabangan. Posisi buah tegak ke atas dengan bentuk agak pipih dan rasa sangat pedas. Optimal hasil panen varietas ini mampu menghasilkan buah 12 ton per hektarnya dengan rata-rata 300 buah per tanaman. Cakra putih dapat dipanen pada umur 85-90 hari setelah tanam. Keunggulan dari varietas ini yaitu  tahan terhadap serangan penyakit antraknose (Rukmana 2002).
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar