Tujuan Pendidikan Agama Islam

Tujuan pendidikan agama Islam sangat mendasar untuk mengubah perilaku dan menanamkan keimanan. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang sadar dan bertujuan, dan Allah telah meletakkan asas-asasnya bagi seluruh manusia di dalam syari’at ini. Oleh sebab itu, sudah semestinya pengkaji pendidikan ini lebih dahulu menjelaskan tujuannya yang luhur dan luas, yang telah ditetapkan oleh Allah bagi seluruh manusia, sebelum menerangkan metoda dan beberapa ciri khasnya, karena tujuanlah yang menentukan metoda. 
Selanjutnya, berbicara tentang tujuan pendidikan, tidak bisa tidak akan membawa kita pada tujuan hidup. sebab pendidikan bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia. Dalam konteks al- Quran dengan tegas disebutkan bahwa tindakan apapun yang dikerjakan oleh manusia haruslah dikaitkan dengan Allah, sesuai dengan firmannya (Al-An’am: 162): “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.
Ayat diatas, menjelasakan kepada kita bahwa tujuan pendidikan Islam secara umum adalah untuk pencapai tujuan hidup muslim, yakni menumbuhkan kesadaran manusia sebagai makhluk Allah Swt. agar mereka tumbuh dan berkembang manjadi manusia yang berakhlak mulia dan beribadah kepada-Nya.
Abd al-Rahman Saleh Abdullah, dalam bukunya Educational Theory, a Qur’anic Outlook (terj. HM. Arifin), menyatakan tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan menjadi empat dimensi berikut.
Tujuan Pendidikan Jasmani
Mempersiapkan diri manusia sebagai pengemban tugas khalifah di bumi melalui ketrampilan-ketrampilan fisik. Dalam Hadis Nabi Saw. Nabi bersabda: “Diriwayatkan dari Abi Hurairah, ia berkata: Nabi bersabda:“orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disayangi oleh Allah ketimbang orang mukmin yang lemah..” (HR. Ibnu Majah).
Kekuatan fisik ditunjukan oleh tafsiran Imam Nawawi dalam kata ”al-qawi” sebagai kekuatan iman yang ditopang oleh kekuatan fisik. Prinsip ini juga ditegaskan dalam al-Qur’an. Allah berfirman (QS al-Qasas: 26):  “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
Tujuan Pendidikan Ruhani
Meningkatkan jiwa dan kesetiaan yang hanya kepada Allah Swt. semata dan melaksanakan moralitas lainnya yang telah dicontohkan oleh Nabi Saw. berdasarkan cita-cita ideal al-Qur’an seperti termuat dalam ayat berikut: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Al-An’am: 19)
Indikasi pendidikan adalah tidak bermuka dua dan berupaya memurnikan dan mensucikan diri manusia secara individual dari sikap negatif, inilah yang disebut dengan tazkiyyah (purification) dan hikmah (wisdom).
Tujuan pendidikan akal 
Pengarahan inteligensi untuk menemukan kebenaran dan sebab- sebabnya dengan telaah tanda-tanda kekuasaan Allah dan menemukan pesan-pesan ayat-Nya yang berimplikasi pada peningkatan iman kepada Sang Pencipta.
Tahapan pendidikan akal ini adalah:
  1. Pencapaian kebenaran ilmiah (ilm al-yaqin). 
  2. Pencapaian kebenaran empiris (‘ain al-yaqin). 
  3. Pencapaian kebenaran meta empiris atau mungkin lebih tepatnya sebagai kebenaran filosofis (haqq al-yaqin). 
Tujuan pendidikan social
Tujuan pendidikan social adalah pembentukan kepribadian yang utuh, yang menjadi bagian dari komunitas sosial. Identitas individu disini tercermin sebagai “al-nas” yang hidup pada masyarakat yang plural (majemuk).
Muhammad Munir Mursi menjelaskan tujuan pendidikan Islam yang terpenting adalah:
  1. Tercapainya manusia seutuhnya, karena Islam itu adalah agama yang sempurna. Diantara predikat manusia seutuhnya adalah berakhlak mulia. Islam datang untuk mengantarkan manusia kepada predikat manusia seutuhnya. 
  2. Tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat, merupakan tujuan yang seimbang. 
  3. Menumbuhkan kesadaran manusia untuk mengabdi dan takut kepada-Nya. 
  4. Menguatkan ukhuwah Islamiyah dikalangan kaum muslimin.
Muh}ammad Fadil al-Jamali sebagaimana dikutip oleh Bukhari Umar, merumuskan tujuan pendidikan Islam dengan empat macam, yaitu:
  1. Mengenalkan manusia akan peranannya diatara sesama titah makhluk dan tanggung jawabnya didalam hidup ini. 
  2. Mengenalkan manusia akan interaksi social dan tanggung jawabnya dalam tata kehidupan masyarakat. 
  3. Mengenakan manusia akan alam dan mengajak mereka untuk mengetahui hikmah diciptakannya serta memberi kemungkinan kepada mereka untuk mengambil manfaat darinya; 
  4. Mengenalkan manusia akan pencipta alam (Allah) dan menyuruhnya beribadah kepada-Nya.
Itulah pendapat para ahli tentang tujuan pendidikan Islam. Pendapat itu tidak bertentangan satu sama lain, perbedaannya hanya terlihat pada segi penekanannya. Sudah tentu kecenderungan dari pribadi seorang penulis memegang peranan penting dalam ungkapan pendapatnya.
Dari beberapa pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya untuk mencapai keutamaan- Nya.
Mengenai tujuan akhir ini Abu Ahmadi menyimpulkan, bahwa tujuan akhir ini dirumuskan dalam satu istilah yang disebut “insan kamil” (manusia sempurna). Adapun indicator dari “insan kamil” tersebut adalah:
  1. Menjadi hamba Allah Tujuan ini sejalan denga tujuan hidup dan diciptakannya manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah.  
  2. Mengantarkan subyek didik menjadi khalifat Allah fi al-ard, yang mampu memakmurkan bumi dan melestarikannya dan lebih jauh lagi, mewujudkan rahmat bagi alam sekitarnya, sesuai dengan tujuan penciptanya, dan sebagai konsekuensi setelah menerima Islam sebagai pedoman hidup. Firman Alah QS. al Baqarah: 30):   “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." 
  3. Untuk memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia sampai akhirat, baik individu maupun masyarakat. Firman Allah (QS. al- Qasas: 77): “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar