Proses Pembuatan Batik

Proses pembuatan batik dilakukan melalui beberapa langkah yaitu: proses persiapan adalah proses persiapan kain sebelum dibatik yang melalui proses penghilangan kanji, ngetel, ngemplong; membatik atau pelapisan lilin dalah proses pelekatan lilin pada kain sesuai pola yang dibuat yang dilakukan dengan tulis maupun cap atau dengan cara lain. Proses ini meliputi nglowong, nembok mbironi; pencelupan atau pewarnaan adalah proses pemberian warna pada bidang kain yang tidak tertutup oleh lilin yang dilakukan dengan cara pencelupan atau coletan; dan penyelesaian atau penghilangan lilin adalah proses penghilangan sebagian atau keseluruhan lilin yang melekat pada kain. Proses ini dapat dilakukan pada pertengahan atau akhir pewarnaan dengan cara kerokan maupun lorodan atau tergantung dari macam proses yang akan dilakukan (Departemen Perindustrian, 1991).
Langkah – langkah proses pembuatan batik adalah sebagai berikut:
Persiapan
Persiapan yaitu macam – macam pekerjaan pada mori sehingga menjadi kain yang siap untuk dibuat batik (S.K.S. Susanto1980). pekerjaan persiapan ini meliputi:
  1. Mordanting/mengkanji yang bertujuan untuk menghilangkan minyak/lemak, kanji dan sisa kotoran yang tersisa pada proses penenunan. Tujuannya agar pada proses perwarnaan zat warna dapat meresap dalam pori – pori kain dengan baik 
  2. Pembuatan desain/pola batik adalah pekerjaan sebelum membatik yaitu untuk menehan motif kain, adapun motifnya bebas dapat mengambil corak geometris atau non geometris. 
  3. Pemindahan pola di atas kain yaitu memindahkan pola pada kerta ke dalam lembaran kain atau mori atau dengan menggunakan meja kaca.
Membuat batik
Membuat batik macam pekerjaan dalam pembuatan batik yang sebenarnya meliputi tiga macam pekerjaan utama, yaitu:
Pelekatan lilin batik
Pelekatan lilin batik adalah pelekatan lilin atau malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan berwarna putih pada pewarnaan. Membatik meliputi:
  1. Klowong yaitu, menggoreskan lilin batik dengan canting tulis pada permukaan lilin/mori sesuai dengan gambar atau motif. 
  2. Isen – isen yaitu, goresan canting isen untuk member isian pada motif pokok. 
  3. Nerusi yaitu membatik dibagian belakang atau sebaliknya mengikuti bekas goresan lilin yang terdahulu. 
  4. Nembok yaitu menutup dasar mori atau kain dengan lilin yang nantinya akan tetap putih. Tujuannya agar warna yang ditembok atau ditutup lilin tetap sama.
Pada hakekatnya pelekatan lilin batik siswa diharapkan dapat membatik klowong, isesn – isen, nerusi, dan nembok dengan baik. Dapat dikatakan baik apabila mencakup kriteria sebagai berikut:
  1. Ngawat yaitu membentuk suatu garis lilin bekas canting tulis yang baik atau seperti kawat. 
  2. Tidak kelua dari garis pola artinya garis lilin sesuai dengan pola atau motif (tidak melebar). 
  3. Garis lilin tidak putus – putus. 
  4. Pada saat memberi isen – isen pada motif baik jarak dan besar cecek atau sawutan sama meskipun dekat tapi tidak berhimpitan. 
  5. Garis lilin bisa tembus. 
  6. Pada saat nembok lilin tidak melebar sampai mengenai bagian motif. Nembok yang paling baik dilakukan sampai tiga kali yaitu, depan belakang, dan kembali ke depan, sedangkan nembok yang dua kali yaitu dari belakang baru ke depan (Ir. Ny. TT Suryato Murtihadi 1979).
Perwarnaan batik
Pada hakekatnya dilakukan dengan teknik celup atau teknik colet, perwarnaan dilakukan secara dingin (tanpa pemanasan) dan zat warna yang dipakai tidak hilang pada saat pekerjaan pelepasan lilin yang disebut juga dengan nlorod (S.K Sewan Susanto S. 1980).
  1. Colet yaitu memberi warna pada kain batik setempat dengan larutan zat warna yang dikuaskan atau dilukiskan dimana daerah yang diwarnai itu dibatasi oleh garis – garis lilin. 
  2. Pencelupan yaitu pemberian warna secara keseluruhan pada kain dengan cara menyelupkan kain pada zat earna yang sudah dilarutkan.
Pada hakekatnya teknik colet dan celup, diharapkan siswa dapat mencolet maupun memcelup dengan warna batik dengan baik. Diantaranya sebagai berikut:
  1. Pada saat colet warna tidak mengenai atau melebar daerah lain yang dibatasi oleh garis – garis lilin. (S.K. Sewan Susanto S 1980). 
  2. Pada saat celup warna yang dihasilkan rata (Ir. Ny TT Suryato Murtihadi 1979)
Menghilangkan lilin
Menghilangkan lilin yaitu menghilangkan lilin secara keseluruhan dengan memasukkan kain yang sudah selesai diwarna kedalam air mendidih.
Usaha untuk menjaga agar selama proses pembatikan berlangsung tidak mengalami gangguan yang mengakibatkan kerugian karena kelalaian, maka setiap orang perlu memperhatikan tentang keselamatan kerja. Pengertian keselamatan kerja ini secara umum, yang ada hubungannya dengan api, kerena dalam pembatikan selalu menggunakan api baik pada kompor untuk memanaskan lilin batik maupun pada kompor yang digunakan untuk melorod.
Dalam hal ini harus diadakan persiapan peralaan untuk menjaga kemungkinan – kemungkinan yang ditimbulkan karena hal tersebut dan tindakan apa yang harus dilakukan apabila terjadi sesuatu. Adapun peralatan pelindung diri yang harus dikenakan pada saat membatik menurut Budiyono, dkk (2008) adalah: baju kerja, masker, sarung tangan, sepatu anti selip yang digunakan pada saat proses perwarnaan.
Selain alat pelindung diri juga harus dipersiapkan peralatan yang berkaitan dengan terjadinya kebakaran.
Menurut TT. Suryanto (1979) beberapa keselamatan kerja yang harus dipersiapkan dalam praktek membatik yang berkaiatan dengan terjadinya kebakaran diantarannya:
  1. Pasir. Digunakan untuk mematikan api agar tidak menjalar kemana - mana 
  2. Goni/karung. Digunakan untuk mematikan api dengan cara dibasahi dengan api 
  3. Bak air. Bak air ini diperlukan untuk tempat persediaan air jika sewaktu – waktu terjadi sesuatu agar dapat segera digunakan.
Untuk lebih praktis dan mudah penggunaannya dapat dipakai tabung gas kebakaran (Alat Pemadam Kebakaran Ringan) yang tersedia di tiap – tiap ruang kerja.
Selain peralatan tersebut menurut TT. Suryanta (1978) terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan adalah:
  1. Selama pembatikan berlangsung sebaiknya jangan menambahminyak pada kompor selagi api masih menyala 
  2. Periksalah terlebih dahulu pada waktu akan menyimpan atau meninggalkan kompor, apakah api masih menyala atau sudah padam. 
  3. Pada waktu pemadaman kompor, sumbu kompor dikecilkan dulu, jangan sampai api masih besar kemudian ditiup. Akibatnya kompor dapat meledak dan melukai wajah korban 
  4. Dalam pelaksanaan kerja mewarna, sebaiknya menggunakan sarung tangan dari karet agar tangan tidak kotor dan untuk melindungi kulit dari bahaya zat warna tersebut.
Adapun usaha yang harus dilakukan agar dalam proses membatik dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa mengalami gangguan yang mengakibatkan kerugian karena kelalaian, adalah dengan memperhatikan prosedur pengaturan dan penggunaan peralatan yaitu:
  1. Menyiapkan dan mengatur kain yang telah dipola pada gawangan. 
  2. Menyiapkan kompor,tunggu sampai api menyala rata kemudian meletakan wajan diatasnyan beserta lilin batik, harus diperiksa besar kecilnya api karena hal ini sangat berpengaruh pada saat proses membatik 
  3. Meletakan peralatan dan diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan pelaksanaan membatik. Kompor dan wajan ditata agak kesebelah kanan tempat duduk agar memudahkan pengambilan lilin. Apabila wajan tersebut digunakan bersama – sama dapat diletakkan ditengah – tengah. 
  4. Saat membatik harus diperhatikan bagaimana cara memegang dan mengambil canting, tidak seperti halnya menulis dan menggambar.
Berdasarkan uraian diatas upanya yang harus dilaksanakan untuk menjaga keselamatan dan kesehatan kerja saat membatik adalah sebelum memulai membatik sebaiknya mengatur terlebih dahulu peralatan dan tempat kerja agar tidak sering meninggalkan tempat karena mencari sesuatu yang belum tersedia, begitu pula dalam pemakaian peralatan harus digunakan sesuai prosedur kerjanya serta menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari kecelakaan akibat kerja.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar