Metode Pendidikan dalam Islam

Metode pendidikan dalam Islam adalah metode yang dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan yang Islami. Sebelum lebih jauh mengenal metode pendidikan dalam Islam, alangkah baiknya kita mengupas terlebih dahulu setiap kata dari metode pendidikan dalam Islam. Secara etimologis kata metode berasal dari bahasa yunani metodos, terdiri dari dua akar suku kata, meta yang berarti “melalui”, dan hodos berarti “jalan”. Dengan demikian secara sederhana metode dapat diartikan dengan jalan yang dilalui.
Dalam terma bahasa Arab, kata metode dicerminkan dengan ungkapan kata-kata al-thariqah, al-manhaj, dan al-washilah. Ketiga kata ini masing-masing berarti jalan, sistem, dan perantara atau mediator. Dengan kata lain, bahasa Arab memiliki perbendaharaan kata mengenai metode cukup beragam, namun dalam buku-buku literatur pendidikan kata al-thariqah lebih sesuai dan mewakili sinonim dari metode.
Mahmud Yunus, mendiskripsikan sembilan macam asas umum bagi metode pendidikan modern. Kesembilan asas umum pendidikan modern tersebut pada prinsipnya merupakan kaidah-kaidah pokok yang menjelaskan tentang prinsip-prinsip didaktis yang harus diketahui, dipahami, dan diaplikasikan oleh seorang guru atau pendidik dalam mengajar atau mendidik.
Ketika metode dikaitkan dengan pendidikan Islam, membawa pengertian sebagai jalan untuk menanamkan pengetahuan agama terhadap diri seseorang. Sehingga tercermin dalam pribadi objek sasaran yang tidak lain adalah pribadi muslim. Selain itu, dapat pula mengandung arti sebagai cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.
Metode pendidikan menjadi penting, karena materi pendidikan tidak dapat dipelajari dengan baik tanpa penafsiran peran metode secara sadar dalam proses pendidikan dan pengajaran akan menghambat keberhasilan aktivitas pendidikan tidak hanya dipandang sebagai cara atau jalan, akan tetapi upaya perbaikan komprehensif dari semua elemen pendidikan. Sehingga menjadi sebuah iklim kondusif yang mengandung tercapainya tujuan yang dicita-citakan.
Al-Qur’an sebagai rujukan utama Islam dalam segala bidang, tidak terkecuali pendidikan. Karena di dalamnya mengandung nilai-nilai kependidikan dalam rangka membudayakan manusia, ayat-ayatnya banyak memberikan motivasi edukatif bagi manusia. Kajian intensif terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam konteks pendidikan diperoleh implikasi- implikasi metodologis kependidikan dalam al-Qur’an yang melandasi pendidikan Nabi saw. Pada gilirannya, melahirkan konsep metode dalam ilmu pendidikan Islam yang secara historis berasal dari praktek pendidikan Nabi saw. sendiri.
Menurut Abdullah Nashih Ulwan, Nabi Muhammad adalah refleksi hidup keutamaan-keutamaan al-Qur’an, ilustrasi dinamis tentang petunjuk- petunjuk al-Qur’an yang abadi. Pribadi Nabi saw. menjadi contoh ideal manusia sepanjang masa dalam segala aspek kehidupan, tanpa terkecuali metode pendidikan. Nabi saw. menggunakan metode-metode pendidikan tertentu yang relevan dengan bidang-bidang yang akan disampaikan kepada para sahabat pada saat itu.
Adapun bidang dan metode pendidikan yang digunakan diantaranya:
1.     Bidang akidah, menggunakan metode bertanya, kisah, dialog, nasihat, dan demonstrasi.
2.     Bidang ibadah, menggunakan metode dialog, praktik/contoh, eksplanasi, targhib-tarhib, dan tadriji.
3.     Bidang akhlak, menggunakan metode spiritual (pengalihan inderawi kepada rohani), kisah, dialog, nasehat, peragaan, teladan, eksplanasi.
4.     Bidang muamalah, menggunakan metode eksplanasi, kisah, dialog, dan nasehat.
Bagaimanapun bentuk dan kemampuan suatu metode, penggunaan suatu macam metode dalam proses pendidikan adalah mutlak. Mungkin di bidang lain orang dapat mengerjakan sesuatu tugas pekerjaan tanpa menggunakan suatu metode, melainkan harus memakai suatu teknik mengerjakannya saja. Metode mengandung implikasi bahwa proses penggunaanya bersifat konsisten dan sistematis, mengingat sasaran metode itu adalah manusia yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Jadi penggunaan metode dalam proses kependidikan pada hakikatnya adalah pelaksanaan sikap hati-hati dalam pekerjaan mendidik atau mengajar.
Kegiatan kependidikan adalah proses edukatif yang memiliki tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Seluruh aktivitas yang dilakukan oleh seorang guru atau pendidik adalah dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Tidak mungkin seorang guru atau pendidik dikatakan berhasil dalam mendidik anak didiknya, sementara dia sendiri mengabaikan tujuan kependidikan yang menjadi pedoman dalam rangka mengarahkan aktivitas kependidikannya. Untuk mencapai tujuan pendidikan itu, seorang guru atau pendidik dituntut untuk menggunakan kemampuan yang dimilikinya dalam memilih metode pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
Penentuan dan pemilihan metode dalam pendidikan secara akurat merupakan suatu yang penting dilakukan oleh pendidik. Hal ini dilakukan seyogyanya didasarkan pada beberapa pertimbangan tertentu, seperti nilai strategi metode, efektifitas pemakaian metode, urgensi penentuan, pemilihan metode, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode. Penggunaan metode secara acak tanpa mempertimbangkan faktor-faktor tersebut justru akan menimbulkan persoalan dalam proses kependidikan, yaitu terhambatnya atau bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan pendidikan. Seorang guru yang sepenuhnya menguasai materi pelajaran bisa saja gagal di dalam mengajar disebabkan ketidakmampuannya memilih dan menentukan metode yang sesuai dengan materi yang diajarkan.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar