Macam-Macam Metode Pendidikan Islam

Terdapat macam-macam metode pendidikan Islam. Seorang guru atau pendidik agar berhasil dalam aktifitas kependidikannya harus dapat memilih dan menggunakan metode pendidikan secara tepat. Dalam memilih metode  pendidikan ini ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Antara lain faktor tujuan dari masing-masing materi pendidikan yang disajikan dan faktor kesiapan dan kematangan pendidik dalam menggunakan materi tersebut. Oleh karena itu, seorang pendidik dituntut juga untuk mempelajari metode- metode pendidikan yang ada, dan pandai memilih serta menggunakannya dengan tepat.
Dengan mempelajari al-Qur’an dan al-Hadis serta pendapat para ulama, kita dapat menerapkan beberapa metode pendidikan Islam, antara lain: metode suri teladan, metode kisah-kisah, metode Pendidikan nasihat, metode perumpamaan, metode ganjaran dan hukuman, dan metode pembiasaan. 
Agar sedikit lebih jelas, masing-masing metode ini akan dijelaskan satu persatu secara sederhana:
Metode Suri Teladan
Keteladanan dalam pendidikan adalah metode influentif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk anak  di dalam moral, spiritual, dan social. Hal ini, karena pendidik adalah contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya dalam tindak tanduknya, dan tata santunnya, disadari atau tidak, bahkan tercetak dalam jiwa dan perasaan suatu gambaran pendidik tersebut, baik dalam ucapan atau perbuatan, baik materiil atau spiritual, diketahui atau tidak diketahui.
Kata teladan dalam al-Qur’an diproyeksikan dengan kata uswah yang kemudian diberi sifat dibelakangnya seperti h}asanah yang berarti baik. Sehingga terdapat ungkapan uswatun hasanah yang artinya teladan yang baik. Kata-kata uswah dalam al-Qur’an diulang sebanyak enam kali dengan mengambil sampel pada diri Nabi, yaitu Nabi Muhammad Saw., Nabi Ibrahim, dan kaum yang beriman teguh kepada Allah. Ayat 21 surat al-Ahza>b, sering diangkat sebagai bukti adanya metode  keteladanan dalam al- Qur’an.
Teladan yang baik adalah menyelaraskan perkataan dan perbuatan dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seorang ayah tidak hanya tidak cukup hanya memiliki wawasan keislaman yang bagus untuk mengarahkan anak-anaknya. Orang tua juga tidak bisa hanya sekedar memerintahkan anak-anaknya untu merealisasikan apa yang telah diperintahkan kepada mereka.
Dalam praktik pendidikan dan pengajaran, metode ini dilaksanakan dalam dua cara, yaitu cara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect). Secara langsung maksudnya bahwa pendidik itu sendiri harus benar-benar menjadikan dirinya sebagai contoh teladan yang baik terhadap anak. Sedangkan secara tidak langsung dimaksudkan melalui cerita dan riwayat para nabi, kisah-kisah orang besar, pahlawan dan syuhada. Melalui kisah dan riwayat ini diharapkan anak akan menjadikan tokoh-tokoh ini sebagai figure.
Metode kisah-kisah
Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang tidak dapat diganti dengan bentuk penyampaian lain dari bahasa. Muh}ammad Qut}b sebagaimana dikutip oleh Abudin Nata mengemukakan bahwa kisah atau cerita sebagai suatu metode pendidikan mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan. Islam menyadari sifat alamiyah manusia untuk menyenangi cerita itu, dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Oleh karena itu, Islam mengekploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu teknik pendidikan. Untuk maksud dan tujuan tersebut, al-Qur’an mengungkapkan kata-kata qasas sebanyak 44 kali.
Metode kisah-kisah ialah pendidik mengajar anak untuk merenungkan dan memikirkan kejadian-kejadian yang ada melalui kisah-kisah dan peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Al-Qur’an datang dengan membawa cerita-cerita kependidikan yang sangat berguna untuk pembinaan akhlak dan ruhani manusia.  Allah berfirman: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu,” (QS. Yusuf: 3) . “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf:111) 
Diantara contoh-contoh kisah dalam al-Qur’an adalah kisah dua orang anak Nabi Adam, yaitu Qabil dan Habil yang terdapat dalam surat al-Maidah. Kisah tersebut menggambarkan sifat hasud dan dengki yang dipunyai Qabil terhadap saudaranya Habil. Disamping itu juga rasa kasih sayang atau toleransi yang dimiliki Habil. Kisah ini diakhiri dengan gambaran betapa rendahnya dan hinanya orang yang yang memiliki sifat hasud sehingga ia benar- benar malu kepada burung gagak.
Metode Pendidikan nasihat
Didalam jiwa terdapat pembawaan untuk terpengaruh oleh kata-kata yang didengar. Pembawan itu biasanya tidak tetap, dan oleh karena itu, kata-kata itu harus diulang-ulangi. Nasihat  yang berpengaruh, membuka jalannya ke dalam jiwa secara langsung melalui perasaan.
Al-Qur’an mengungkapkan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Inilah yang kemudian dikenal senagai nasi>h}ah. Tatapi nasihat yang disampaikan ini selalu disertai denga panutan atau teladan dari si pemberi atau penyampai nasihat itu. Hal ini, menunjukan bahwa antara satu metode yakni nasihat dengan metode lain yang dalam hal ini adalah teladan bersifat saling melengkapi.
Menurut Asnelly Ilyas materi pokok yang mesti terkandung dalam nasihat ada tiga, yaitu:
  1. Tentang peringatan kebaikan atau kebenaran yang harus dilakukan seseorang. 
  2. Motivasi atau dorongan untuk beramal dan menunjukan ke arah akhirat. 
  3. Tentang peringatan adanya kemadaratan yang harus dihindarkan, baik yang menimpa dirinya maupun orang lain.
Metode Perumpamaan
Pendidikan perumpamaan dilakukan dengan menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain yang kebaikan dan keburukannya telah diketahui secara umum, seperti menyerupakan orang-orang musyrik yang menjadikan pelindung selain Allah dengan laba-laba yang membuat rumahnya. Allah berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung- pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui” (QS. al-‘Ankabut: 41).
Tujuan pedagogis yang paling penting yang dapat ditarik dari perumpamaan adalah:
  1. Mendekatkan makna pada pemahaman. 
  2. Merangsang kesan dan pesan yang berkaitan dengan makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut.
  3. Mendidik akal supaya berpikir benar dan menggunakan kias yang logis dan sehat. 
  4. Menggerakkan perasaan yang menggugah kehendak dan mendorongnya untuk melakukan amal yang baik dan menjauhi kemungkaran.
Metode Ganjaran dan Hukuman
Maksud metode ganjaran dan hukuman adalah, metode yang dilakukan dengan memberi ganjaran pada peserta didik yang berprestasi dan hukuman bagi mereka yang melanggar dan lemah. Metode ganjaran dapat diberikan kepada peserta didik dengan syarat bahwa hadiah yang diberikan terdapat relevansi dengan kebutuhan pendidikan. Demikian juga hukuman yang diberikan harus mengandung makna edukatif.
Metode Pembiasaan
Kebiasan timbul dari pengulangan. Bila, misalnya, guru setiap masuk kelas mengucapkan salam, itu dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk membiasakan penyebaran salam dan sekaligus sebagai contoh bagi semua siswanya. Bila sebaliknya, ada siswa yang masuk kelas tanpa mengucapkan salam, maka gurunya harus mengingatkannya tentang perlunya membiasakan diri mengucapkan salam.    
Dalam pembinaan sikap, metode pembiasaan sangat efektif. Anak-anak yang oleh orang tuanya dibiasakan bangun pagi, misalnya, akan menjadikan bangun pagi itu sebagai suatu kebiasaan hidupnya, sehingga pekerjaan tersebut tidak lagi memberatkan dirinya dan tidak dipandang sebagai suatu kewajiban lagi tetapi hanya sebagai kebiasaan. Rasa berat, enggan atau marasa terpaksa melakukan suatu perbuatan pada intinya disebabkan belum terbiasa melakukannya. Sebaliknya, kemudahan yang dirasakan orang dalam melakukan suatu perbuatan disebabkan oleh kebiasaan orang tersebut di dalam melakukannya. Dari sini timbul peribahasa: “Tuhan bisa karena kuasa dan manusia bisa karena terbiasa.”
Pembiasaan tidak hanya penting bagi anak-anak tetapi juga bagi orang dewasa. Namun demikian, para ahli psikologi sepakat bahwa pembiasaan sejak dini, baik dalam bidang menguasai keahlian praktis maupun memahami konsep-konsep teoritis, akan lebih besar pengaruhnya daripada pembiasaan sudah dewasa. Peribahasa mengatakan: “Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu, sedangkan belajar setelah dewasa bagaikan mengukir di atas air.” Perlu ditekankan sekali lagi bahwa kebiasaan timbul dari pengulangan. Karena itu, pembiasaan sejak dini tingkat pengulangannya akan jauh lebih sering daripada sesudah dewasa.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar