Efektifitas Reward dan Punishment

Efektivitas reward dan punishment kadang terbalik fungsi sasarannya. Kadang reward menyebabkan efek kurang baik, tatkala seorang anak bertindak baik kemudian mendapatkan pujian ia menjadi sombong, tentunya ini akan berputar 180 derajat dari fungsi reward yang diinginkan. Haruslah dilakukan cara-cara positif, sehingga tidak menimbulkan kesan atau respon yang negatif dari si anak. Pujian, dorongan atau kritikan yang seimbang sesuai dengan tindakan anak akan menimbulkan respon positif darinya.
Reward berada eksternal sebagai sumber motivasi bersama punishment haruslah disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan anak. Kadang anak belum mampu melakukan penilaian yang lebih matang terhadap tindakan yang telah dilakukan. Non-verbal, seperti kecupan, pelukan, dan semisalnya akan lebih efektif diberikan ketika anak belum fasih atau perhatian mereka belum fokus kepada bahasa ucapan yang terkesan rumit dan membingungkan. Berbeda kasus ketika anak sudah terbiasa dan tidak asing dengan bahasa verbal, maka pujian dengan kadar dan intensitasnya yang tepat dan seimbang akan lebih mengena untuk diberikan.
Sebaliknya ketika anak memasuki masa remaja, bentuk-bentuk  reward seperti ini tidak akan berguna lebih banyak. Karena sudah mulai mengenal diri dan menganggap mampu untuk mandiri, perhatian yang berlebih hanya akan membuat mereka merasa terkekang, tidak bebas menentukan pilihan. Apapun perlakuan yang diperbuat orang tua terhadap anak, kesemuanya merupakan ekspresi perhatian orang tua terhadap anaknya. Jika bentuk perhatian ini berlebih, over protectif, maka anak akan merasa terkekang, tidak nyaman dalam berbuat. Sehingga akan menimbulkan kepercayaan diri berkurang pada diri anak.
Tindakan benar semisal pada kasus anak pada jam sekolah belum juga pulang ke rumah, orang tua memasak makanan yang disukai oleh anak. Lalu menghubungi anak dengan menggunakan bahasa verbal semisal, “sayang, ibu masak sup kesukaanmu loh, cepat dicicipi nanti keburu dingin”. Dengan tidak menanyakan langsung keberadaan dan tidak langsung menyuruh untuk pulang, si anak akan merasa dihargai. Hasilnya akan berbeda ketika orang tua menggunakan kata langsung, seperti “kamu sedang di mana, kok belum pulang? inikan jam pulang sekolah, cepat pulang!”
Kalau ditelusuri lebih lanjut, mendiktekan ancaman kepada anak terkesan seolah-olah merupakan anjuran bagi anak untuk mengulangi suatu perbutan yang dilarang. Hal ini disebabkan segala bentuk ancaman atau peringatan dirasakan sebagai suatu tantangan dan pukulan terhadap otonomi dan pribadi anak. Sehingga jika ia memiliki harga diri, ia akan terus melanggarnya bahwa ia bukan boneka yang segalanya diatur dan dipermainkan orang.
Semisal dalam kasus sederhana, seorang kakak menembaki adiknya dengan pistol mainan. Kejadian ini disimak oleh Ibu yang sedang asyik nonton televisi, dengan peringatan dan ancaman kurang lebih seperti: “Jangan menembaki adikmu, nanti kena mata, kuhajar kau!” Ancaman ini berulang-ulang, jika si kakak memiliki harga diri sudah barang tentu ia tidak akan menghiraukan dan mengabaikannya. Karena ancaman hanya akan mengusik otonomi dan harga diri anak. Coba kalau Ibu selanjutnya mengambil tindakan dan mengambil pistol dan menanamkan pengertian bahwa perbuatan tersebut berbahaya dapat mencederai si adik. Tindakan ibu menjadi lebih efektif karena langsung menghentikan kesalahan serta si anak merasa dihargai dengan menghindari ancaman dan cacian.
Apabila seseorang disakiti, tentu dampak yang dirasakan adalah rasa sakit. Secara fisik rasa sakit terjadi hanya secara insidental, akan tetapi secara psikologis akan membekas dan menjelma menjadi trauma yang berkepanjangan, dan pada akhirnya menimbulkan perkembangan kurang baik pada anak. Di saat anak sedang mengalami pekembangan, belum memiliki jati diri, masih mencari identitas, seharusnya lebih banyak mendapatkan bimbingan, dorongan, dan perlindungan dari seseorang yang dianggap sebagai sosok ideal, didewasakan. Akan tetapi, jika yang diterimanya adalah sebaliknya, tentunya akan menimbulkan kekecewaan dan rasa ketidakpercayaan. Sehingga akibatnya anak mengambil jarak hubungan emosional tertentu dan memiliki kecenderungan menyembunyikan berbagai informasi yang seharusnya disampaikan. Akibatnya mereka terkesan berbuat tidak jujur dalam bertindak, karena kekecewaan dan rasa ketidakpercayaan tersebut. Oleh karena itu, dengan melihat indikasi tersebut, menimpakan hukuman fisik rasanya harus berpikir dua kali.
Intensitas reward yang terlalu juga menyebabkan suatu anggapan bahwa kemampuan anak sekaligus menyangsikan sifat-sifat baik yang dimilikinya. Bila kemampuan seseorang bertindak hanya demi hadiah, maka ada sesuatu yang kurang padanya. Tindakan yang didasari untuk mendapatkan apa yang diinginkan dan lupa akan hasrat yang ada di baliknya untuk berjasa. Akhirnya tidak ada kepedulian untuk berbuat dengan sungguh-sungguh, hanya sekedar melakukan apa yang menjadi persyaratan mendapatkan hadiah, jelas sekali ini tidak sehat. Hadiah tidak lebih hanya sebagai pelicin atau suap, bukan sebagai motivasi dari tujuan sebenarnya yaitu perbuatan baik itu sendiri dalam rangka memoralkan perilaku. 
Di sisi lain, hal ini juga akan menimbulkan ketergantungan dalam bertindak, seseorang hanya akan bertindak dengan benar jika ada reward di baliknya. Memanjakan anak dengan reward yang berlimpah hanya akan memupuk rasa manja dan ketidakpercayaan akan kemampuannya, sehingga anak menjadi lebih depensif menunggu apa yang akan didapatkanya.
Begitu pula, jika anak sejak kecil sudah dibiasakan hidup dengan dorongan kekerasan dan ancaman, ini dikarenakan ada aggapan orang tua untuk memulihkan kewibawaan, padahal tanpa disadari pola pikir ini adalah memaksakan kehendak dan menunjukkan superioritas, akan menimbulkan efek negatif pada kepribadiaannya. Anak akan tumbuh dan berkembang menjadi individu yang lemah dan gampang menyerah pada nasib dan tidak memiliki inisiatif. Dampak lain, imitasi sebagai sumber utama pembelajaran pada anak, akan mendapatkan pembenaran untuk menirunya setelah dewasa.
Oleh karena itu, faktor bijak dalam intensitas dan variasi pemberian reward dan punishment harus diperhatikan agar tidak salah kaprah, mengena, dan memiliki nilai positif terhadap respon anak. Akan lebih baik lagi penggunaan komunikasi yang lancar menjadi jembatan hubungan harmonis dan juga merupakan aspek yang penting di dalam proses pendidikan moral anak. Agar ada kejelasan antara keinginan dan hal-hal yang berhubungan dengan anak dan orang tua sendiri. Orang tua merindukan anak memiliki nilai-nilai moral yang tinggi, di lain pihak anak memiliki keinginan dan kebutuhan semisal rasa kasih ingin dihargai dan kasih sayang.
Pengembangan kasih sayang dengan bijak sebagai kunci utama dan pertama dalam menangani, melayani, dan memenuhi kebutuhan anak. Hakikat dari pembinaan anak sesungguhnya bersandar kepada hati nurani orang tua. Kegelisahan, kemurungan hati orang tua dengan satu dan lain cara, akan dilampiaskan kepada anak keturunannya. Anak yang dibesarkan dalam suasana serba konflik jauh dari kasih sayang, akan terjadi suatu kecenderungan anak mengalami keresahan jiwa dengan tindakan-tindakan yang negatif.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar