Teori Attachment

Terdapat beberapa teori attachment yang menjelaskan tentang kelekatan/keterikatan. Sedikitnya terdapat empat teori yang mempengaruhi attachment, yaitu psychoanalytic theory, learning theory, cognitive-developmantal theory, dan ethological theory. Penjelasannya mengenai teori tersebut adalah sebagai berikut (dalam Shaffer, 2005):
Psychoanalaytic theory : ”Saya mencintai kamu karena kamu memberi makan kepada saya”
Menurut Freud, bayi masih dalam tahap ”oral” dimana kepuasan diperolehnya dari mengisap objek yang dimasukkan ke mulut sehingga bayi akan tertarik kepada siapa saja yang dapat memberinya kepuasan oral. Karena biasanya ibu yang memberikan kenikmatan oral kepada bayi melalui menyusui, maka hal tersebut logis jika Freud menyebutkan bahwa ibu akan menjadi objek primer bayi dalam menunjukkan perasaan aman dan kasih sayang karena ibu yang paling baik dalam menyusui mereka.  Erik Erikson juga percaya bahwa kegiatan menyusui yang dilakukan ibu akan mempengaruhi kekuatan perasaan aman yang ditunjukkan bayi melalui attachment bayinya. Erikson mengatakan bahwa keseluruhan respon yang diberikan ibu kepada bayinya lebih penting daripada kegiatan menyusui itu sendiri. Menurut Erikson, seorang pengasuh yang konsisten dalam merespon kebutuhan bayi akan mengembangkan perasaan trust kepada orang lain, sedangkan pengasuh yang tidak responsif dan tidak konsisten akan menimbulkan perasaan mistrust.
Erikson juga menambahkan bahwa anak- anak yang belajar untuk tidak trust kepada pengasuhnya selama masa bayi akan menghindari atau akan menjadi ragu-ragu dalam membangun hubungan yang harus saling mempercayai (close mutual-trust relationship) sepanjang hidupnya. 
Learning theory : ”Pemberian reward mengarah kepada rasa cinta”
Para ahli teori learning berasumsi bahwa bayi akan attached terhadap seseorang yang memberi mereka makan dan memuaskan kebutuhannya. Menyusui dipandang sebagai hal yang penting karena dua alasan. Pertama, karena hal tersebut dapat menimbulkan respon positif dari bayi (seperti tersenyum) yang akan meningkatkan kasih sayang terhadap bayi. Kedua, menyusui adalah kesempatan bagi ibu untuk memberikan kenyamanan kepada bayi seperti memberi makanan, kehangatan, sentuhan kasih sayang, kelembutan. Bayi mulai menghubungkan ibunya dengan sensasi yang menyenangkan, sehingga ibunya menjadi barang yang berharga baginya. Ketika sang ibu memperoleh status sebagai secondary reinforcer, maka bayi akan attach dengan ibunya sehingga bayi akan melakukan apapun (seperti tersenyum, bergumam, atau mengikuti) untuk menarik perhatian dari individu yang dianggap penting baginya.
Cognitive-Developmental theory : ”Untuk mencintai kamu, saya harus tahu kalau kamu ada di sana”
Teori cognitive-developmental jarang membahas orang dewasa seperti apa yang akan menarik bagi bayi, tapi teori cognitive-developmantal mengingatkan akan pentingnya karakter perkembangan dalam membentuk attachment karena hal ini tergantung pada tingkat perkembangan kognitif bayi. Sebelum terbentuknya attachment, bayi harus mampu membedakan orang yang dikenal dengan orang asing. Bayi juga harus mengetahui bahwa ibunya mempunyai ”permanence” terhadap dirinya, karena akan sulit untuk membentuk hubungan yang stabil dengan seseorang jika dia merasa orang tersebut tidak ada untuknya. Itulah sebabnya attachment pertama kali tebentuk pada usia 7 sampai 9 bulan dimana bayi telah memasuki tahap keempat dari sensori motorik berdasakan teori Piaget, yaitu tahap dimana bayi mulai mencari objek yang disembunyikan dari mereka. 
Dalam percobaan yang dilakukan Barry Lester, ditemukan bahwa bayi usia 9 bulan yang mempunyai skor lebih tinggi dalam object permanence dimana mereka melakukan protes ketika mereka dipisah dari ibu mereka, sedangkan anak dengan usia yang sama tapi skor object permanence yang lebih rendah tidak melakukan tidakan protes apapun ketika mereka dipisahkan dari siapapun. Kelihatannya hanya anak usia 9 bulan yang matang secara kognitif mempunyai kebutuhan akan attachment primer dengan ibunya. 
Ethological theory : “Mungkin saya lahir untuk dicintai”
Ahli etiologi lebih tertarik pada penekanan emotional attachment sebagai awal dari perkembangan. Asumsi utama dari pendekatan etiologi bahwa semua spesies, termasuk manusia dilahirkan dengan kecenderungan perilaku bawaan yang akan berkontribusi dalam kelangsungan hidupnya dari evolusi. Bowlby yang mendukung teori  psikoanalitik Freudian yang percaya bahwa perilaku yang dibawa sejak lahir didesain untuk membentuk attachment antara bayi dengan pengasuhnya. Dikatakan bahwa hubungan attachment bersifat adaptif, memberikan perlindungan kepada bayi dan memenuhi kebutuhannya. Ahli etiologi berpendapat bahwa tujuan jangka panjang dari adanya attachment primer adalah untuk mempertahankan generasi selanjutnya untuk bertahan hidup, mempertahankan kelangsungan hidup spesiesnya.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar