Penyakit Typhus Abdominalis

Penyakit Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran (Ngastiyah, 2005).  Demam tifoid enteric fever adalah penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau gangguan kesadaran (Rampengan, 2008).
Demam tifoid adalah penyakit infeksi usus halus ditandai demam lebih 1 minggu mengalami gangguan saluran cerna dan gangguan kesadaran disebabkan oleh kuman salmonella typhi (staf ilmu keperawatan anak, 2005). Demam enterik adalah sindrom klinis sistemik yang dihasilkan oleh organisme salmonella tertentu (Nelson, 2000).  
Typhus Abdominalis adalah Penyakit infeksi yang menyerang saluran pencernaan yang disebabkan oleh kuman salmonella typhosa dengan masa inkubasi 10-14 hari ditandai dengan demam, muntah, sakit kepala, nyeri perut (Mansjoer, 2000).
Dari beberapa pengertian di atas penulis menyimpulkan typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella typhi ditandai demam lebih dari 1 minggu.
Etiologi
Penyebab Penyakit Typhus Abdominalis adalah salmonella typosa basil gram negatif yang bergerak dengan bulu getar tidak berspora, mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen.
  1. Antigen O. Somatik, terdiri dari zat komplek lipopolisakarida. 
  2. Antigen H. Merupakan komponen protein dalam flagella. 
  3. Antigen V1. (Kapsul) = merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi antigen O terhadap fagotisosis, nilai normalnya negatif.
Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan menimbulkan pembentukan tiga macam antibodi yang lazim disebut agglutinin. Salmonella typhosa juga dapat memperoleh plasmid factor–R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik.
Ada 3 spesies utama, yaitu:
  1. Salmonella typhosa (satu serotipe). 
  2. Salmonella choleraesius (satu serotipe). 
  3. Salmonella enteritidis (lebih dari 1500 serotipe).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya agglutinin 0 dan H yang ditemukan titernya untuk diagnosis. Makin tinggi titernya, makin besar kemungkinan pasien menderita typhus. Pada infeksi yang aktif, titer uji widal akan meningkat. Pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari. Perlu diketahui bahwa ada jenis dari demam thypoid yang mempunyai gejala hampir sama, hanya bedanya demam biasanya tidak terlalu tinggi (lebih ringan) ialah yang terdapat pada paratifoid A, B, C, untuk menemukan kuman penyebab perlu pemeriksaan darah seperti pasien thypoid. 
Etiologi demam tifoid sembilan puluh enam persen kasus disebabkan salmonella typhii, sisanya disebabkan oleh salmonella paratyphi (Pusponegoro, 2004; Rampengan, 2008). 
Patofisiologi
 Transmisi terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi urin/feses dari penderita tifus akut dan para pembawa kuman/karier. 
Empat F (Finger, Files, Fomites dan fluids) dapat menyebarkan kuman ke makanan, susu, buah dan sayuran yang sering dimakan tanpa dicuci/dimasak sehingga dapat terjadi penularan penyakit terutama terdapat dinegara-negara yang sedang berkembang dengan kesulitan pengadaan pembuangan kotoran (sanitasi) yang andal (Samsuridjal & heru , 2003).
Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis (Soegijanto, 2002). 
Infeksi terjadi pada saluran pencernaan hasil diserap di usus halus, melalui pembuluh limfe halus masuk ke dalam peredaran darah sampai diorgan-organ terutama hati dan limfe. Basil yang tidak dihancurkan berkembang biak dalam hati dan limpa sehingga organ-organ tersebut akan membesar disertai nyeri pada perabaan. Kemudian basil masuk ke dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke seluruh tubuh terutama ke dalam kelenjar limfoid usus halus, menimbulkan tukak berbentuk lonjong pada mukosa di atas plak nyeri. Tukak tersebut dapat mengakibatkan perdarahan dan perforasi usus. Gejala demam disebabkan oleh endotoksin, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelainan usus (Ngastiyah, 2005) dan (Suriadi dan Rita Y: 2001).
Manifestasi Klinik
Demam typoid yang tidak diobati sering kali merupakan penyakit berat yang berlangsung lama dan terjadi selama 4 minggu atau lebih:
  1. Minggu pertama: demam yang semakin meningkat, nyeri kepala, malaise, konstipasi, batuk non produktif, brakikardi relative. 
  2. Minggu kedua: demam terus menerus, apatis, diare, distensi abdomen, ‘rose spot’ (dalam 30%), splenomegali (pada 75%). 
  3. Minggu ketiga: demam terus menerus, delirium, mengantuk, distensi abdomen massif, diare ‘pea soup’. 
  4. Minggu keempat: perbaikan bertahap pada semua gejala.
Setelah pemulihan, relaps dapat terjadi pada 10% kasus (jarang terjadi setelah terapi fluorokuinolon). Kasus dapat berlangsung ringan atau tidak tampak. Kasus paratyphoid serupa dengan typhoid namun biasanya lebih ringan.
Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 – 30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya penyakit/gejala yang tidak khas), antara lain:
  1. Perasaan tidak enak badan 
  2. Lesu 
  3. Nyeri kepala dan pusing 
  4. Diare 
  5. Anoreksia 
  6. Bradikardi relative 
  7. Nyeri otot (Mandal, 2008) 
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada klien typhus abdominalis menurut Rampengan, 2008; Widiastuti,  20014), antara lain:
Perawatan
Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam hilang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
Mobilisasi bertahap
Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan. Diet yang diperoleh penderita typhus abdominalis yaitu TKTP:
  1. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring, bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kekambuhan penderita. 
  2. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.  
  3. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari  
Obat-obatan 
  1. Klorampenikol. 
  2. Triampenikol. 
  3. Kotrimoxazol. 
  4. Amoxilin dan ampicillin      
Komplikasi
Komplikasi penyakit typhus abdominalis menurut Mandal (2008), antara lain:
  1. Perdarahan dan perforasi usus(terutama pada minggu ketiga). 
  2. Miokarditis. 
  3. Neuropsikiatrik: Psikosis, ensefalomielitis. 
  4. Kolesistitis, kolangitis, hepatitis, pneumonia, pancreatitis. 
  5. Abses pada limpa, tulang atau ovarium(biasanya setelah pemulihan). 
  6. Keadaan karier kronik(kultur urin / tinja positif setelah 3 bulan) terjadi pada 3% kasus(lebih sedikit setelah terapi fluorokuinolon).
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar