Pengukuran Suhu Tubuh

Pengukuran suhu tubuh yang paling sering dilakukan dalam pengukuran suhu tubuh adalah nadi, tekanan darah, frekuensi pernafasan dan saturasi oksigen. Pengukuran suhu tubuh ditujukan untuk memperoleh suhu inti jaringan tubuh rata-rata yang representatif. Suhu normal rata-rata bervariasi bergantung lokasi pengukuran. Tempat yang menunjukkan suhu inti merupakan indikator suhu tubuh yang lebih dapat diandalkan daripada tempat yang menunjukkan suhu permukaan. Suhu inti atau suhu jaringan dalam relatif konstan, dimana tempat pengukuran suhu inti antara lain di rektum, membran timpani, esofagus, arteri pulmoner dan kandung kemih merupakan salah satu faktor yang menentukan suhu tubuh klien dalam rentang yang sempit. Sedangkan tempat pengukuran permukaan di permukaan antara lain di kulit, aksila, oral.   
Faktor faktor lingkungan dan infeksi jamur minor dapat menghasilkan suhu lebih tinggi pada bayi dan anak kecil daripada anak-anak yang lebih besar dan orang dewasa. Pada bayi yang sangat muda, demam merupakan salah satu tanda suatu gangguan. Pada anak usia bermain, kejang karena panas dapat sama dengan demam dan merupakan masalah yang penting. Ada tidaknya demam adalah penting dalam merencanakan asuhan keperawatan. Suhu tubuh harus diukur pada saat masuk ke fasilitas perawatan kesehatan sebelum dan sesudah pembedahan atau prosedur diagnostik invasif, selama dalam masa infeksi yang tidak teridentifikasi setelah tindakan menurunkan demam dan kadang-kadang pada bayi atau anak yang tampak merah mukanya, merasa hangat atau letargi  (Engel, 1998). 
Mengukur suhu tubuh
Suhu tubuh seringkali dijadikan sebagai salah satu faktor untuk menentukan kondisi kesehatan bayi, disamping sejumlah faktor fisik lainnya. Suhu tubuh bayi yang normal, berkisar antara 36,50 C – 370 C. Apabila tubuhnya diatas atau di bawah kisaran suhu tubuh, kemungkinan ada sesuatu yang  salah di dalam tubuhnya (Perry, 2005).
Untuk mengetahui berapa suhu tubuh bayi kita dapat menggunakan termometer. Alat pengukur suhu tubuh ini banyak jenisnya yaitu termometer air raksa, termometer digital, termometer berbentuk strip. Termometer air raksa bentuknya pipih dengan ujung agak lancip. Pada ujung termometer tersebut terdapat rongga yang berisis air raksa. Apabila ujung lancip yang berisi air raksa ini tersentuh suhu tubuh maka air raksa ini akan bergerak dan menunjukkan angka tertentu pada skala yang tertera. Termometer jenis ini bisa digunakan dengan cara dimasukkan ke dalam mulut atau diselipkan di ketiak. 
Selain itu ada jenis termometer lain yang bentuknya mirip termometer air raksa, yaitu termometer rektal. Bedanya, ukuran termometer rektal sedikit lebih kecil dan bagian ujungnya sedikit lebih tunpul daripada termometer air raksa. Jenis termometer ini lebih praktis penggunaanya dibandingkan termometer air raksa. Jenis lain yang cukup praktis penggunaanya termometer strip yaitu tinggal diletakkan atau ditempelkan pada dahi bayi.
Tempat dan waktu pengukuran suhu tubuh 
Di setiap tempat perawatan baik di rumah sakit maupun klinik dipakai lokasi pengukuran temperatur pada ketiak, sub lingual dan rektal (Gabriel, 1998). Pada bayi di bawah umur 2 tahun dapat pula diukur direktal atau lipat paha (Abdul latif, 2000). Tempat umum pengukuran suhu adalah oral, rektal dan aksila membran timpani, esofagus, arteri pulmoner atau bahkan kandung kemih. Untuk dewasa awal yang sehat rata-rata suhu oral 370C.
Tempat-tempat pengukuran ini dapat diiuraikan sebagai berikut:
Pengukuran di ketiak (axila) 
Melakukan  pengukuran suhu di ketiak adalah dianjurkan karena aman, bersih dan mudah dilakukan. Hal ini tidak menimbulkan resiko pada neonatus meskipun itu memerlukan waktu sedikit lebih lama dari pengukuran suhu di rektal. Pengukuran suhu axila adalah cara paling aman untuk mengetahui suhu tubuh pada bayi baru lahir. Namun suhu axila merupakan teknik pengukuran suhu yang kurang akurat karena diletakkan di luar tubuh daripada di dalam tubuh.
Pengukuran axila mempunyai keuntungan dan kerugian  yaitu: 
Keuntungannya:
  1. Aman dan non invansif 
  2. Cara yang lebih disukai pada bayi baru lahir dan klien yang tidak kooperatif
Kerugiannya:
  1. Waktu pengukuran lama 
  2. Memerlukan bantuan perawat untuk mempertahankan posisi klien 
  3. Tertinggal dalam pengukuran suhu inti pada waktu perubahan suhu yang cepat 4) Memerlukan paparan toraks
Pengukuran di lipat paha
Pengukuran di lipat paha juga dianjurkan dengan beberapa pertimbangan yaitu  (Perry, 2005):
  1. Anatomi dan fisiologi. Terdapat pembuluh darah besar yaitu arteri dan vena femoralis dengan cabang-cabang arteri yang banyak, dimana suhu akan berpindah dari darah ke permukaan kulit melalui dinding pembuluh darah. Selain itu juga bahwa kulit epidermis di lipat paha lebih tipis dari kulit di tempat lain sehingga mempercepat terjadi pengeluran panas dari pembuluh darah yang berada di lapisan ke permukaan kulit. 
  2. Aman. Daerah tersebut tidak mudah lecet dan  bila termometer dijepitkan tidak mudah lepas atau jatuh 
  3. Bersih. Termometer tidak akan terkontaminasi sehingga bisa dipakai pada pasien yang lain tanpa harus disterilkan dalam waktu yang lama 
  4. Mudah.  Mudah dilakukan dan mudah diamati kenaikan suhu tubuh pada termometer 
Pengukuran di rektal
Rektal dijadikan tempat pengukuran karena daerah tersebut banyak pembuluh darah walaupun sekarang sudah dianjurkan untuk menghindari oleh karena dapat menyebabkan trauma pada pembuluh-pembuluh darah apabila dilakukan berulang kali. Pengukuran rektal digunakan pada bayi, pasien dengan bedah atau kelainan rektal, pasien dengan miokard akut. Pengukuran suhu rektal adalah paling mungkin pada anak-anak yang lebih muda.
Pengukuran suhu tubuh direktal terdapat keuntungan dan kerugian yaitu: 
Keuntungannya:
  1. Terlebih dapat diandalkan bila suhu oral dapat diperoleh 
  2. Menunjukkan suhu inti (rektum, membran timpani, esofagus, arteri pulmoner, kandung kemih) 
Kerugiannya yaitu:
  1. Pengukuran suhu inti lebih lambat selama perubahan suhu yang cepat  
  2. Tidak boleh dilakukan pada klien yang mengalami bedah rektal, nyeri pada area rektal atau cenderung perdarahan. 
  3. Memerlukan perubahan posisi dan dapat merupakan sumber rasa malu dan ansietas klien 4) Memerlukan lubritasi 
  4. Dikontra indikasikan pada bayi baru lahir
Pengukuran oral
Yaitu pengukuran yang dilakukan di dalam mulut lebih khususnya di bawah lidah karena daerah ini banyak terdapat mukosa, sedangkan untuk waktu pengukuran dilakukan berdasarkan lama pengukuran suhu di rektal antara 3-5 menit, di oral 3-7 menit, axila, 9-15 menit sedangkan pengukuran suhu tubuh di ketiak pada usia dewasa adalah 8-10 menit (Tulus, 2001). 
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar