Penanganan Limbah Cair

Tahap awal penanganan limbah cair adalah proses penyaluran dan pengumpulan. Proses ini meliputi sistem perpipaan dalam rumah dan perkantoran, sistem penyambungan pipa kesaluran pengumpul, sistem penyaluran limbah cair dan kelengkapannya, seperti lubang pemeriksa serta pemompaan. Tahap berikutnya adalah pengolahan yang dimulai dari tahap pengolahan pendahuluan (pretreatment/prelaminary treatment), pengolahan tahap pertama (primary treatment), pengolahan tahap kedua (secondry treatment), pengolahan tahap ketiga (tertiary treatment), dan pengolahan lumpur (sludge disposal).
Pada penanganan limbah cair jenis dan jumlah proses pengolahan limbah cair tergantung pada kualitas efluen limbah cair. Jadi, jenis teknologi yang digunakan bergantung pada analisis kualitas limbah cair serta penggunaan efluen. Efluen limbah cair dengan konsentrasi tinggi yang dibuang di sungai dapat dimanfaatkan sebagai baku air minum. Akan tetapi, memanfaatkan air tersebut menuntut proses pengolahan yang lengkap dibandingkan dengan limbah cair yang dibuang kedalam saluran irigasi untuk pertanian (Soeparman, 2001).
Limbah cair dari instansi layanan kesehatan mutunya serupa dengan limbah cair yang berasal dari dari daerah perkotaan, tetapi mungkin juga mengandung berbagai komponen berbahaya.
Karakteristik Limbah Cair dari Rumah Sakit
Patogen mikrobilogis
Keprihatian utama saat ini berkaitan dengan limbah cair yang mengandung begitu banyak pathogen usus,termasuk bakteri, virus, dan cacing, yang mudah menular melalui air. Limbah cair yang tercemar dihasilkan khususnya oleh bangsal yang merawat pasien penderita penyakit usus dan merupakan masalah khusus yang dihadapi selama berlangsungnya kejadian luar biasa penyakit diare.
Zat kimia berbahaya
Sejumlah kecil zat kimia yang berasal dari aktivitas pembersihan dan disinfektan biasanya dibuang secara teratur ke selokan. Jika rekomendasi yang ada tidak diikuti, maka akan semakin banyak jenis zat kimia yang terkandung dalam limbah cair.
Sediaan farmasi
Sejumlah kecil sediaan farmasi biasanya juga dibuang ke selokan dari apotik rumah sakit dan dari berbagai bangsal. Jika rekomendasi yang tertera pada sediaan limbah farmasi tidak diikuti, akan semakin banyak jenis sediaan farmasi,termasuk antibiotic dan obat-obatan genotoksik yang juga akan dibuang keselokan.
Bahaya terkait
Di beberapa Negara berkembang dan Negara industri, KLB penyakit kolera dilaporkan terjadi secara berkala.Selokan pada instansi layanan rumah sakit tempat pasien kolera dirawat, tidak selalu dihubungkan dengan instalansi pengelolahan limbah yang efisien, dan terkadang jaringan saluran pembuangan perkotaan belum terbentuk. Walaupun hubungan antara penyebaran kolera dan metode pembuangan limbah cair yang tidak aman belum banyak dikaji dan didokumentasikan, pembuangan yang tidak aman itu diduga kuat turut berkonstribusi dalam penyebaran kolera,misalnya selama terjadi KLB kolera terbaru pada penduduk Afrika (di Republik Demokratit Kongo, Rwanda) dan selama epidemic kolera pada tahun 1991-1992 di Amerika Selatan. Hanya ada sedikit konfirmasi yang terkumpul mengenai penyebar penyakit lain melalui limbah cair  salurdari instansi layanan kesehatan.
Dinegara maju, komsumsi air sangat tinggi sehingga limbah cair pada saluran pembuangan sangat encer,efluen diolah instalansi pengelolaan perkotaan dan tidak ada risiko yang signifikan terhadap kesehatan walaupun efluen tersebut tidak menjalani pengelolaan khusus selanjutnya. Seandainya terjadi hal tidak biasa seperti KLB penyakit diare akut, ekskreta dari pasien akan ditampung ditempat yang terpisah dan desinfeksi. Di Negara berkembang mungkin tidak akan ditemukan jaringan saluran pembuangan perkotaan sehingga pembuangan limbah cair, baik yang tidak diolah ataupun yang diolah tetapi tidak adekuat, ke lingkungan pasti akan menimbulkan risiko yang serius terhadap kesehatan. Efek toksik setiap polutan kimia yang terkandung dalam limbah cair terhadap bakteri dalam proses purifikasi air limbah dapat menimbulkan bahaya yang lain.
Pengelolaan limbah cair
Pengelolaan limbah cair rumah sakit ditempat hanya akan efisien jika mencakup aktivitas berikut:
  1. Pengelolahan primer
  2. Purifikasi biologis sekunder. Sebagian besar cacing akan mengendap dalam lumpur akibat proses purifikasi sekunder, demikian pula dengan bakteri (90-95%) dan virus. Dengan demikian walau sudah terbebas dari cacing efluen masih mengandung bakteri dan virus dalam kosentrasi efektif. 
  3. Pengelolahan tersier. Efluen sekunder kemungkinan akan mengandung minimal 20 mg/liter zat organic terlarut yang jika didesinfeksi dengan klor hasilnya akan tidak efisien. Dengan demikian, efluen har us menjalani pengelolahan tersier, misalnya pengolaman. Jika tidak tersedia cukup ruang untuk membuat kolam, teknik filtrasi pasir cepat dapat dipakai untuk menghasilakan efluen tersier dengan kadar zat organik  ang jauh lebih berkurang (< 10 mg / liter). 
  4. Desinfksi klor. Agar konsentrasi pathogen sebnading dengan konsentrasi yang ditemukan dalam air, efluen tersier harus menjalani desinfeksi klor sampai mencapai kadar yang ditetapkan. Desinfeksi tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan klor dioksida (paling efisien), natrium hipoklorit, atau gas klor. Pilihan lainnya adalah dengan melakukan desinfeksi sinar ultraviolet.
            Desinfeksi efluen penting dilakukan jika efluen akan dibuang ke mauar sungai yang dekat dengan habitat kerang, terutama jika penduduk setempat memiliki kebiasaan makan kerang mentah.
Pengelolaan limbah cair dengan metode extended aeration
Sistem extended aeration termasuk dalam proses pertumbuhan biomassa tersuspensi. Pada proses pertumbuhan biomassa tersuspensi, mikroorganisme bertanggung jawab atas kelangsungan jalannya proses dalam kondisi suspense liquid dengan metode pengadukan/pencampuran yang tepat. Biomassa yang ada dinamakan dengan lumpur aktif, karena adanya mikroorganisme aktif yang dikembalikan ke bak/unit aerasi untuk melanjutkan biodegradasi zat organik yang masuk sebagai influen (Tchobanoglous, 2003). Proses extended aeration mirip dengan proses konvensional plug-flow, hanya saja extended aeration beroperasi dalam fase respirasi endogenous pada kurva pertumbuhan, yang membutuhkan beban organik (organic loading) yang rendah dengan waktu aerasi yang lebih lama (Reynolds, 1982)
Pengelolaan limbah cair dengan metode advanced oxidation processes (AOP)
Pada umumnya polutan utama yang terkandung dalam limbah cair bahan resin adalahsenyawa-senyawa organik  yang biasanya dapat merupakan racun yang dapat mencemari lingkungan air dan udara apabila dibuang langsung ke lingkungan dalam jumlah yang banyak. Untuk mengatasi polutan yang terkandung dalam limbah cair bahan resin, penelitian merekomendasikan instalasi air limbah (IPAL) dengan menggunakan instrumentasi metode Advanced Oxidation Processes (AOP). Untuk dapat meningkatkan efektifitas dan standar baku mutu buang limbah cair dari bahan resin, maka diusulkan adanya perubahan cara pengolahan air limbah dengan metode AOP yaitu dengan mengkombinasikan ozon dan ultraviolet.¹¹
Pengembangan instalasi instrumentasi pengolahan limbah cair bahan peroxide menggunakanmetode AOP dengan kombinasi ozon dan ultraviolet dimaksudkan agar limbah cair yang diolah dapat dibuang dengan aman dan memenuhi baku mutu lingkungan sesuai dengan Keputusan Mentri Negara Lingkungan Hidup  Dari proses produksi perusahaan berbahan peroxide setiap harinya menghasilkan kurang lebih 10 m3/day limbah cair dengan kadar kandungan COD 116208 ppm di sampel A3-2 yang dinilai sangat tinggi, sehingga limbah cair ini tidak dapat langsung dibuang ke lingkungan air. Konsep dasar sistem yang akan dibangun adalah sistem AOP dengan menggunakan ozon dan ultraviolet [4,5]. sebagai komponen utama sistem yang dikombinasikan dengan karbon aktif sebagai filtrasi pada tahapan terakhir.
Fungsi dari kombinasi ozon dan ultraviolet adalah untuk menghasilkan hydroxyl radikal (OH)ditunjukkan pada persamaan (1) dan (2), dimana sebuah radikal bebas yang memiliki potential oksidasiyang sangat tinggi (2.8 V), jauh melebihi ozon (1.7 V) dan chlorine (1.36 V) [3,6]. Sedangkan lampu ultraviolet pada panjang gelombang tertentu (λ = 254 m) akan efektif dalam proses membunuh bakteri. Hal ini menjadikan kombinasi ozon dan ultraviolet sangat potensial untuk mengoksidasi berbagai senyawa organik, minyak, dan bakteri yang terkandung didalam air.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar