Keseimbangan Cairan Elektrolit

Keseimbangan cairan elektrolit melibatkan komposisi dan perpindahan berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air dan zat terlarut. Elektrolit  merupakan zat yang  terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen). Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan intravena dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh.
Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh, yang dapat terjadi pada perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa preoperatif  maupun perioperatif, dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. Jika gangguan tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah, maka resiko penderita menjadi lebih besar.
Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular. Lebih jauh kompartemen ekstraselular dibagi menjadi cairan intravaskular dan interstitial. Cairan intraseluler adalah cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh, sedangkan cairan akstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan terdiri dari tiga kelompok yaitu cairan intravaskuler (plasma), cairan interstitial dan cairan transeluler.
Dehidrasi isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun kompartemen ekstravaskular. Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah, air di kompartemen intravaskular berpindah ke kompartemen ekstravaskular, sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular. Dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di kompartemen ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular, sehingga meminimalkan penurunan volume intravaskular.
Berdasarkan Sisiroon (2006), faktor-faktor yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh antara lain:
Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi bergatung dari usia, karena usia akan berpengaruh pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Anak- anak lebih mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan disbanding usia dewasa. Pada usia lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dikarenakan gangguan fungsi ginjal atau jantung.
Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah memiliki peningkatan kehilangan cairan sampai dengan 5 liter per hari.
Diet
Diet seseorang berpengaruh terhadap intake cairan dan elektrolit. Ketika intake nutrisi tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga serum albumin dan cadang protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan oedema.
Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glycogen otot. Mekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila kerkepanjangan dapat meningkatkan volume darah. 
Kondisi Sakit
Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, misalnya:
  1. Trauma seperti luka baker akan meningkatkan kehilangan air melalui paru- paru dan kulit. 
  2. Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. 
  3. Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran akan mengalami gangguan pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemampuan untuk memenuhinya secara mandiri.
Tindakan Medis
Banyak tindakan medis yang berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh seperti suction, nagogastric tube dan lain-lain.
Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian deuretik, laksatve dapat berpengaruh pada kondisi cairan dan elektrolit tubuh.
Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggi mengalami gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh, dikarenakan kehilangan darah selama pembedahan.
Tubuh kita mendapat air dari cairan yang diminum, cairan yang terdapat dalam bahan makanan padat, serta cairan yang didapat dari oksidasi makanan dan oksidasi jaringan tubuh. Sedangkan air dalam tubuh kita dikeluarkan melalui usus, ginjal, paru – paru, dan kulit. Kelenjar – kelenjar dari traktus digestivus pada orang dewasa tiap harinya mengeluarkan ±8,2 liter cairan usus yang terdiri dari air dan elektrolit. Dalam keadaan normal, cairan usus ini diserap kembali sehingga kehilangan air melalui tinja hanya  ±100 ml sehari. Kehilangan air melalui paru – paru (uap air) dan melalui kulit (keringat) disebut  Insensible perspiration (Insensible water loss) diperkirakan sebanyak 0,5 – 0,6 cc. Kebutuhan air pada orang dewasa ± 2 – 3 liter/hari (1 – 1,5 liter untuk  Insensible perspiration dan 1 – 1,5 liter untuk produksi urin).
Di dalam tubuh seorang yng sehat volume cairan tubuh dan komponen kimia cairan tubuh selalu berada dalam kondisi dan batas yang nyaman. Dalam kondisi normal intake cairan sama dengankehilangan cairan tubuh yang terjadi. Selama aktivitas dan temperature yang sedangkan kebutuhan cairan tubuh kira – kira 2500 ml per hari sehingga kekurangan sekitar 1000 ml per hari diperoleh dari makanan, dan oksidasi selama proses metabolism.
Pengaturan intake cairan adalah melalui mekanisme haus, pusat haus dikendalikan berada di otak, sedangkan rangsangan haus berasal dari kondisi dehidrasi intraseluler, mengakibatkan penurunan volume darah. Perasaan kering di mulut biasanya terjadi bersama sensasi haus. Sensasi haus akan segera hilang setelah minum dengan demikian pada kondisi tubuh yang sehat akan secara otomatis dapat mengatur intake cairannya sendiri tanpa haus takut bila terjadi kelebihan cairan sepanjang konsentrasi cairan yang masuk sama dengan konsentrasi cairan tubuh.
Saat beraktifitas, orang akan mengeluarkan keringat, keringat akan lebih banyak dikeluarkan apabila kegiatan yang dilakukan di tempat panas.  Apabila tubuh kehilangan air 2% dari total berat badan, maka akan mengalami dehidrasi, ada baiknya orang minum sebelum merasa haus. Minum air yang teratur dengan tambahan sedikit elektrolit dan karbohidrat sangat baik untuk  mencegah terjadinya dehidrasi.
Pada lingkungan kerja panas dan jenis pekerjaan berat, diperlukan sekurang – kurangnya 2,8 liter air minum bagi seorang tenaga kerja, sedangkan untuk kerja ringan dianjurkan 1,9 liter dan kadar garam tidak boleh tinggi melainkan sekitar 0.2 %. Minum tidak mengandung alkohol dan bersifat penyegar badan,  baik untuk pekerja.  Sumber lain mengatakan bahwa cairan isotonis dengan kadar NaCl 0,9% dan larutan Ringer Lactate (RL) juga bisa digunakan karena konsentrasi dan kepekatannya sama dengan cairan tubuh.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar