Jiwa Perspektif Psikologi

Jiwa perspektif psikologi adalah pandangan psikologi mengenai hakekat jiwa. Jiwa banyak dibahas oleh disiplin ilmu lain, salah satunya adalah psikologi. Jiwa merupakan objek pembahasan yang tidak akan pernah berhenti. Sejak zaman Yunani kuno, jiwa sudah mulai dibahas oleh para filosof, serta menjadi tema dan topik dalam kajian filsafat, dan sampai dengan sekarang ini pembahasan tentang jiwa akan tetap ada dan terus berlanjut. Maka mulailah timbul pandangan-pandangan kritis terhadap berbagai konsep, logika, teori dan metode yang mempelajari hakekat manusia.
Pemikiran Plato (477-347 SM) yang masih mencampur-adukkan ‘ide’ (sebagai inti dari jiwa manusia) dengan ‘roh’ (sebagai zat yang masuk ke dalam jasad manusia sehingga manusia itu hidup) misalnya, ditentang oleh pendapat seorang pendeta Katholik St. Thomas Aquinas (1224-1247) yang menyatakan bahwa jiwa dan roh harus dipisahkan. Jiwa merupakan objek studi dari psikologi, sedangkan roh adalah urusan agama. Demikianlah awal dari pertumbuhan psikologi. Kemudian Deskrates (1496-1650) datang dengan semboyannya ‘cogito ergo sum’, yang berarti ‘saya berfikir, maka saya ada’. Dan sejak itu timbul aliran yang mementingkan kesadaran dalam psikologi.
Dalam mempelajari jiwa, perlu sebuah alat atau ilmu sebagai bahan pendekatan untuk mengetahui objek tersebut. Jiwa merupakan objek keilmuan dan alat untuk mendekati objek itu adalah psikologi.
Psikologi adalah ilmu yang masih muda. Ia terpisah menjadi ilmu yang berdiri sendiri sejak tahun 1879, yaitu pada waktu didirikannya laboratorium psikologi yang pertama oleh Wilhelm Wundt (1832-1920) di Leipzig Jerman.
Pengertian Jiwa
Jiwa merupakan kajian utama pada ruang lingkup psikologi, berbeda dengan fisiologi yang mempelajari struktur dan fungsi organ fisik biologis manusia, karena psikologi secara etimologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.
Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata Yunani yaitu psyche dan logos. Mengenai kata logos kiranya sudah banyak orang yang tahu, artinya adalah nalar, logika atau ilmu. Tetapi apakah psyche itu? Istilah Psyche mempunyai banyak arti. Dalam bahasa Inggris yaitu soul, mind, spirit. Dalam bahasa Indonesia ketiga kata-kata tersebut dapat diwakili oleh satu kata yaitu “jiwa”. Karena itulah kebanyakan orang cenderung mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa.
 Tetapi arti “ilmu jiwa” masih kabur sekali. Apa yang dimaksud dengan jiwa, tidak seorangpun yang tahu dengan sesungguhnya. Karena kekaburan arti itu, sering timbul berbagai pendapat mengenai definisi psikologi yang saling berbeda,  sesuai dengan sudut pandang dan penafsiran masing-masing tokoh. Maka psikologi membatasi diri untuk hanya mempelajari gejala-gejala kejiwaan, khususnya kondisi, proses, dan fungsi-fungsi kejiwaan, dan untuk lebih mendapatkan kejelasan sasaran telaah metodologi dan efektifitas teknik-teknik pendekatannya, maka psikologi menyatakan diri sebagai sains yang mempelajari perilaku manusia, dengan asumsi bahwa perilaku merupakan ungkapan dan cerminan dari kondisi, proses, dan fungsi-fungsi kejiwaan.
Sarlito Wirawan Sarwono dalam bukunya Pengantar Umum Psikologi memberikan definisi tentang psikologi yang sekiranya bisa diterima oleh semua pihak. Dia mengemukakan bahwa psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya.
Dalam definisi di atas terdapat beberapa unsur. Pertama ilmu pengetahuan, yaitu suatu kumpulan pengetahuan yang tersusun secara sistematis dan mempunyai metode-metode tertentu. Kedua tingkah laku atau perbuatan mempunyai arti yang lebih konkret dari pada jiwa. Karena lebih konkret itu, maka tingkah laku lebih mudah dipelajari dari pada jiwa dan melalui tingkah laku kita dapat mengenal seseorang. Termasuk tingkah laku di sini adalah perbuatan yang terbuka dan tertutup. Tingkah laku yang terbuka adalah tingkah laku yang segera dapat dilihat oleh orang lain, misalnya makan, minum, memukul, berbicara, menangis dan sebagainya. Sedangkan tingkah laku yang tertutup adalah tingkah laku yang hanya dapat diketahui secara tidak langsung dengan melalui alat-alat atau metode-metode khusus, tingkah laku tertutup ini misalnya keadaan berfikir, sedih, berkhayal, bermimpi, takut dan sebagainya. Ketiga adalah manusia, karena makin  lama objek materiil psikologi makin mengarah kepada manusia, oleh karena manusia-lah yang paling berkepentingan dengan ilmu ini dan paling membutuhkan ilmu dalam berbagai segi kehidupan. Keempat adalah lingkungan, yaitu tempat di mana manusia itu hidup, menyesuaikan diri (beradaptasi) dan mengembangkan dirinya.
 Jadi, jiwa menurut kacamata psikologi merupakan cerminan dari perilaku yang dimunculkan oleh seseorang dalam bentuk tindakan dan perbuatan nyata yang meliputi tindakan yang dapat teramati (perilaku terbuka) maupun tindakan yang tidak dapat diamati secara langsung (perilaku tertutup) dalam hubungannya dengan realitas ekternal di luar dirinya.     
Jiwa Menurut Aliran-Aliran Dalam Psikologi
Bertolak dari pengertian bahwa psikologi sebagai ilmu yang menelaah perilaku manusia, para ahli psikologi umumnya berpandangan bahwa kondisi ragawi, kualitas kejiwaan dan situasi lingkungan merupakan penentu-penentu utama perilaku dan corak kepribadian manusia.
 Berangkat dari sinilah maka psikologi merupakan alat untuk mengetahui jiwa manusia yang sesungguhnya.  
Sampai dengan penghujung abad dua puluh ini terdapat empat aliran besar psikologi, yaitu:  
  1. Psikoanalisis (Psychoanalysis) 
  2. Psikologi Perilaku (Behavior Psychology) 
  3. Psikologi Humanistik (Humanistic Psychology) 
  4. Psikologi Transpersonal (Transpersonal Psychology)
Masing-masing aliran meninjau manusia dari sudut pandang berlainan, dan dengan metodologi tertentu berhasil menentukan berbagai dimensi dan asas tentang kehidupan manusia, kemudian membangun  teori dan  filsafat mengenai manusia. Walaupun sebenarnya banyak sekali aliran- aliran lain dalam psikologi, namun dalam sejarah perkembangannya hanya empat aliran tersebut di ataslah yang mendapat tempat dan apresiasi yang menyebabkan keempat aliran tersebut tetap eksis sampai dengan sekarang.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar