Faktor Fisika Perairan

Menurut Nyabakken (1992), faktor fisika perairan sangat penting dalam ekologi. Oleh karena itu selain melakukan pengamatan terhadap faktor biotik seperti fitoplankton, perlu juga dilakukan pengamatan faktor-faktor abiotik perairan. Dengan mempelajari aspek saling ketergantungan antara organisma dengan faktor-faktor abiotiknya maka diperoleh gambaran tentang kualitas suatu perairan bahwa distribusi biogeografis plankton sangat ditentukan oleh faktor lingkungan, seperti nutrien, cahaya, suhu, salinitas, oksigen dan faktor-faktor lainnya. Faktor tersebut sangat menentukan keberadaan dan kesuksesan jenis plankton di suatu lingkungan tertentu.
 Faktor abiotik (fisika kimia) perairan yang mempengaruhi antara lain: 
Suhu 
Suhu berperan sebagai pengatur proses metabolisme dan fungsi fisiologis organisme. Suhu bukan merupakan faktor pembatas pada alga alami selama banyak genus mampu tumbuh pada kondisi lingkungan lain yang sesuai. Namun suhu sangat berpengaruh terhadap percepatan atau perlambatan pertumbuhan dan reproduksi alga. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, dan biologi badan air. Suhu juga sangat berperan dalam mengendalikan kondisi ekosistem perairan. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu yang baik bagi pertumbuhannya. Alga dari filum Chlorophyta dan diatom akan tumbuh baik pada kisaran suhu berturut-turut 30oC-35oC dan 20oC-30oC, dan filum Cyanophyta dapat bertoleransi terhadap kisaran suhu yang lebih tinggi (di atas 30oC) dibandingkan kisaran suhu pada filum Chlorophyta dan diatom.
Air mempunyai sifat sebagai stabilisator temperatur karena sifatnya yang bipolar. Sifat air yang mempengaruhi temperature yaitu:
  1. Air mempunyai specific heat yang terbatas yaitu jumlah kalori yang dibutuhkan untuk menaikkan temperature air 1 g/10C misalnya amonia. 
  2. High latent heat of fussion tinggi yaitu panas yang diperlukan untuk mengubah air  00C menjadi es 00C. 3. 
  3. High latent heat of evaporation yaitu jumlah kalori yang dibutuhkan untuk mengubah 1 gr air 10000C menjadi uap air 1000C.
Perubahan temperatur akan mengubah pola sirkulasi stratifikasi dan gas terlarut sehingga akan mempengaruhi kehidupan dalam air. Peningkatan suhu perairan sebesar 100C dapat menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi oksigen dan juga menyebabkan terjadinya dekomposisi bahan organic oleh mikroba, khususnya bagi pertumbuhan fitoplankton di perairan dengan kisaran suhu optimum 25-300C. Suhu juga merupakan faktor intensitas dari energi panas (Simaremare, 2007).
Setiap jenis fitoplankton memiliki suhu optimum tersendiri dan sangat bergantung pada faktor lain seperti cahaya. Kisaran suhu yang optimum bagi pertumbuhan fitoplankton di suatu perairan adalah 30 – 35oC. Suhu dapat berperan menentukan suksesi jenis fitoplankton di suatu perairan, menentukan ada tidaknya spesies, mengatur aktivitas, dan menstimulir pertumbuhan (perkembangan) organisme (Yuliana, Asriyana, 2012).
Intensitas Cahaya
Sinar matahari mempengaruhi ekosistem secara global karena matahari menentukan suhu. Sinar matahari juga merupakan unsure vital yang dibutuhkan oleh fitoplankton sebagai produsen untuk berfotosintesis (Lubis, 2011). 
Menurut Yuliani, Asriyana (2012) menyatakan bahwa fotosintesis hanya dapat berlangsung bila intensitas cahaya yang sampai ke suatu alga lebih besar dari pada suatu intensitas tertentu. Hal ini berarti bahwa fitoplankton yang produktif hanyalah terdapat di lapisan-lapisan air teratas dimana intensitas cahaya cukup bagi berlangsungnya fotosintesis. Kedalaman penetrasi cahaya didalam laut, yang meruapakan kedalaman dimana produksi fitoplankton masih dapat berlangsung, bergantung pada beberapa faktor antara lain adsorbs cahaya oleh air, panjang gelombang cahaya, kecerahan air, pemantulan cahaya olehpermukaan laut, lintang geografik dan musim.
Kecerahan
Sinar matahari merupakan energy utama bagi fitoplankton. Daya tembus cahaya dalam air dipengaruhi oleh zat terlarut dan yang tersuspensi seperti adanya bahan organik dan anorganik seperti lumpur dan buangan limbah rumah tangga yang menyebabkan perairan menjadi keruh. Cahaya yang menembus air akan berkurang intensitasnya dan berubah komposisi spektrumnya sesuai dengan kedalaman. Cahaya merah hanya dapat menembus 4 meter, sedangkan cahaya biru dapat menembus sampai 70 meter. Tingkat kecerahan pada lapisan bergantung dari perubahan kualitas spectrum dan penurunan intensitas sewaktu menembus lapisan air, juga  terpengaruh oleh adanya benda-bendayang terdapat di dalam air (Lubis, 2011).  
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar