Sebab-Sebab Perceraian

Terdapat beberapa sebab-sebab perceraian. Menurut Hurlock (1999) ada berbagai kondisi yang mempengaruhi stabilitas perkawinan yang dapat dan sering menjadi sebab terjadinya perceraian. Sebab-sebab tersebut antara lain sebagai berikut
Jumlah Anak
Lebih banyak perceraian terjadi karena pasangan tidak memiliki anak atau hanya mempunyai beberapa anak. 
Kelas Sosial
Kasus meninggalkan keluarga lebih banyak terjadi pada kelompok masyarakat kelas rendah, sedang perceraian banyak terjadi pada kelompok sosial menengah ke atas dan kelompok atas.
Kemiripan Latar Belakang
Perceraian lebih banyak terjadi antara pasangan yang mempunyai latar belakang kebudayaan, suku, bangsa, agama dan sosial ekonomi yang berbeda. Diantara sekian penyebab, perbedaan agama merupakan penyebab utama perceraian.
Saat Menikah
Tingkat perceraian yang sangat tinggi khususnya terjadi pada orang yang menikah terlalu dini atau sebelum mempunyai pekerjaan yang mantap dan ekonominya belum kuat. Ada tiga alasan yang mendukung alasan tersebut. Pertama, orang muda tahu bahwa ia masih bisa kawin lagi; kedua , orang yang buru-buru menikah nampaknya akan menghadapi masalah keuangan sehingga proses penyesuaian perkawinan menjadi sulit; ketga, orang muda sering memiliki konsep perkawinan yang romantis tetapi ruwet sehingga menimbulkan kekecewaan yang tidak dapat dihindarkan.
Alasan Untuk Menikah
Orang yang terpaksa menikah karena pasagan wanitanya telah mengandung kemungkinan untuk bercerai jauh lebih besar daripada pernikahan biasa.
Saat Pasangan Menjadi Orang Tua
Makin pendek jarak interval antara saat menikah dan lahirnya seorang  anak pertama makin tinggi tingkat perceraian. Pasangan yang terlalu cepat menjadi orang tua tidak mempunyai cukup waktu untuk menyesuaikan diri dengan situasi berkeluarga, sehingga menyebabkan penyesuaiannya terhadap kedudukan mereka sebagai orangtua sulit.
Status Ekonomi
Makin rendah status ekonomi keluarga makin besar kemungkinan terjadinya perceraian atau salah satunya meninggalkan keluarga. Pendapat ini berlaku untuk pasangan dalam segala usia.
Model Pasangan sebagai Orang Tua
Keberhasilan dan kegagalan perkawinan selalu ada dalam keluarga.  Anak-anak dari keluarga bahagia, kecil kemungkinannya untuk ditinggal cerai daripada keluarga yang tidak bahagia.
Posisi Umum Masa Kecil Keluarga
Satu-satunya pria dalam keluarga mempunya kemungkinan bercerai sangat besar, sedang satu-satunya wanita dalam keluarga mempunyai kemungkinan bercerai kecil. Hal inidapat mendukung fakta bahwa laki-laki tipe tersebut cenderung merusak, sedang wanita tipe tersebut belajar untuk memahami tanggung jawab. Anak pertama lai-laki juga mau memahami tanggung jawab ketika dia masih muda dan kecil kemungkinannya untuk bercerai. Anak pertama wanita yang biasanya dengan keras ingin menaklukkan adik-adiknya mempunyai tingkat kemungkinan perceraian yang lebih tinggi.
Mempertahankan Identitas
Orang dewasa yang dapat merawat identitasnya setelah menikah dan yang mempunyai kesempatan untuk memperbaharui diri, lebih kecil kemungkinannya untuk bercerai daripada mereka yang kehidupan dirinya sangat dipengaruhi oleh keluarga.
Berbagai kondisi tersebut menyebabkan buruknya penyesuaian perkawinan, tetapi kondisi tersebut bukan penyebab yang sesungguhnya dari perceraian. Bagi orang-orang tertentu yang tidak pandai dalam menyesuaikan diri akan lebih mudah terjadi perceraian.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar