Prinsip Kecerdasan Adversitas

Ada beberapa prinsip kecerdasan adversitas. Merujuk berbagai penelitian terdahulu tentang kesuksesan, menurut Stoltz, AQ dibagi ke dalam 4 komponen utama penentu kecerdasan yang disingkat CORE. Ke empat komponen tersebut merupakan penurunan dari gabungan sifat tahan banting, tempat pengendalian, keuletan, efisiensi diri dan teori atribusi (optimisme). 
Pertama, C=control (kendali) adalah mempertanyakan seberapa jauh seseorang merasa memiliki kendali atas suatu kesulitan yang dialami. Seseorang dengan C tinggi punya keuletan dan tekat yang tidak kenal menyerah dan relatif kebal terhadap ketidakberdayaan. Pendekatan yang dipakai lebih berdaya dan proaktif, teguh dalam niat dan lincah dalam mencari penyelesaian suatu masalah.
Kedua, O = 'origin dan 'ownership (asal usul dan pengakuan), mempertanyakan siapa yang menjadi asal-usul kesulitan serta sampai sejauh mana diakui adanya kesulitan tersebut. Orang dengan AQ rendah, menyalahkan dirinya secara destruktif serta memberi label negatif atas ketidakmampuan dirinya menghadapi kesulitan. Akibatnya, menjadi lumpuh oleh rasa bersalah berlebihan, namun tidak melakukan tindakan apapun. Seseorang dengan O tinggi akan mempertahankan perspektif, melakukan perbaikan terus menerus dan tetap gembira/penyesalan sewajarnya (origin). Dan akan lebih berorientasi pada tindakan untuk meningkatkan tanggung jawab (ownership).
Ketiga, R = reach (jangkauan) adalah mempertanyakan sampai sejauh mana pembiaran suatu kesulitan menjangkau sisi-sisi kehidupan yang lain. Seseorang dengan R tinggi merespon kesulitan sebagai sesuatu yang spesifik dan terbatas. Artinya semakin efektif dalam menahan dan membatasi jangkauan kesulitan sehingga kesulitan tetap berada ditempatnya.
Dan Keempat, E = endurance (daya tahan) mempertanyakan seberapa lama diperkirakan kesulitan akan berlangsung. Seseorang dengan E tinggi merespon kesulitan dan penyebabnya sebagai sesuatu yang bersifat sementara, cepat berlalu dan kecil kemungkinan terjadi lagi. Hal ini akan meningkatkan energi, optimisme, dan kemungkinan untuk berbuat.
Menurut Stoltz,  ada beberapa faktor yang diperlukan untuk mengubah kegagalan menjadi suatu peluang yaitu daya saing, kinerja, pemberdayaan, pembelajaran, harapan, sikap, kesehatan emosional dan fisik, produktivitas, kreativitas, mengambil risiko, ketekunan, belajar, merangkul perubahan, dan keuletan.
Stoltz, mengemukakan bahwa seseorang yang sukses pernah mengalami hambatan yang luar biasa dalam hidupnya, namun mempunyai semacam sikap suka tantangan. Keadaan ini yang terus mengobarkan semangat dalam diri orang tersebut.  AQ merupakan ukuran untuk mengetahui respons seseorang terhadap kesulitan yang berguna untuk memperbaiki efektivitas pribadi dan profesional secara keseluruhan.
Ada tiga tingkat kesulitan yang umum dihadapi manusia yaitu:
  1. Tingkat kesulitan di masyarakat seperti tingkat kejahatan, ekonomi mencemaskan, obat terlarang dll.  
  2. Tingkat kesulitan di tempat kerja, misalnya turunnya kinerja, tuntutan  pemegang saham, rasionalisasi pegawai, pesangon dan PHK dsb.  
  3. Tingkat kesulitan individu, contohnya meningkatnya rasa cemas berlebihan, hilangnya tawa ria, gangguan kesehatan dll.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar