Penyebab Cerebral Palsy

Penyebab Cerebral Palsy (CP) tidak disebabkan oleh satu penyebab. Cerebral palsy merupakan serangkaian penyakit dengan masalah mengatur gerakan, tetapi memiliki penyebab yang berbeda. Untuk mengetahui penyebab CP perlu digali mengenai hal bentuk cerebral palsy, riwayat kesehatan ibu dan anak serta onset penyakitnya.
Sekitar 10-20% di USA anak penderita cerebral palsy disebabkan karena penyakit setelah lahir (prosentase tersebut akan lebih tinggi pada negara-negara yang belum berkembang). CP juga bisa terjadi karena kerusakan otak pada bulan-bulan pertama atau tahun-tahun pertama kehidupan yang merupakan sisa dari infeksi otak, misalnya miningitis, bakteri atau encephalitis virus atau merupakan hasil dari trauma kepala yang sering diakibatkan karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dan penganiayaan anak (Suharso, 2006).
CP kongenital, pada satu sisi lainnya tampak pada saat kelahiran. Pada banyak kasus, penyebab CP kongenital sering tidak diketahui. Diperkirakan terjadi dengan kejadian spesifik pada masa kehamilan atau sekitar kelahiran dimana terjadi kerusakan motorik pada otak yang sedang bekembang (Suharso, 2006).
Beberapa penyebab Cerebral Palsy (CP) kongenital adalah:
Infeksi selama kehamilan
Rubella dapat menginfeksi ibu hamil dan fetus dalam uterus, hal ini akan menyebabkan kerusakan sistem saraf yang sedang berkembang. Infeksi lain yang dapat menyebabkan cedera otak fetus meliputi cytomegalovirus dan toxoplasmosis. Pada saat ini sering dijumpai infeksi meternal lain yang dihubung kan dengan cerebral palsy.
Ikterus neonatorum
Pigmen bilirubin merupakan komponen yang secara normal dijumpai dalam jumlah kecil dalam darah, ini merupakan hasil produksi dari pemecahan eritrosit. Jika banyak eritrosit mengalami kerusakan dalam waktu yang singkat, misalnya dalam keadaan Rh/ABO inkompatibilitas, bilirubin indirek akan meningkat dan menyebabkan ikterus. Ikterus berat dan tidak diterapi dapat merusak sel otak secara permanen.
Kekurangan oksigen berat (hipoksik iskemik) pada otak atau trauma kepala selama proses persalinan
Asphixia sering dijumpai pada bayi-bayi dengan kesulitan persalinan. Asphyxia menyebabkan rendahnya suplai oksigen pada otak bayi pada periode lama, sehingga anak tersebut akan mengalami kerusakan otak yang dikenal hipoksik iskemik encephalopathi. Angka mortalitas meningkat pada kondisi asphyxia berat, tetapi beberapa bayi yang bertahan hidup dapat menjadi cerebral palsy, dimana dapat bersama dengan gangguan mental dan kejang.
Kriteria yang digunakan untuk memastikan hipoksik intrapartum sebagai penyebab cerebral palsy:
  1. Metabolik asidosis pada janin dengan pemeriksaan darah arteri tali pusat janin atau neonatal dini Ph yaitu 7 dan BE yaitu 12 mmol/L. 
  2. Neonatal encephalopathy dini berat sampai sedang pada bayi >34 minggu gestasi. 
  3. Tipe cerebral palsy spastik quadriplegia atau diskinetik. 
  4. Tanda hipoksik pada bayi segera setelah lahir atau selama persalinan. 
  5. Penurunan detak jantung janin cepat, segera dan cepat memburuk segera setelah tanda hipoksik terjadi dimana sebelumnya diketahui dalam batas normal. 
  6. Apger score 0-6=5 menit. Multi sistim tubuh terganggu segera setelah hipoksik. 
  7. Imaging dini abnormalitas cerebral.
Stroke
Kelainan koagulasi pada ibu atau bayi dapat menyebabkan stroke pada fetus atau bayi baru lahir. Pendarahan di otak terjadi pada beberapa kasus. Stroke yang terjadi pada fetus atau bayi baru lahir, akan menyebabkan kerusakan jaringan otak dan menyebabkanbmasalah neurologis.
Selain itu, Terdapat tiga bagian penyebab terjadinya cerebral palsy (Mardiani, 2006):
Sebelum Lahir (pranatal)
Masalah bisa terjadi pada saat pembuahan bergabung dan sebelum bayi dikandung sehingga menghasilkan keadaan yang tidak normal yang berhubungan langsung dengan kerusakan jaringan syaraf.
Adapun faktor-faktor lainnya yaitu:
  1. Ibu menderita penyakit/infeksi. Hal ini merupakan bawaan lahir, gangguan pada bayi mungkin muncul diawal kehamilan yaitu masa-masa penentu bagi pertumbuhan dan pembentukan tubuh janin. Misalnya seorang ibu terserang infeksi rubella, toksoplasma, atau sitomegola yaitu virus yang bisa terjadi diusia kehamilan trimester ketiga. Penyebab lain, ibu menderita penyakit berat seperti tifus, kolera, sifilis, malaria kronis, TBC dan yang lainnya yang dapat mempengaruhi janin. Infeksi-infeksi ini mengganggu perkembangan jaringan otak sehingga menimbulkan kerusakan jaringan otak pada anak. 
  2. Perilaku Ibu. ibu yang mengkonsumsi obat-obatan, merokok, minum-minuman keras, begitu juga dengan ibu yang mengalami depresi dan tekanan darah tinggi. Semua ini bisa merusak janin baik fisik maupun mental. 
  3. Masalah Gizi. Ini berkaitan dengan masalah sosial ekonomi, ibu yang tinggal dengan kondisi ekonomi yang kurang mampu sementara anaknya banyak otomatis asupan gizinya pun akan berkurang. Masalah gizi ini akan terbawa sampai anaknya lahir. Ibu yang menderita kekurangan gizi akan berpengaruh pada pembentukan dan perkembangan otak janinnya (dapat menyebabkan kerusakan jaringan diotak).
Saat lahir (perinatal) 
  1. Terkena infeksi jalan lahir. Ini cukup sering mengakibatkan ketidaknormalan bayi karena terjadi gangguan pada proses persalinan, jalan lahir kotor dan banyak kuman. Jika ibu mempunyai infeksi TORCH, misal, bayi bisa terkena infeksi jalan lahir tersebut. 
  2. Hipoksis Iskemik Ensefalopati/HIE. Saat lahir, bayi dalam keadaan tidak sadar, bahkan tidak menangis dan justru mengalami kejang hingga kekurangan oksigen keotak. Akibatnya jaringan otak rusak. 
  3. Kelahiran yang sulit. Pemakaian alat bantu seperti vakum saat persalinan tidak bermasalah, yang bisa mengganggu bayi adalah lamanya dijalan lahir karena berbagai penyebab, kepala bayi lebih besar dari pinggul ibu atau ada lilitan tali pusat sehing ga tertarik tak mau keluar atau ibu tidak kuat menahannya. 
  4. Asfiksia. Bayi lahir tidak bernafas, bisa karena paru-paru penuh cairan atau karena ibu mendapatkan anestesi (obat bius) terlalu banyak. 
  5. Bayi lahir premature. Termasuk bayi beresiko tinggi mengalami gangguan karena lahir belum waktunya atau kurang dari 32 minggu. Kemungkinan jaringan organ tubuh dan jaringan otaknya belum sempurna. 
  6. Berat lahir rendah. Selain bobotnya rendah, bayi kekurangan nutrisi. Meski lahir cukup bulan tetapi bobotnya kurang dari 2.500 gram, ini bisa terjadi karena ibu kekurangan gizi pada saat hamil. 
  7. Pendarahan otak. Pendarahan dibagian otak dapat mengakibatkan penyumbatan sehingga anak menderita hidrocepalus ataupun microcepalus. Pendarahan juga dapat menekan jaringan otak hingga terjadi kelumpuhan. 
  8. Bayi kuning. Merupakan keadaan bayi mengalami kuning yang berbahaya, misalnya karena kelahiran inkompatibilitas golongan darah yaitu ibu bergolongan darah O sedangkan bayinya A atau B. Selain itu bayi yang mengalami hiperbilirubenimia atau kuning yang tinggi, lebih dari 20 mg/dl hingga bilirubin besarnya melekat di jaringan otak terganggu, oleh sebab itu bayi kuning harus segera mendapatkan penanganan yang tepat pada minggu-minggu pertama kejadian.
Sudah lahir (postnatal)
Biasanya paling rentan terjadi di usis-usia 0-3 tahun. Terdapat penyebab-penyebab antara lain: 
  1. Infeksi pada selaput otak atau pada jaringan otak. Umumnya bayi usia muda sangat rentan dengan penyakit, misalnya tenginggitis dan ensepalitis pada usia setahun pertama. Ada kemungkinan penyakit tersebut menyerang selaput otak bayi sehingga menimbulkan gangguan pada perkembangan otaknya. Bila infeksinya terjadi dibawah tiga tahun umumnya akan mengakibatkan cerebral palsy, sebab pada waktu itu otak sedang dalam perkembangan menuju sempurna. Jadi anak yang terkena infeksi meningitis radang selaput otak diusia 5 tahun dan menjadi lumpuh, iatidak disebut cerebral palsy melainkan komplikasi meningitis. 
  2. Kejang. Dapat terjadi karena bayi terkena penyakit dan suhu tubuhnya tinggi kemudian timbul kejang. Kejang dapat pula karena infeksi yang dialami anak. Kemungkinan lain anak juga bisa menderita epilepsi. 
  3. Karena trauma/ benturan. Bayi yang sering mengalami jatuh dan menimbulkan luka dikepala, apalagi dibagian dalam kepala atau pendarahan diotak dapat menyebabkan kerusakan jaringan otaknya. Kerusakan tergantung dari hebat atau tidaknya benturan. Akibatnya, sebagian kecil jaringan otak rusak. Memang tidak bisa dilihat secara pasti seberapa besar kerusakan otak yang terjadi.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar