Pencegahan Rematik

Perilaku pencegahan rematik adalah upaya memelihara kesehatannya dengan mencegah datangnya penyakit (Wawan dan Dewi, 2010). Caranya dapat dlilakukan dengan Medical activities dan non-medical activities.
Terdapat 2 tingkatan perilaku pencegahan yaitu:
  1. Primary preventive: langsung mencegah penyakit: medical activities (imunisasi), non medical act (minum jamu).
  2. Secondary preventive: tidak langsung mencegah penyakit (mandi, rekreasi). 
  3. Tersier preventif: Pencegahan untuk meminimalkan terjadinya rematik
Pencegahan Primer 
  1. Menjaga  agar  asupan  makanan  selalu  seimbang  sesuai  dengan kebutuhan tubuh,terutama banyak memakan ikan dari laut dalam. Perempuan yang makan paling sedikit 2 saji makanan kaya asam lemak  omega-3  seperti  tuna  dan mackerel  berkemungkinan  lebih kecil  43%  mendapatkan  rematik.  Omega-3  mengatasi  inflamasi dan bahkan dapat mengatasi gen  tertentu yang bisa menyebabkan mengembangkan rematik. Selain  minyak  ikan  atau  untuk penggantinya  makan  sumber omega-3 lainnya seperti walnut, flax, dan suplemen. 
  2. Mengkonsumsi vitamin C. Dalam sebuah studi, orang-orang yang mendapatkan  kurang  dari  56  mg  vitamin  C  per  hari, berkemungkinan  3  kali  lebih  besar  mengembangkan  rematik dibanding  yang mendapatkan  95 mg,  jumlah  dalam  jeruk.  Riset menunjukkan, vitamin C, sejenis antioksidan, terutama kuat dalam menyapu radikal-radikal bebas yang menyebabkan inflamasi.
  3. Hindari  merokok. Merokok  termasuk  salah  satu  resiko  rematik. Merokok  dapat  memicu serangan  pada  sistem  imun  yang menyebabkan  penyakit  ini.  Pada  kenyataannya,  sebuah  studi mengungkapkan, merokok meningkatkan  resiko  sampai  dua  kali lipat mengembangkan rematik.
  4. Menjaga berat badan agar tetap stabil.  Berat  badan,  harus  selalu dikontrol.  Dengan  mengontrol  berat badan,  berarti  telah melakukan  pencegahan  rematik.  Pasalnya, bobot  badan  yang berlebihan  akan membebani  tubuh,  lutut,  dan sendi.  Bagi penderita  rematik, mengurangi  berat  badan  justru dapat mengurangi risiko rematik.
Pencegahan Sekunder 
  1. Hentikan  pemicu. Merokok  termasuk  salah  satu  resiko  rematik. Merokok  dapat  memicu  serangan  pada  sistem  imun  yang menyebabkan  penyakit  ini.  Pada  kenyataannya,  sebuah  studi mengungkapkan, merokok meningkatkan  resiko  sampai  dua  kali lipat mengembangkan rematik.
  2. Tidak  melakukan  olahraga  secara  berlebihan.  Aktivitas  yang dianjurkan  untuk  dihindari  adalah  berjalan  kaki  yang  berjarak jauh,  naik  turun  tangga,  dan  berolahraga yang  memiliki  high impact seperti aerobik.
  3. Konsumsi  banyak  jenis  sayuran, misalnya  jus  seledri,  kubis  atau wortel yang bisa mengurangi gejala rematik.
  4. Beberapa jenis herbal juga bisa membantu melawan nyeri rematik, misalnya  jahe  dan  kunyit,  biji  seledri,  daun  lidah  buaya,  aroma terapi,  atau  minyak  juniper  yang  bisa  menghilangkan  bengkak pada sendi
Pencegahan Tersier 
  1. Olahraga  yang  tepat  adalah  olahraga  yang menitikberatkan  pada kelenturan sendi, kekuatan otot, dan bisa juga latihan di air hangat. Dengan  latihan  dalam  air  yang  disesuaikan  dengan  suhu  tubuh, pasien  tidak  perlu menggigil  dan  bisa  berolahraga  dengan  lebih leluasa.
  2. Pasien  bisa melakukan  senam  rematik  yang  berfungsi mencegah sekaligus  terapi  terhadap gejala rematik. Jika  terapi  tersebut  tidak bisa menghilangkan rasa nyeri, perlu dikombinasikan dengan obat antirematik  khusus karena  itu  bergantung  pada  jenis  rematik pasien.  Setiap  jenis  rematik,  terangnya,  mempunyai  jenis  obat yang  sangat  berbeda.  Bahkan  penggunaan  antibiotik  kepada penderita rematik juga harus berhati-hati.
  3. Mengonsumsi  obat  konvensional  jenis Hormon  Reducement Therapy (HRT)  atau  dengan  cara  tradisional  yaitu mengonsumsi kedelai atau susu kedelai.
  4. Berjemur sinar matahari di bawah pukul 09.00. Ini bisa membantu penyerapan  kalsium  dalam  tubuh  yang  bisa  membantu  fungsi tulang.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar