Metode Terapi Wicara

Menurut Sardjono dalam (Handayani, 2007) Terdapat beberapa metode terapi wicara (speech therapy) yaitu sebagai berikut:
Metode Babbling
Anak diminta mengucapkan bunyi-bunyi secara random (ngoceh). Produksi bunyi-bunyi belum bertujuan hanya melatih keaktifan anak menyesuaikan diri dengan suasana baru dan untuk menyeleksi bunyi yang dihasilkan.
Metode imitasi
Klien menirukan bunyi suku-suku kata yang diucapkan speech therapist. Terapis secara terarah mencari dan meyakinkan huruf-huruf yang diucapkan klien yang kurang sempurna atau salah.
Metode analogi
Klien mengerjakan, mengucapkan bunyi-bunyi, kata-kata dengan didahului oleh bunyi-bunyi yang mudah yang mempunyai dasar bunyi yang sama. Misalnya untuk mengucapkan huruf “d”didahului dengan latihan “b” lebih dahulu.
Metode manipulasi
Memanipulir alat-alat bicara dengan alat (spatel) atau dengan alat lainnya, bisa juga dengan jari untuk “g” dan”k”.
Metode diagram
Metode ini dipakai untuk klien yang cukup umur yaitu dengan jalan menggambar posisi alat-alat bicara. Misalnya posisi bibir, lidah, gigi, aliran udara dan sebagainya.
Metode visual
Klien melihat orang lain mengucapkan huruf-huruf (lip reading) melihat dicermin kemudian menirukannya.
Metode auditif, tactil dan motor kinesthetic 
  1. Metode auditif, mendengarkan orang lain berbicara dan klien harus mengerti atau harus menirukannya. 
  2. Metode tactil, klien untuk mengerti proses fisiologis dalam mengucapkan suatu bunyi harus meraba, merasakan getaran dari setiap huruf. 
  3. Metode motor kinesthetic, klien harus merasakan posisi dan getaran huruf-huruf yang diucapkan.
Program terapi wicara
Menurut Sardjono dalam (Handayani, 2007) Ada beberapa langkah terapi wicara secara umum, yaitu sebagai berikut:
Latihan pre speech meliputi: 
  1. Breating exercise. Latihan menguatkan otot-otot dada, diaphragma dan perut, melatih koordinasi gerak ketiga organ tersebut dalam tata pernafasan yang baik. 
  2. Latihan artikulasi. Melatih gerak dari organ artikulasi seperti gerak lidah, bibir, rahang, velum dan lain-lain. Melatih produk bunyi bahasa dimulai dari produk bunyi bahasa yang paling mudah. “P”,”B”,”M”,”T”,”D”,”N”,”K”,”G,”NG”,”C”,”J”,”NY”,”H”,”S”,”SY,”Y”,”R”,”L”,”KH”, didahului dengan suara vowel yang lebih mudah. 
  3. Latihan bahasa. Melatih menangkap bicara orang lain, mengerti nama-nama benda dan penggunaan bahasa sebagai komunikasi. Bahasa bicara, tulisan dan isyarat. 
  4. Latihan phonasi. Melatih untuk dapat memproduksi suara yang baik dan mengembangkan fungsi dari pita suara.
Langkah-langkah terapi wicara
Latihan terapi wicara
Latihan yang perlu dilakukan dalam terapi wicara (speech therapy) melalui langkah-langkah sebagai berikut:
  1. Membuat kontak dengan pasien. Kontak dengan klien merupakan aktivitas yang pertama kali dilakukan. Keberhasilan kontak dengan klien sangat menentukan sukses tidaknya latihan untuk yang berikutnya. Pertama dalam kontak diawali dengan kontak mata (eye contact). Bagi klien dewasa ini diperlukan keahlian dalam hal kontak ini, dengan mencoba mengetahui apa yang menjadi kesenangan dan apa yang menjadi sesuatu yang dibenci. Bagi anak-anak kontak yang paling mudah adalah dengan alat permainan. 
  2. Dalam observasi ini dilakukan pengamatan yang sungguh-sungguh terhadap beberapa aspek yang perlu diamati sehubungan dengan kelainan gangguan bicara (speech defect) nya.
Keadaan motorik
Keadaan tangan dan kaki, gerak lidah, gerak bibir, motorik halus (fine motorik movement). Juga dilihat motorik bicara dengan pengamatan secara khusus adalah gerakan rahang, lidah, velum, rongga hidung, tata pernafasan dengan melihat fungsi dari rongga dada (thorax), sekat antara dada dan perut juga diamati gerak mulut primer.
  1. Pendengaran. Hasil pemeriksaan pendengaran sangat menentukan latihan terapi wicara, karena pendengaran yang baik berarti suatu modal yang besar bagi seseorang untuk dapat berbicara dengan baik. Untuk itu, klien terlebih dahulu pendengarannya dilihat sebelum dapat menentukan lebih lanjut. Secara gampang pendengaran itu dapat diberikan melalui pengamatan sebagai berikut: Apakah klien mereaksi bila dipanggil namanya? atau apakah memutar kearah bunyi? Mengedipkan mata bila dibuat bunyi yang keras?dan lain sebagainya. 
  2. Keadaan organ bicara. Perlu diamati apakah klien ada kelainan pada organ bibir, kelainan lidah, rahang bawah, kelainan rongga hidung, kelainan pernafasan dan kelainan pada gerak mulut primer. Pengamatan ini terutama dititik beratkan pada ukuran dan bentuk organ tersebut. 
  3. Lateralisasi. Perlu diamati adalah klien yang menggunakan tangan kiri atau tangan kanan, jika sering menggunakan tangan kiri maka dapat ditarik kesimpulan bahwa lateralisasi pada tangan kiri. Hal ini berarti fungsi dari belahan otak kanan (hemisfer sebelah kanan). Begitu pula sebaliknya fungsi otak hemisfer kiri menggerakkan motorik tangan sebelah kanan. Sedangkan bila masih ambidekster maka belum ada lateralisasi pada klien tersebut sehingga masih terjadi kebingungan (confused). Pada perkembangan normal dari anak ternyata lateralisasi terjadi pada usia kurang lebih tiga tahun. 
  4. Bahasa. Dapat mengadakan observasi tentang bahasa pasifnya perbendaharaan katanya kecil atau cukup, sudah menggunakan awalan atau akhiran, berapa panjang kalimat dan cara menyusunnya. 
  5. Kesan tentang inteligensi. Dapat dilihat keadaan inteligensinya apakah termasuk normal atau terdapat kelainan mental. 
  6. Tingkah laku. Tentang tingkah laku yang menonjol, hobby yang disenangi permainan yang disukai dan yang tidak disukai. 
  7. Penglihatan. Untuk tes artikulasi, tes bahasa motorik digunakan daftar fonem yang diurut dari fonem yang paling mudah diucapkan kefonem yang paling sukar. Juga daftar kata-kata yang mengandung semua fonem dalam bahasa Indonesia dalam posisi awal, tengah, ataupun akhir. Sedangkan untuk tes bahasa pasif berisi perintah untuk menunjukkan benda, tugas dengan benda, dan tugas dengan perintah verbal dan dilakukan secara motoris (verbal instruction).
Adnyana,1995 dalam buku Sastra (2011) menjelaskan komponen-komponen fungsional dari cara pengucapan penderita cerebral palsy, mencakup hal-hal sebagai berikut:
  1. Berbicara dilakukan saat menghembuskan nafas ketika pusat pernapasan terletak dibalik otak. 
  2. Fonasi pemberian suara dengan menggetarkan pita-pita suara. Laring digetarkan oleh banyak otot-otot kecil. 
  3. Terjadinya resonasi, yaitu turut bergetarnya udara dalam ruang mulut, tenggorokan, hidung yang digerakkan oleh gerakan pita-pita suara. 
  4. Artikulasi dalam pembentukan fonem-fonem. 
  5. Memiliki prosodi atau melodi kalimat yang tergantung pada variasi-variasi ketinggian suara, kekerasan dan lama fonem-fonem, serta waktu istirahat diantara kata-kata.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar