Alasan Timbulnya Konformitas

Terdapat beberapa alasan timbulnya konformitas. Menurut Deutsch & Gerrald (dalam Sarwono, 2001; Baron & Byrne, 1994:359; Dean, deaux, & Wrightman, 1993 : 195; Watson, DeBortali-Tregerthan, & Frank, 1984: 233; Middlebrook, 1980 : 433; Myers,1996 : 246) menyatakan ada dua penyebab mengapa orang berperilaku conform. Kedua hal ini dapat mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk melakukan konformitas unuk berperilaku sesuai dengan norma sosial yang ada (Baron & Byrne, 1994).
Pengaruh Norma
Beberapa tekanan yang menyebabkan konformitas ini dapat terjadi dari dua konteks berbeda, baik yang berasal dari aturan diucapkan ataupun tidak yang menunjukkan bagaimana kita seharusnya kita berperil aku (Baron & Byrne, 1994).
Seseorang akan mengubah perilakunya ini untuk memenuhi harapan orang lain sehingga dapat lebih diterima oleh orang lain. Contohnya adalah pada pejabat-pejabat yang ingin naik pangkat atau mencari status yang menyetujui saja segala sesuatu yang dikatakan atasannya (Hollaander dalam Sarwono, 2001). Selain itu, seseorang akan melakukan konformitas untuk menghindari penolakan, memperoleh penerimaan, dan keinginan untuk disukai (DeBortali-Tregerthan, & Frank, 1984). Middlebrook (1980) menambahkan bahwa seseorang bisa melakukan konformitas karena malu menjadi berbeda dengan yang lain.
Pengaruh Informasi
Percaya pada orang lain bisa menjadi sumber lain dimana perilaku dan pendapat orang lain menegaskann realitas sosial bagi kita (Baron & Byrne, 1994). Realita yang kita ketahui pada dasarnnya dipengaruhi oleh dua sumber informasi, baik yang berasal dari tanggapan pancaindera secara langsung ataupun apa yang orang lain katakan (Middlebrook, 1980).
Kita bisa melakukan konformitas dari mayoritas suara karena kita merasa bahwa penilaian dari suara mayoritaslah yang paling benar. Hal ini dapat terjadi karena seseorang menganggap informasi yang diberikan orang lain lebih kuat dibandingkan apa yang mereka lihat. Selain itu, adanya bukti-bukti dan informasi-informasi mengenai realitas yang diberikan oleh orang lain yang dapat diterimanya atau tidak dapat dielakkan lagi juga bisa menyebabkan seseorang menjadi konformis (Kotia dalam Sarwono, 2001). Misalnya seorang pengemudi mendengar dari radio mobilnya bahwa jalan yang kebetulan akan dilewati sedang macet total karena kecelakaan. Walaupun pengemudi itu belum tahu sendiri mengenai keadaan jalan itu, karena ia percaya pada penyiar itu iapun membelokkan mobilnya untuk mengikuti jalan alternatif yang dianjurkan oleh penyiar radio itu.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar