Model Evaluasi Pelatihan

Model evaluasi pelatihan digunakan untuk menjawab dua pertanyaan pokok, yaitu: apakah tujuan mengalami perubahan atau tidak dalam criteria?, dan apakah perubahan tersebut dapat dihubungkan dengan program pelatihan atau tidak.
Ada dua strategi untuk menentukan apakah memang terjadi perubahan setelah pelatihan, yaitu membandingkan cara peserta melakukan pekerjaannya setelah pelatihan dengan cara mereka sebelum menjalani pelatihan dan membandingkan pengetahuan, perilaku atau hasil dari kelompok yang terlatih dengan kelompok yang tidak terlatih.
Dalam studi evaluasi banyak ditemukan model-model evaluasi dengan format dan sistematika yang berbeda. Kaufman dan Thomas dalam Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin AJ serta Zaenal Arifin (2009) membedakan model evaluasi menjadi delapan yaitu:
  1. Goal Oriented Evaluation Model, dikembangkan oleh Tyler. 
  2. Goal Free Evaluation Model, dikembangkan oleh Scriven. 
  3. Formative Sumatif Evaluation Model, dikembangkan oleh Michael Scriven. 
  4. Countenence Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake. 
  5. Responsive Evaluation Model, dikembangkan oleh Stake. 
  6. CSE-UCLA Evaluation Model 
  7. CIPP Evaluation Model, yang dikembangkan oleh Stufflebeam. 
  8. Discrepancy Model, yang dikembangkan oleh Provus.
Dari keseluruhan model evaluasi tersebut, beberapa model evaluasi pelatihan akan dijelaskan sebagai berikut:
Evaluasi model CIPP
Konsep evaluasi model CIPP (Context, Input, Process, and Product) merupakan model evaluasi yang dimana proses pelaksanaannya sesuai dengan dimensi sistem pendidikan yang mencakup konteks, input, proses, dan produk.
Nana Sudjana & Ibrahim (2004) menterjemahkan masing-masing dimensi tersebut dengan makna sebagai berikut:
  1. Context: situasi atau latar belakang yang mempengaruhi jenis-jenis tujuan dan strategi pendidikan yang akan dikembangkan dalam sistem yang bersangkutan. 
  2. Input: sarana/modal/bahan dan rencana strategi yang ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. 
  3. Process: pelaksanaan strategi dan penggunaan sarana/bahan/modal di dalam kegiatan nyata di lapangan. 
  4. Product: hasil yang dicapai baik selama maupun pada akhir pengembangan sistem pendidikan yang bersangkutan.
Evaluasi model Brinkerhoff
Robert Brinkerhoff dalam Zaenal Arifin (2009) mengemukakan tiga golongan evaluasi yang disusun berdasarkan penggabungan elemen-elemen yang sama, dalam komposisi dan versi sebagai berikut:
  1. Fixed vs Emergent Evaluation Design. Desain evaluasi yang tetap (fixed) ditentukan dan direncanakan secara sistematik sebelum implementasi dikerjakan. Desain dikembangkan berdasarkan tujuan program disertai seperangkat pertanyaan yang akan dijawab dengan informasi yang akan diperoleh dari sumber-sumber tertentu. Rencana analisis dibuat sebelumnya di mana sipemakai akan menerima informasi seperti yang telah ditentukan dalam tujuan. Walaupun desain fixed ini lebih terstuktur daripada desain emergent, desain fixed juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang mungkin berubah. Kebanyakan evaluasi formal yang dibuat secara individu dibuat berdasarkan desain fixed, karena tujuan program telah ditentukan dengan jelas sebelumnya, dibiayai dan melalui usulan atau proposal evaluasi. 
  2. Formative vs Sumative Evaluation. Evaluasi formatif digunakan untuk memperoleh informasi yang dapat membantu memperbaiki program. Evaluasi formatif dilaksanakan pada saat implementasi program sedang berjalan. Fokus evaluasi berkisar pada kebutuhan yang dirumuskan oleh karyawan atau orang-orang program. Evaluator sering merupakan bagian dari pada program dan kerjasama dengan orang-orang program. Strategi pengumpulan informasi mungkin juga dipakai tetapi penekanan pada usaha memberikan informasi yang berguna secepatnya bagi perbaikan program. Evaluasi sumatif dilaksanakan untuk menilai manfaat suatu program sehingga dari hasil evaluasi akan dapat ditentukan suatu program tertentu akan diteruskan atau dihentikan. Pada evaluasi sumatif difokuskan pada variablevaria bel yang dianggap penting bagi sponsor program maupun fihak pembuat keputusan. Evaluator luar atau tim reviu sering dipakai karena evaluator internal dapat mempunyai kepentingan yang berbeda. waktu pelaksanaan evaluasi sumatif terletak pada akhir implementasi program. Strategi pengumpulan informasi akan memaksimalkan validitas eksternal dan internal yang mungkin dikumpulkan dalam waktu yang cukup lama. 
  3. Experimental and Quasi experimental Design vs Naural/Unotrusive. Beberapa evaluasi memakai metodologi penelitian klasik. Dalam hal seperti ini subyek penelitian diacak, perlakuan diberikan dan pengukuran dampak dilakukan. Tujuan dari penelitian untuk meni lai manfaat suatu program yang dicobakan. Apabila siswa atau program dipilih secara acak, maka generalisasi dibuat pada populasi yang agak lebih luas. Dalam beberapa hal intervensi tidak mungkin dilakukan atau tidak dikehendaki. Apabila proses sudah diperbaiki, evaluator harus melihat dokumen-dokumen, seperti mempelajari nilai tes atau menganalisis penelitian yang dilakukan dan sebagainya. strategi pengumpulan data terutama menggunakan instrument formal seperti tes, suvey, kuesioner serta memakai metode penelitian yang terstandar.
Model Evaluasi Kirkpatrick
Menurut Kirkpatrick dalam www.businessballs.com/Kirkpatricklearningevaluationmodel.htm evaluasi terhadap efektivitas program pelatihan mencakup empat level evaluasi, yaitu: level 1 – Reaction, level 2 –Learning, level 3 – Behavior, level 4 – Result.
  1. Evaluating Reaction. Mengevaluasi terhadap reaksi peserta training berarti mengukur kepuasan peserta (customer satisfaction). Program training dianggap efektif apabila proses training dirasa menyenangkan dan memuaskan bagi peserta training sehingga mereka tertarik termotivasi untuk belajar dan berlatih. Dengan kata lain peserta training akan termotivasi apabila proses training berjalan secara memuaskan bagi peserta yang pada akhirnya akan memunculkan reaksi dari peserta yang menyenangkan. Sebaliknya apabila peserta tidak merasa puas terhadap proses training yang diikutinya maka mereka tidak akan termotivasi untuk mengikuti training lebih lanjut. Dengan demikian dapat dimaknai bahwa keberhasilan proses kegiatan training tidak terlepas dari minat, perhatian dan motivasi peserta training dalam mengikuti jalannya kegiatan training. Orang akan belajar lebih baik manakala mereka memberi reaksi positif terhadap lingkungan belajar. Kepuasan peserta training dapat dikaji dari beberapa aspek, yaitu materi yang diberikan, fasilitas yang tersedia, strategi penyampaian materi yang digunakan oleh instruktur, media pembelajaran yang tersedia, jadwal kegiatan sampai menudan penyajian konsumsi yang disediakan. 
  2. Evaluating Learning. Menurut Kirkpatrick “learning can be defined as the extend to which participans change attitudes, improving knowledge, and/or increase skill asa result of attending the program”. Ada tiga hal yang dapat instruktur ajarkan dalam program training, yaitu pengetahuan, sikap maupun ketrampilan. Peserta training dikatakan telah belajar apabila pada dirinya telah mengalamai perubahan sikap, perbaikan pengetahuan maupun peningkatan ketrampilan. Oleh karena itu untuk mengukur efektivitas program pelatihan maka ketiga aspek tersebut perlu untuk diukur. Tanpa adanya perubahan sikap, peningkatan pengetahuan maupun perbaikan ketrampilan pada peserta training maka program dapat dikatakan gagal. Penilaian evaluating learning ini ada yang menyebut dengan penilaiah hasil (output) belajar. Oleh karena itu dalam pengukuran hasil belajar (learning measurement) berarti penentuan satu atau lebih hal berikut: (a) Pengetahuan apa yang telah dipelajari?, (b) Sikap apa yang telah berubah?, (c) Ketrampilan apa yang telah dikembangkan atau diperbaiki?. 
  3. Evaluating Behavior. Evaluasi pada level ke 3 (evaluasi tingkah laku) ini berbeda dengan evaluasi terhadap sikap pada level ke 2. Penilaian sikap pada evaluasi level 2 difokuskan pada perubahan sikap yang terjadi pada saat kegiatan training dilakukan sehingga lebih bersifat internal, sedangkan penilaian tingkah laku difokuskan pada perubahan tingkah laku setelah peserta kembali ke tempat kerja. Apakah perubahan sikap yang telah terjadi setelah mengikuti training juga akan diimplementasikan setelah peserta kembali ke tempat kerja, sehingga penilaian tingkah laku ini lebih bersifat eksternal. Perubahan perilaku apa yang terjadi di tempat kerja setelah peserta mengikuti program training. Dengan kata lain yang perlu dinilai adalah apakah peserta merasa senang setelah mengikuti training dan kembali ke tempat kerja?. Bagaimana peserta dapat mentrasfer pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperoleh selama training untuk diimplementasikan di tempat kerjanya, karena yang dinilai adalah perubahan perilaku setelah kembali ke tempat kerja maka evaluasi level 3 ini dapat disebut sebagai evaluasi terhadap outcomes dari kegiatan pelatihan. 
  4. Evaluating Result. Evaluasi hasil dalam level ke 4 ini difokuskan pada hasil akhir (final result) yang terjadi karena peserta telah mengikuti suatu program. Termasuk dalam kategori hasil akhir dari suatu program training di antaranya adalah kenaikan produksi, peningkatan kualitas, penurunan biaya, penurunan kuantitas terjadinya kecelakaan kerja, penurunan turnover dan kenaikan keuntungan. Beberapa program mempunyai tujuan meningkatkan moral kerja maupun membangun teamwork yang lebih baik. Dengan kata lain adalah evaluasi terhadap impact program.
Evaluasi model Stake (Model Countenance)
Stake dalam Farida Yusuf Tayibnapis, (2000) menekankan “adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi, yaitu description dan judgement dan membedakan adanya tiga tahap dalam program pelatihan, yaitu antecedent (context), transaction (process ) dan outcomes”.
Stake mengatakan “apabila kita menilai suatu program pelatihan, kita melakukan perbandingan yang relatif antara program dengan program yang lain, atau perbandingan yang absolut yaitu membandingkan suatu program dengan standar tertentu.” Penekanan yang umum atau hal yang penting dalam model ini adalah bahwa evaluator yang membuat penilaian tentang program yang dievaluasi.
Stake mengatakan bahwa “description di satu pihak berbeda dengan judgement di lain fihak”. Dalam model ini antecendent (masukan) transaction (proses) dan outcomes (hasil) data di bandingkan tidak hanya untuk menentukan apakah ada perbedaan antara tujuan dengan keadaan yang sebenarnya, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang absolut untuk menilai manfaat program.
Model Alkin
Marvin Alkin dalam Zaenal Arifin (2009) menjelaskan “evaluasi adalah suatu proses untuk meyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi, memilih informasi yang tepat, dan menganalisis informasi sehingga dapat disusun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternatif”.
Alkin mengemukakan ada lima jenis evaluasi, yaitu:
  1. Sistem assessment, yaitu untuk memberikan informasi tentang keadaan atau posisi dari suatu sistem. 
  2. Program planning, yaitu untuk membantu pemilihan program tertentu yang mungkin akan berhasil memenuhi kebutuhan program. 
  3. Program implementation, yaitu untuk menyiapkan informasi apakah suatu program sudah diperkenalkan kepada kelompok tertentu yang tepat sebagaimana yang direncanakan. 
  4. Program improvment, yaitu memberikan informasi tentang bagaimana suatu program dapat berfungsi, bekerja atau berjalan. 
  5. Program certification, yaitu memberikan informasi tentang nilai atau manfaat suatu program.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar