Sifat-sifat Seorang Pemimpin

Sifat-sifat seorang pemimpin sangat mempengaruhi efektivitas sebuah organisasi. Menurut Gorda (2006) terdapat empat implikasi penting yang harus dipahami dan dimengerti oleh seorang pimpinan yaitu:
  1. Kepemimpinan menyangkut orang lain dalam hal  ini pegawai  yang menjadi  bawahannya 
  2. Kepemimpinan menyangkut kemampuan dan kecerdasan seseorang untuk menumbuhkan kerjasama, komitmen, dan kesetiaan pegawai sehingga  mereka bekerja dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan terlebih dahulu 
  3. Kepemimpinan menyangkut kemampuan dan kecerdasan untuk mengadakan pembagian tugas dan tanggung jawab serta keberanian melimpahkan wewenang kepada orang lain 
  4. Kepemimpinan menyangkut masalah pencapaian tujuan (tujuan individual, kelompok, organisasional, dan tujuan kemasyarakatan).
Miljus (Martoyo, 2007) mengatakan bahwa tanggung jawab para pemimpin adalah sebagai berikut:
  1. Menentukan tujuan pelaksanaan kerja realistis (dalam arti kuantitas, kualitas, keamanan). 
  2. Melengkapi para pegawai dengan sumber dana yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. 
  3. Mengkomunikasikan pada para pegawai tentang apa yang diharapkan dari mereka. 
  4. Memberikan susunan hadiah yang sepadan untuk mendorong prestasi. 
  5. Mendelegasikan wewenang apabila diperlukan dan mengundang partisipasi apabila memungkinkan. 
  6. Menghilangkan hambatan untuk pelaksanaan pekerjaan yang efektif. 
  7. Menilai pelaksanaan pekerjaan dan mengkomunikasikan hasilnya. 
  8. Menunjukkan perhatian kepada pegawai.
Seirama dengan perlu dan sangat pentingnya human relation dalam kepemimpinan suatu organisasi, menurut Terry (Martoyo, 2007) seorang pemimpin harus memiliki sifat-sifat di bawah ini yaitu:
  1. Penuh energi (energic), untuk tercapainya kepemimpinan yang baik diperlukan energi yang baik pula, jasmani maupun rohani. Seorang pemimpin harus sanggup bekerja dalam jangka panjang dan dalam waktu yang tidak tentu, sewaktu-waktu dibutuhkan tenaganya, ia harus sanggup melaksanakannya, mengingat kedudukan dan fungsinya. 
  2. Memiliki stabilitas emosi, seorang pemimpin yang efektif harus melepaskan diri dari kecurigaan atau apriori terhadap bawahannya dan tidak boleh cepat naik pitam, ia harus tegas, konsekuen dan konsisten dalam tindakan-tindakannya, percaya diri dan memiliki jiwa sosial terhadap bawahannya. 
  3. Memiliki kemampuan tentang hubungan antar manusia, mengingat tugas yang penting dari seorang pemimpin adalah memimpin dan memajukan bawahannya, maka seorang pemimpin harus mengetahui benar tentang sifat-sifat orang, bagaimana mereka mengadakan reaksi terhadap sesuatu tindakan atau situasi yang bermacam-macam. 
  4. Motivasi pribadi, keinginan untuk dapat memimpin harus datang dari dorongan batinnya sendiri, bukan dari luar dirinya. Kekuatan dari luar hanya menstimulir saja terhadap keinginan-keinginan untuk menjadi pemimpin. Hal ini tercermin dalam keteguhan pendiriannya, kemauan yang keras dalam bekerja, kegembiraan (antusiasme) dalam bekerja, tidak ada sesuatu yang besar dapat dicapai tanpa adanya kegembiraan dalam bekerja. 
  5. Kemahiran mengadakan komunikasi, seorang pemimpin harus cakap dalam mengutarakan gagasan baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini sangat penting bagi pemimpin untuk dapat mendorong maju bawahan, memberikan atau menerima informasi bagi kemajuan organisasi dan kepentingan bersama. 
  6. Kecakapan mengajar, mengajar adalah jalan yang terbaik untuk memajukan orang-orang ataupun menyadarkan orang-orang atas pentingnya tugas-tugas yang dibebankan. Pemimpin harus mampu memberikan petunjuk-petunjuk mengoreksi kesalahan-kesalahan yang terjadi, mengajukan saran-saran maupun menerima saran-saran. 
  7. Kecakapan sosial, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan bekerja sama dengan orang lain dengan berbagai ragam sifatnya, harus pandai mengadakan pendekatan terhadap orang-orang dan menghargai pendapat orang lain. 
  8. Kemampuan teknis, meskipun dikatakan bahwa makin tinggi tingkat kepemimpinan seseorang, makin kurang diperlukan kemampuan teknis, namun masih diperlukan karena akan lebih mudah mengadakan koreksi bila terjadi suatu kesalahan pelaksanaan tugas dari bawahannya.
Menurut Sri Budi (2005) seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Watak dan kepribadian terpuji. Agar para bawahan maupun orang yang  berada di luar organisasi mempercayainya, seorang pemimpin harus mempunyai watak dan kepribadian yang tinggi. 
  2. Keinginan melayani bawahan. Seseorang pemimpin harus percaya pada bawahan. Ia mendengarkan pendapat mereka dan berkeinginan membantu mereka. 
  3. Memahami kondisi lingkungan. Seorang pemimpin tidak hanya menyadari tentang apa yang terjadi disekitarnya, tetapi juga harus memiliki pengertian yang memadai, sehingga dapat mengevaluasi perbedaan kondisi organisasi dan para bawahannya. 
  4. Integrasi yang tinggi. Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan berfikir pada taraf yang tinggi. Ia harus dituntut untuk mampu menganalisa masalah dengan efektif, belajar dengan cepat, dan memiliki minat yang tinggi untuk mendalami dan menggali ilmu. 
  5. Berorientasi ke depan. Seorang pemimpin harus memiliki intuisi, kemampuan memprediksi, dan visi sehingga mengetahui organisasi yang dikelolanya. 
  6. Sikap  terbuka  dan  tegas.  Pemimpin  harus  sanggup mempertimbangkan fakta-fakta dan inovasi baru. Luas namun konsisten pendiriannya.
Menurut Gorda (2006) fungsi utama kepemimpinan dalam hubungannya dengan peningkatan aktivitas dan efisiensi perusahaan sebagai pembaharu (inovator), mensosialisasikan berbagai ide, gagasan, rencana dan program kerja perusahaan (comunicator), mendorong pegawai untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara ikhlas untuk mencapai tujuan perusahaan, membina, mendorong pegawai agar tetap memberikan sumbangan optimal kepada pencapaian tujuan organisasi (motivator) dan mengawasi atau mengendalikan berbagai aktivitas perusahaan ke arah efisiensi dan efektivitas (controller).  Setiap organisasi membutuhkan seorang pimpinan yang mampu memberi teladan yang baik, dimana pada dirinya terpendam sifat pandai menjunjung martabat diri dan harga diri, namun tidak angkuh, sombong dan menganggap diri paling super dalam segala hal. Dia dihormati oleh lingkungannya, namun dia juga menghormati sesama dan para pengikutnya, karena dia selalu pandai dalam bertimbang rasa, bersikap rendah hati, selalu terbuka (Martoyo, 2007).  
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar