Pola Hidup Sehat Lansia

Pola hidup lansia sangat mempengaruhi penampilan untuk menjadi awet muda dan panjang umur atau sebaliknya. Mengatur pola makan setelah berusia 40 tahun keatas, sangatlah penting. Asupan gizi seimbang sangat diperlukan tubuh jika ingin awet muda dan berusia lanjut dalam keadaan tetap sehat. Tidak dapat disangkal, banyak kendala yang dihadapi manusia saat memasuki pertambahan usia dan mulai menua. Terutama bila sejak muda tidak menerapakan pola hidup sehat atau sudah terserang beragam penyakit seperti stroke, hipertensi, jantung, dan sebagainya. Bahkan ketajaman penglihatan manusia sudah berkurang sejak berusia 40 tahun. Kemampuan tersebut berkurang terutama untuk melihat jarak dekat sehingga memerlukan kaca mata berlensa cembung. Keadaan ini tidak dapat dihindari, namun mudah diatasi dengan  menggunakan kacamata. Penyebabnya bisa bermacam-macam namun lebih sering karena ketuaan itu sendiri dan akibat hipertensi (Hanata, 2010). 
Masa tua bagi sebagian masyarakat adalah masa-masa yang menakutkan oleh karena itu berbagai upaya dilaukan untuk menyiapkan investasi kesehatan diusia tua. Penuaan adalah sebuah proses alami. Setiap orang akan mengalami fase yang mengarah kepada penuaan. Seseorang dianggap berhasil menjalani proses penuaan jika dapat terhindar dari berbagai penyakit, organ tubuhnya dapat berfungsi dengan baik, serta kemampuan berfikirnya atau kognitif masih tajam. Para lansia yang berhasil mempertahankan fungsi gerak dan berfikirnya dianggap berhasil menghadapi penuaan sehingga dapat bekerja aktif terutama disektor informal. Mereka biasanya dapat berbagi pengalaman dan telah mencapai tahap perkembangan psikologis dimana mereka dianggap bijaksana menyikapi kehidupan dan mendalami kehidupan spiritual (Gunawan, 2001).
Agar tetap aktif sampai tua, sejak muda seseorang perlu melakukan mempertahankan kemudian pola hidup sehat dengan menkonsumsi makanan yang bergizi seimbang, melakukan aktifitas fisik atau olahraga secara benar dan teratur dan tidak merokok. Rencana hidup yang realistis seharusnya sudah dirancang jauh sebelum memasuki masa lanjut usia, paling tidak individu sudah punya bayangan aktivitas apa yang akan dilakukan kelak bila pensiun sesuia dengan kemampuan dan minatnya. Berdasarkan prinsip tersebut maka lanjut usia merupakan usia yang penuh kemandirian baik dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari, bekerja maupun berolahraga. Dengan menjaga kesehatan fisik, mental, spiritual, ekonomi, dan social, seseorang dapat memilih masa tua yang lebih membahagiakan, terhindar dari banyak masalah kesehatan (Nugroho, 2000).
Pola hidup dan pola makanan juga bisa mempengaruhi terjadinya proses penuaan. Misalnya pola makanan yang tidak seimbang antara asupan dengan kebutuhan baik jumlah maupuin jenis makanannya, seperti makan makanan tinggi lemak, kurang mengkonsumsi sayuran dan buah dan sebagainya. Selain itu, makanan yang melebihi kebutuhan tubuh yang bisa menyebabkan obesitas atau kegemukan. Pola hidup juga bisa mempengaruhi hal tersebut terutama kurangnya aktifitas fisik. Akibatnya, timbul penyakit yang sering diderita antara lain diabetes militus atau kencing manis, penyakit jantung, hipertensi, kanker atau keganasan dan lain-lain. Jika sudah terjadi penyakit tersebut harus diterapi dan selanjutnya harus menerapkan pola hidup maupun pola makan yang benar, sehingga kerusakan yang terjadi tidak menjadi lebih berat (Muhammadun, 2009). 
Menginjak usia 40 tahun keatas, tidak perlu menghindari pada satu jenis makanan tertentu. Sepanjang orang tersebut dalm keadaan sehat atau tidak menderita suatu penyakit, tidak perlu menghindari terhadap jenis makanan tertentu. Terpenting adalah selalu menerapakan pola hidup maupun pola makan yang sehat.
Menurut Hanata (2010), faktor-faktor penting yang mempengaruhi pola hidup sehat pada Lansia antara lain:
Faktor Makanan
Usia tua sudah di mulai pada umur 40 tahun, karena perkembangan fisik akan menurun, tapi perkembangan mental terus berlangsung. Mulai saat itulah kita harus bisa menahan diri untuk tidak mengkonsumsi makanan yang hanya di sukai dan yang memberi kepuasan, karena enak di mulut. Tapi memikirkan akibatnya dalam tubuh, karena bukan lagi kesehatan jadi baik, tapi sudah membuat penyakit di tubuh kita. Bagi lansia sebaiknya mengkonsumsi makanan seperti sayuran segar yang di cuci bersih dengan pestisida, buah segar, tahu, tempe yang berprotein tinggi. Terutama hati yang banyak mengandung gizi seperti kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B1, B2, B12 dan vitamin C.
Faktor Istirahat
Istirahat yang cukup sangat di butuhkan dalam tubuh kita. Orang lansia harus tidur lima sampai enam jam sehari. Banyak orang kurang tidur jadi lemas, tidak ada semangat, lekas marah, dan stress. Bila kita kurang tidur hendaknya di isi dengan ekstra makan. Dan bila tidur terganggu perlu konsultasi ke dokter. Hobi untuk menonton televise boleh saja, tapi jangan sampai larut malam.
Faktor Olahraga
Olahraga yang teratur apapun itu, baik untuk kesehatan kita seperti senam, berenang, jalan kaki, yoga, waitangkung, taichi, dan lain-lain. Berolahraga bersama orang lain lebih menguntungkan, karena dapat bersosialisasi, berjumpa dengan teman- teman, dan mendapat kenalan baru, mengadakan kegiatan lainnya, seperti bisa berwisata dan makan bersama. Kebanyakan olahraga dilakukan pada pagi hari setelah subuh. Dimana udara masih bersih. Berolahraga dapat menurunkan kecemasan dan mengurangi perasaan depresi dan lowself esteem. Selain fisik sehat jiwa juga terisi, membuat kita merasa muda dan sehat di usia tua.   
Faktor Perilaku
Pengertian Perilaku
Pengertian perilaku dibatasi sebagai keadaan jiwa (berpendapat, berfikir, bersikap dan sebagainya) untuk memberikan responsi terhadap situasi di luar subyek tersebut, yang bersifat pasif (tanpa tindakan) dan dapat juga bersifat aktif (dengan tindakan dan action) (Notoatmodjo, 2003).
Sebelum seseorang menghadapi perilaku baru dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan sebagai berikut: Awareness Yaitu orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (obyek), Interest Yaitu orang mulai tertarik terhadap stimulus, Evaluation Yaitu menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya, Trial Yaitu orang telah mencoba perilaku baru, Adaption Yaitu orang mulai berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (Notoadmojo,2003).
Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu reaksi seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Respon atau reaksi manusia dapat bersifat pasif (pengetahuan, persepsi dan sikap) serta dapat bersifat aktif (tindakan yang nyata).
Menurut Budioro (2000), perilaku kesehatan mencakup:
  1. Perilaku seseorang terhadap sakit atau penyakit. Yaitu bagaimana manusia berespon baik secara pasif maupun aktif yang dilakukan sehubungan dengan sakit atau penyakit tersebut. Perilaku terhadap sakit atau penyakit sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit yang meliputi : (a) Perilaku sehubungan dengan peningkatan kesehatan (health promotion behavior), misalnya makanan bergizi, olah raga, dan sebagainya. (b) Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior) (c) Perilaku sehubungan dengan pencarian pertolongan pengobatan (health seeking behavior), yaitu perilaku untuk melakukan atau mencari pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan. (d) Perilaku sehubungan dengan pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior), yaitu perilaku yang berhubungan dengan pemulihan kesehatan setelah sembuh dari suatu penyakit. 
  2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan. Merupakan respon seseorang terhadap sistem pelayanan kesehatan baik terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan, petugas kesehatan dan obat-obatan yang terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap, penggunaan fasilitas, petugas dan obat-obatan 
  3. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior). Perilaku ini meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makna serta unsur yang terkandung di dalamnya, pengolahan makanan dan sehubungan dengan kebutuhan. 
  4. Perilaku terhadap lingkungan (environmental health behavior). Merupakan respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan manusia. Dalam perkembangannya untuk kepentingan pengukuran hasil pendidikan, maka domain tersebut diatas dibedakan menjadi pengetahuan (knowledge), sikap (attitude), dan praktek/tindakan (practice/action).
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
Notoadmodjo (2003), mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan.  Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu faktor perilaku (Behavior causes) dan faktor diluar perilaku (Non behavior causes).
Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu:
  1. Faktor predisposisi (predisposing factor). Yaitu faktor yang mempermudah terjadinya perilaku yang berasal dari dalam diri individu meliputi karakteristik responden, pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai masyarakat. 
  2. Faktor pendukung (Enabling factor). Yaitu faktor yang memungkinkan perilaku meliputi ketersediaan sarana kesehatan, ketercapaian sarana, ketrampilan yang berkaitan dengan kesehatan. 
  3. Faktor pendorong (Renforcing factor). Yaitu faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya suatu perilaku meliputi sikap dan praktek petugas kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan, sikap dan praktek petugas lain (tokoh masyarakat, tokoh agama, keluarga dan guru) (Green, 1995).
Perubahan perilaku
Perubahan perilaku merupakan salah satu hasil yang diharapkan dari suatu pendidikan kesehatan, yaitu dari perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kesehatan menjadi perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Dan perubahan tersebut biasanya dimulai dari tahap kepatuhan, identifikasi, selanjutnya tahap internalisasi (Budioro, 2000).
WHO (2003), menyatakan bahwa perubahan perilaku dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu
  1. Perubahan alamiah (natural change), disebabkan oleh kejadian alamiah di masyarakat jika masyarakat sekitarnya terjadi suatu perubahan lingkungan fisik atau sosial budaya dan ekonomi, maka anggota masyarakat di dalamnya juga akan mengalami perubahan. 
  2. Perubahan terencana (planned change), yaitu perubahan perilaku yang terjadi karena memang sudah direncanakan sendiri oleh subyek. 
  3. Kesediaan untuk berubah (readdiness to change), disebabkan oleh terjadinya suatu inovasi atau program pembangunan di dalam masyarakat sehingga yang sering terjadi adalah adanya sebagian orang yang sangat cepat untuk menerima perubahan dan sebagian lain sangat lambat untuk menerima perubahan. Hal ini disebabkan oleh karena setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda.
Cara mengukur indikator perilaku
Cara mengukur indikator perilaku atau memperoleh data atau informasi tentang indikator-indikator perilaku tersebut, untuk pengetahuan, sikap, dan praktik agak berbeda. Untuk memperoleh data tentang pengetahuan dan sikap cukup dilakukan melalui wawancara, baik wawancara terstruktur, maupun wawancara mendalam, dan focus group discussion (FGD) khusus untuk penelitian kualitatif. Sedangkan untuk memperoleh data praktik atau perilaku yang paling akurat adalah melalui pengamatan (observasi). Namun dapat juga dilakukan melalui wawancara dengan pendekatan recall atau mengingat kembali perilaku yang telah dilakukan oleh responden beberapa waktu yang lalu (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Arikunto (2006), tingkatan perilaku dapat dikategorikan berdasakan nilai sebagai berikut:
  1. Perilaku baik, bila jawaban benar > 75% (20 – 25 )  
  2. Perilaku cukup, bila jawaban benar 65-75% (16 – 19) 
  3. Perilaku kurang, bila jawaban benar <60% (0 – 15)
Perilaku yang dianjurkan pada lansia 
  1. Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
  2. Mau menerima keadaan, sabar, dan optimis serta meningkat rasa percaya diri dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan. 
  3. Menjalin hubungan yang teratur dengan keluarga dan sesama. 
  4. Olahraga ringan tiap hari. 
  5. Makan sedikit tapi sering, dan pilih makanan yang sesuai serta banyak minum. 
  6. Berhenti merokok dan minum minuman keras. 
  7. Minum obat sesuai dengan anjuran dokter/ petugas kesehatan yang lain. 
  8. Mengembangkan hobi sesuai kemampuan. 
  9. Tetap memelihara dan bergairah dalam kehidupan sex. 
  10. Memeriksakan kesehatan dan gigi secara teratur.
Perilaku yang kurang dianjurkan pada lansia 
  1. Kurang berserah diri. 
  2. Pemarah, merasa tidak puas, murung, dan putus asa. 
  3. Menyendiri. 
  4. Kurang gerak. 
  5. Makan yang tidak teratur dan kurang tidur. 
  6. Melanjutkan kebiasaan merokok dan minum minuman keras. 
  7. Minum obat penenang dan penghilang rasa sakit tanpa aturan. 
  8. Melakukan kegiatan yang melebihi kemampuan. 
  9. Menganggap kehidupan sex tidak diperlukan lagi dimasa tua. 
  10. Tidak memeriksakan kesehatan dan gigi secara teratur.
Diantara manfaat yang bisa didapat dengan menerapkan pola hidup sehat pada usia Lansia adalah hidup akan menjadi lebih taqwa dan tenang, tetap ceria dan mengisi waktu luang, keberadaannya tetap diakui keluarga dan masyarakat, kesegaran dan kebugaran tubuh tetap terpelihara, terhindar dari kegemukan/ kekurusan dan penyakit yang berbahaya di masa tua, penyakit jantung, hipertensi, paru-paru, dan kanker paru- paru dapat dicegah, mencegah keracunan obat dan efek ssamping lainnya, mengurang stress, kecemasan dan membuat merasa awet muda, hubungan harmonis tetap terpelihara, gangguan kesehatan dapat diketahui dan diatasi sesegera mungkin.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar