Pengukuran Iklim Sekolah

Banyak peneliti telah mengembangkan pengukuran iklim sekolah. Pengukuran tersebut mempertimbangkan banyak faktor dan individu yang ada di dalam sekolah dengan menggunakan pengukuran langsung, seperti dengan survey dan interview, serta pengukuran secara tidak langsung seperti dengan catatan kehadiran dan disiplin (Freiberg dalam Marshal 2002).
Penelitian yang dilakukan oleh Haynes, Emmons & Comer (Marshal 2002) telah melakukan School Climate Survey dengan menggunakan tujuh dimensi iklim sekolah yang secara spesifik mengukur persepsi siswa terhadap ke tujuh dimensi sebagai berikut:
  1. Achievement motivation (motivasi berprestasi). 
  2. Fairnes (keadilan). 
  3. Order and discipline (tata tertib dan disiplin). 
  4. Parent involvement (keterlibatan orang tua siswa). 
  5. Sharing of resources (pembagian sumber daya). 
  6. Student interpersonal relationship (hubungan interpersonal siswa). 
  7. Student-teacher relationship (hubungan antara guru dengan siswa).
Selain itu, ada pula penelitian yang dilakukan oleh The Charles F Kettering Ltd. (CFK) School Climate Profile yang secara mendalam mengukur iklim sekolah. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Johnson et al, Johnson & Johnson (Marshall, 2002) tersebut diteliti faktor iklim pada umumnya yang meliputi: 
  1. Respect (respek/rasa hormat) 
  2. Trust (kepercayaan) 
  3. High morale (moral yang tinggi) 
  4. Opportunity for input (peluang untuk mendapatkan input) 
  5. Continuous academic & social growth (pertumbuhan akademik dan sosial secara berkesinambungan) 
  6. Cohesiveness (keterpaduan/kepaduan) 
  7. School renewal (pembaharuan sekolah) 
  8. Caring (kepedulian)
Sementara itu, dalam pengukuran iklim sekolah yang dilakukan oleh Wayne K Hoy dan Cecil G Miskel (1982) dengan menggunakan OCDQ (Organization Climate Description Questionaire) dengan berdasarkan pada dimensi sebagai berikut:
Karakteristik perilaku staf pengajar (characteristics of faculty behavior) 
  1. Hindrance yaitu perasaan guru bahwa kepala sekolah membebani mereka dengan kewajiban rutin, komite kerja, dan keperluankeperluan lain yang dianggap oleh guru sebagai sesuatu yang tidak diperlukan. 
  2. Intimacy yaitu guru merasa menikmati kehangatan dan persahabatan secara personal antara satu guru dengan guru yang lain. 
  3. Disengangement, yaitu para guru cenderung pura-pura berbuat tanpa komitmen nyata atas tugas yang ada. 
  4. Esprit, yaitu peningkatan semangat untuk peka untuk menunaikan tugas dan pemenuhan kepuasan kebutuhan sosial.
Karakteristik perilaku kepala sekolah (characteristic of principal behavior) 
  1. Production emphasize, yaitu perilaku supervisi yang tertutup yang dilakukan oleh kepala sekolah. Kepala sekolah memberikan instruksi yang tinggi dan tidak sensitif terhadap umpan balik dari staf pengajar. 
  2. Aloofness, yaitu perilaku formal dan impersonal; kepala sekolah berjalan dengan buku dan menjaga jarak dengan stafnya. 
  3. Trust, yaitu dinamika perilaku kepala sekolah yang berupaya menggerakkan organisasi yang dilakukan dengan contoh yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk dilakukan oleh para guru.
Pengukuran iklim organisasi lainnya dikembangkan oleh Rensis Likert (Wayne K Hoy dan Cecil G Miskel, 1982) dengan berdasarkan pada tipe sistem kontinum karakteristik suatu organisasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Rensis Likert mengukur iklim organisasi dengan delapan karakteritik, yaitu:
  1. Leadership processes 
  2. Motivational force 
  3. Communicational process 
  4. Interaction-influence process 
  5. Decision making process 
  6. Goal setting 
  7. Control processes 
  8. Performance goal and training.
Dalam penelitian ini, iklim sekolah diukur dengan indikator-indikator sebagai berikut:
  1. Kolegialitas 
  2. Kolaboratif 
  3. Respect 
  4. Trust 
  5. High morale 
  6. Opportunity for input 
  7. Continuous academic & social growth 
  8. Cohesiveness 
  9. School renewal 
  10. Caring
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar