Macam-Macam Metode Pengajaran

Terdapat beberapa metode-metode pengajaran. Guru perlu memilih metode pembelajaran yang cocok untuk strategi pembelajaran yang diterapkan menurut caranya sendiri. Pemilihan strategi pembelajaran dalam rangka membelajarkan siswa harus dibangun atas dasar asumsi bahwa tidak ada syupun metode ataupun namanya yang dapat digunaklan dengan baik untuk semua bahan kajian. Semua metode memiliki keunggulan dan kekurangan. Metode tertentu hanya baik untuk mencapai tujuan tertentu (spesifik), sementara metode yang lainnya baik digunakan untuk mencapai tujaun yang lain.
Berikut adalah beberapa metode pembelajaran yang inovatif.
Metode Quantum
Menurut DePorter (Suyatno, 2009) metode pembelajaran quantum (Quantum Learning and Teaching) dimulai di Super Camp, sebuah program percepatan berupa Quantum Learning yang ditawarkan Learning Forum, yaitu perusahaan pendidikan internasional yang menekankan perkembangan keterampilan akademis dan keterampilan pribadi.
Metode Quantum diciptakan berdasarkan teori pendidikan seperti Accelerated Learning (Lazanov), Multiple Inteligences (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder dan Bandler), Experiental Learning (Hahn), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson and Johnson), dan Element of Effective Instruction (Hunter).
Pada tahun 1940-an Freire sudah memaparkan konsep pendidikan seperti itu. Kemudian pada tahun 1954, George Lazanov, seorang psikolog, melalui penelitian bahasa menemukan bahwa belajar menghitung dengan metode Lazanov dapat menjadi seratus kali lebih cepat jika dibandingkan dengan hitungan biasa. Metode Lazanov dinamakan pendekatan Sugestopedia karena memanfaatkan sugestif dalam pembelajarannya. Kemudian Bobby DePorter (1992) mengembangkan konsep sugestopedia melalui berbagai penelitian sehingga menyodorkan konsep Quantum Learning (QL).
Dalam metode QL, yang dipentingkan adalah pemercepatan belajar, fasilitasi, dan konteks dengan prinsip segalanya berbicara, segalanya bertujuan, pengalaman sebelum menemukan, akui setiap usaha pembelajar, dan jika layak dipelajari berarti layak untuk dirayakan. QL mengutamakan konteks dan isi. Konteks tersebut berisi tentang: (1) suasana yang memberdayakan, (2) landasan yang kukuh, (3) lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Adapun isi terdiri atas (1) penyajian yang prima, (2) fasilitas yang luwes, (3) keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
Metode kuantum mencakup petunjuk spesifik untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, merancang kurikulum, menyampaikan isi, dan memudahkan proses balajar. Metode kuantum adalah perubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan sekitar momen belajar dengan menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pangajaran yang sesuai, cara efektif pembelajaran, dan keterlibatan aktif siswa dan guru. Asas yang digunakan adalah “Bawalah dunia mereka ke dunia kita dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.
Ada lima prinsip yang mempengaruhi seluruh aspek metode kuantum. Prinsip tersebut adalah:
  1. Segalanya berbicara 
  2. Segalanya bertujuan 
  3. Pengalaman sebelum pemberian nama 
  4. Akui setiap usaha 
  5. Jika layak dipelajari, layak pula dirayakan.
Konteks dan isi sangat mendominasi dalam pelaksanaan pembenlajaran kuanttum. Konteks adalah latar untuk pengalaman pembelajaran. Konteks dianggap sebagai suasana yang mampu memberdayakan, landasan yang kukuh, lingkungan yang mendukung, dan rancangan belajar yang dinamis. Adapun isi berkaitan dengan penyajian yang prima, fasilitas yang luwes, keterampilan belajar untuk belajar, dan keterampilan hidup.
Menurut Suyatno (2009), oleh metode kuantum, siswa dianggap sebagai pusat keberhasilan belajar.
Saran-saran yang di kemukakan dalam membangun hubungan dengan siswa adalah: 
  1. Perlakukan siswa sebagai manusia yang sederajat. 
  2. Ketahuilah apa yang disukai siswa, cara pikir mereka, dan perasaan mereka. 
  3. Bayangkan apa yang mereka katakan kepada diri sendiri dan mengenai diri sendiri. 
  4. Ketauhilah apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang benar- benar mereka inginkan jika guru tidak tahu tanyakanlah kepada siswa. 
  5. Berbicaralah dengan jujur kepada mereka dengan cara yang membuat mreka mendengarnya dengan jelas dan halus. 
  6. Bersenang-bersenanglah kepada mereka.
Metode Parsitipatori
Metode pembejaran parsitipatori lebih mnekankan keterelibatan siswa secara penuh. Siswa dianggap sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa didudukan sebagai subjek belajar. Dengan berpartisipasi aktif, siswa dapat menemukan hasil belajar. Guru hanya bersifat sebagai pemandu atau fasilitator (Suyatno, 2009).
Berkaitan dengan penyikapan guru kepada siswa, partisipatori beranggapan bahwa:
  1. Setiap siswa adalah unik. Setiap siswa mempunyai kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, proses penyeragaman dan penyemarataan akan membunuh keunikan tersebut. Keunikan harus diberi tempat dan dicarikan peluang agar lebih berkembang. 
  2. Anak buakn orng dewasa dalam bentuk kecil. Jalan pikir anak tidak selalu sama dengan cara pikir orang dewasa. Orang dewasa harus dapat menyelami cara merasa dan berpikir anak-anak. 
  3. Dunia anak adalah dunia bermain. 
  4. Usia anak adalah usai yang paling kreatif dalam hidup manusia.
Dalam metode partisipatori, siswa aktif, dinamis, dan berlaku sebagai objek. Namun bukan berarti guru harus pasif, tetapi guru juga aktif dalam memfasilitasi belajar siswa dengan suara, gambar, tulisan dinding, dan sebagainya. Guru berperan sebagai pemandu yang penuh motivasi, pandai berperan sebagai mediator, dan kreatif. Konteks siswa menjadi tumpuan utama.
Metode partisipatori mempunyai ciri-ciri pokok:
  1. Belajar dari rellitas dan pengalaman 
  2. Tidak menggurui 
  3. Dialogis.
Kemudian, panduan system prosesnya disusun dari daur belajar dari pengalaman yang di strukturkan saat itu ( structural experiencies learning cycle). Proses tersebut sudah di uji sebagai satu proses yang mempenuhi tuntutan pendidikan partisipatori.
Berikut ini adalah rincian proses berdasarkan tahapannya:
  1. Rangkai-Ulang 
  2. Ungkapan 
  3. Kaji garis urai 
  4. Kesimpulan 
  5. Tindakan
Hal di atas sebagai metode pertama. Kemudian metode berikutnya siswa sebagai subjek, pendekatan prosesnya menerapkan pola induktif, kemudian tahapannya sebagai berikut:
  1. Persepsi. 
  2. Identifikasi diri 
  3. Aplikasi diri 
  4. Penguatan diri 
  5. Pengukuhan diri 
  6. Reflefksi diri.
Semua metode tersebut tentunya memperhatikan tujuan yang akan dicapai, bentuk pendidikan, proses yang akan dilakukan , meteri yang akan disajiakan, media atau sarana yang perlu disiapkan, dan peran fasilitator atau pemandu.
Metode kolaboratif
Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari perspektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey menulis sebuah buku Democracy and Education. Dalam buku tersebut Dewey menggagas konsep pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.
Pemikiran Dewey yang utama tentang pendidikan adalah:
  1. Siswa hendaknya aktif, learning by doing 
  2. Belajar hendaknya didasari motivasi intrinsic 
  3. Pengetahuan adalah berkembang, tidak bersifat tetap 
  4. Kegiatan belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa 
  5. Pendidikan harus mencakup kegiatan belajar dengan prinsip saling memahami dan saling menghormati satu sama lain, artinya prosedur demokratis sangat penting 
  6. Kegiatan belajar hendaknya berhubungan dengan dunia nyata dan bertujuan mengembangkan dunia tersebut (Suyatno, 2009).
Metode kolaboratif dalam pembelajaran lebih menekankan pada pembangunan makna oleh siswa dari proses sosial yang bertumpu pada konteks belajar. Metode kolaboratif ini lebih jauh dan mendalam dibandingkan hanya sekedar kooperatif. Dasar dari metode kolabooratif adalah teori interaksional yang memandang balajar sebaai suatu proses membangun makna melalui interaksi sosial.
Pembelajaran kolaboratif dapat menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktik-praktik pembelajaran. Sebagai teknologi untuk pembelajaran (technology for instruction), pembelajaran kolabotaif melibatkan partisipasi aktif siswa dan meminimalisasi perbedaan-perbedaan antarindividu. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu: (1) realisasi praktik, bahwa di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata, (2) menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Menurut Smith dan McGregor (Suyatno, 2009) metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai proses belajar sebagai berikut:
  1. Belajar itu aktif dan konstruktif. Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru dan terkait dengan bahan pelajaran. 
  2. Belajar itu bergantung konteks. Kegiatan pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu. 
  3. Siswa itu beraneka latar belakang. Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latar belakang, gaya belajar, pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan kerjasama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama dalam proses belajar. 
  4. Belajar itu bersifat sosial. Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun makna yang diterima bersama.
Berikut ini adalah langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:
  1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dana membagi tugas sendiri-sendiri. 
  2. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis. 
  3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemonstrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri. 
  4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap. 
  5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan lebih kurang selama 20-30 menit. 
  6. Setiap siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang dikumpulkan. 
  7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun per kelompok kolaboratif. 
  8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Metode Kooperatif
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyataan itu, belajar kelompok secara kooperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, dan tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi – komunikasi – sosialisasi karena kooperatif adalah miniatur dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Metode belajar yang menekankan belajar dalam kelompok heterogen saling membantu satu sama lain, bekerja sama menyelesaikan masalah, dan menyatukan pendapat untuk memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individual. Jadi, model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan belajar dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-parsitipatif), tiap anggota kelompok terdiri atas 4-5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karakter), ada control dan fasilitasi,dan menerima tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut (Suyatno, 2009):
  1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 
  2. Menyajikan informasi 
  3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar 
  4. Membimbing kelompok belajar dan bekerja 
  5. Evaluasi 
  6. Memberikan penghargaan
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar