Komponen E-Readiness

Terdiri dari beberapa komponen e-readiness. Terdapat beberapa hal yang harus dipenuh agar seseorang dapat dikatakan siap mengikuti e-learning. Miller (2005) menemukan bahwa pelajar perlu memiliki kemampuan teknologi dan kemampuan SDL agar dapat berfungsi secara maksimal dalam lingkungan pembelajaran e-learning. Survei Distance Education Online Symposium listserv (DEOS-L) menetapkan bahwa terdapat dua komponen utama dari kesiapan pelajar agar dapat sukses dalam e-learning, yaitu technical readiness dan self-directed learning readiness. Masing-masing komponen tersebut terdiri dari knowledge, attitudes, skills, dan habits. Keempat komponen ini dapat disingkat sebagai KASH (Guglielmino & Guglielmino, 2003).
Knowledge, merupakan bagian pertama, menyediakan informasi dasar yang diperlukan. Individu mungkin memiliki pengetahuan untuk melakukan sesuatu tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya. Attitudes merupakan bagian kedua: perasaan, kepercayaan dan kecenderungan berperilaku seseorang yang berasal dari bawaan maupun lingkungan yang memiliki pengaruh kuat terhadap perilaku. Meskipun knowledge dan attitude individu memiliki dasar yang baik bagi self-directed learning, hal tersebut tidak dapat dilakukan tanpa adanya skill.
Saat knowledge, attitude, dan skill telah dimiliki, pembentukan habit yang positif dapat mendukung suksesnya e-learning seseorang (Guglielmino & Guglielmino, 2003).
Technical Readiness for e-Learning
Komponen pertama dari e-readiness adalah kesiapan teknis. Kesiapan secara teknis berarti kesiapan individu untuk mengoperasikan teknologi, misalnya teknologi komputer dan teknologi internet. Optimisme dan keinginan untuk berinovasi turut mempengaruhi technical readiness seseorang (Elliott, dkk. 2008). Optimisme berarti percaya bahwa penggunaan teknologi sebagai media e-learning dapat memberikan keuntungan bagi individu, dan kemauan untuk berinovasi berarti keinginan individu untuk mencoba atau mengeksplorasi teknologi.
Individu yang memiliki knowledge, attitudes, skills, dan habits dalam teknologi akan lebih memiliki keuntungan dalam halnya kesiapan untuk e-learning.
  1. Technical Knowledge. Pengetahuan teknis berarti pengetahuan yang dibutuhkan dalam e-learning, misalnya pengetahuan dasar mengenai komponen dan operasi sistem yang digunakan dalam e-learning. 
  2. Technical Attitudes. Sikap dalam hal ini merupakan perasaan positif terhadap penggunaan teknologi sebagai sistem pembelajaran, kepercayaan diri dalam mengatasi teknologi, dan harapan yang positif untuk mengatasi tantangan baru. 
  3. Technical Skills. Jelas bahwa pelajar harus dapat mengaplikasikan kemampuan dasar yang diperlukan dalam penggunaan sistem e-learning. Misalnya, pelajar yang menggunakan sistem web-based memerlukan kemampuan untuk mengakses internet, menjalankan fungsi e-mail, dan kemampuan lain yang dibutuhkan. Salter (dalam Prayudi, 2009) menyatakan bahwa semakin baik technical skills yang dimiliki oleh pelajar, individu akan semakin siap untuk menggunakan e-learning. 
  4. Technical Habits. Kebiasaan secara teknis dapat beragam tergantung pada penggunaan teknologi dalam e-learning. Mengembangkan kebiasaan untuk berpartisipasi, mempelajari tugas, dan menyelesaikan tugas merupakan hal yang penting.
Self-Directed Learning Readiness
Komponen kedua dari e-readiness adalah Self-Directed Learning, yang selanjutnya akan disingkat dengan SDL. Guglielmino dan Guglielmino (2004) menyatakan bahwa persiapan yang paling baik bagi kesuksesan e-learning adalah dengan meningkatkan self-directed learning readiness. SDL berarti bahwa pengaturan dalam pembelajaran adalah tanggung jawab pelajar, bukan karena adanya paksaan dari luar (Long, 2003). Tanggung jawab terhadap pembelajaran sangat penting dalam e-learning dan dalam pembelajaran lainnya. Menurut Malcolm Knowles (dalam Guglielmino & Guglielmino, 2004), SDL merupakan suatu proses dimana pelajar, dengan atau tanpa bantuan dari orang lain, mengidentifikasikan kebutuhan pembelajaran, mendefinisikan tujuan pembelajaran, mengembangkan dan mengimplementasikan rencana pembelajaran, dan mengevaluasi pembelajaran yang telah didapat. Sedangkan, menurut Gibbons (2002), SDL merupakan peningkatan pengetahuan, kemampuan, pencapaian, atau pengembangan diri yang dipilih dan dilakukan oleh seorang individu dengan cara apapun dan kapanpun dia inginkan. Karakteristik SDL yang berhubungan dengan suksesnya e-learning dalam literatur dikenal dengan independence, self-direction, atau autonomy in learning.
SDL juga memiliki empat komponen, yaitu knowledge, attitudes, skilss, dan habits.
  1. Self-Directed Learning Knowledge. Persyaratan penting dalam kesiapan untuk SDL adalah pengetahuan diri (self-knowledge): pemahaman mengenai diri sendiri sebagai seorang pelajar. Hal tersebut termasuk pengetahuan mengenai inisiatif, ketekunan dan kesadaran mengenai diri sendiri untuk merasakan dan memproses informasi. Kesiapan untuk self-directed learning juga termasuk pengaturan pembelajaran sendiri. 
  2. Self-Directed Learning Attitudes. Sikap merupakan komponen utama dari kesiapan untuk SDL (Guglielmino & Guglielmino, 2003). Sikap yang dibentuk didasarkan pada keingingan yang kuat untuk belajar atau berubah. Individu yang memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan senang mempelajari hal baru berfokus pada pengembangan diri yang terus menerus, serta memandang pembelajaran sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah cenderung menjadi pelajar e-learning yang sukses. Sikap percaya diri sebagai pelajar yang kompeten dan efektif berarti melihat diri sendiri sebagai pelajar yang mampu dan berinisiatif dalam pembelajaran. Menerima tanggung jawab untuk pembelajaran seseorang dan memandang masalah sebagai tantangan merupakan komponen sikap yang saling berkaitan. Pelajar yang self-directed percaya bahwa tanggung jawab utama dalam pembelajaran ada pada diri sendiri. Pelajar sendirilah yang harus mengenal kebutuhan untuk belajar dan mengambil tanggung jawab. Dalam setting e-learning yang telah didesain sedemikian rupa, kreativitas dan kemandirian juga sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Setting e-learning yang menantang membutuhkan kemampuan untuk berpikir secara kreatif dan mengembangkan pemikiran seseorang dan proses untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah dibandingkan dengan hanya mengikuti petunjuk. Pelajar self-directed yang efektif menggunakan semua peralatan yang tersedia. Individu yang mau bertanya, mengklarifikasi, atau meminta nasehat para ahli akan selalu berusaha, dimana hal ini merupakan proses pembelajaran. Selain itu, hal penting dari SDL adalah menghargai pembelajaran, yaitu suatu pemikiran mengenai pentingnya pembelajaran yang dicapai oleh diri sendiri. Biasanya, orang-orang kurang menghargai prestasi seseorang yang didapat di luar situasi kelas formal. Mereka cenderung berpikir bahwa apabila instruktur tidak mengatakan apa yang harus dipelajari, tidak memberikan informasi, dan tidak menguji kita, hal tersebut tidak termasuk ke dalam pembelajaran.
  3. Self-Directed Learning Skills. Logikanya, kemampuan akademis dasar merupakan bagian yang penting dalam e-readiness, terutama kemampuan membaca. Pelajar yang self-directed biasanya dapat mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan pembelajaran mereka. Kemampuan yang berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran ini adalah kemampuan untuk merencanakan tujuan pembelajaran, mengembangkan rencana pembelajaran, mengidentifikasi sumber pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan mengevaluasi pembelajaran. Kemampuan mengatur waktu dan mempersiapkan dokumen atau laporan dapat mendukung proses ini. 
  4. Self-Directed Learning Habits. Salah satu kebiasaan penting dalam diri pelajar yang self-directed adalah persistence: ketekunan untuk mencapai tujuan meskipun ada masalah, kebosanan, atau faktor lain yang sedang melanda. Kebiasaan seperti perencanaan yang sistematis, pengaturan media dan materi pembelajaran, dan penyelesaian tugas sesuai dengan jadwal yang sudah direncanakan dapat meningkatkan keefektifan e-learning.
Dua kebiasaan penting lainnya meliputi reflection dan environmental scanning. Individu yang reflektif berpikir mengenai suatu tindakan atau kejadian, hasil yang mungkin terjadi dari tindakan atau kejadian tersebut, performansi diri, bagaimana tindakannya akan diinterpretasikan oleh orang lain, serta menganalisis pembelajaran diri, proses pembelajaran, dan hasil pembelajaran. Dengan kata lain, individu yang reflektif adalah individu yang melihat segala sesuatu dari sudut pandang makro dan mikro dalam mencari insight atau pemahaman baru. Environmental scanning merupakan kesadaran akan perubahan dan dampak-dampak yang mungkin terjadi dalam suatu lingkungan, termasuk kebutuhan untuk pembelajaran baru.
Berdasarkan hasil survei, Guglielmino dan Guglielmino (2003) mendeskripsikan pelajar yang memiliki self-directed tinggi, antara lain:
  1. Merupakan orang yang memiliki inisiatif, kemandirian, dan ketekunan untuk belajar 
  2. Merupakan orang yang bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri dan melihat masalah sebagai tantangan, bukan rintangan 
  3. Merupakan orang yang memiliki disiplin diri dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi 
  4. Merupakan orang yang percaya diri dan memiliki keinginan yang kuat untuk belajar atau berubah; 
  5. Merupakan orang yang mampu menggunakan kemampuan belajar, mengorganisasikan waktu dan menetapkan langkah yang tepat untuk belajar, dan merencanakan untuk menyelesaikan tugas 
  6. Merupakan orang yang menikmati pembelajaran dan cenderung berorientasi pada tujuan.
Pelajar, seperti mahasiswa, yang terlibat dalam lingkungan pembelajaran menggunakan e-learning diharapkan agar dapat e-readiness. Hal ini dikarenakan e-readiness merupakan kunci penting bagi kesuksesan e-learning.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar