Kehidupan Anak di Panti Asuhan

Kehidupan anak di panti asuhan berbeda dengan kehidupan anak di keluarga yang normal. Panti asuhan sebagai pengganti keluarga, mereka yang tidak memiliki keluarga lagi atau karena orang tuanya meninggal dunia. Mereka yang tinggal di panti asuhan berasal dari latar belakang yang berbeda serta usia yang berbeda-beda. Di dalam panti asuhan, anak di asuh secara masal.
Sebagai akibat dari pengasuhan secara masal tersebut adalah:
  1. Anak kurang memperoleh kasih sayang, perhatian dan pengawasan 
  2. Anak kurang memperoleh kesempatan melihat sendiri berbagai model dari orang tua atau orang dewasa lainnya 
  3. Anak kurang mempunyai kesempatan untuk berhubungan dengan orang tua yang dapat dijadikan identifikasi dalam pemahaman terhadap dirinya sendiri 
  4. Pengasuh di panti asuhan biasanya kurang dapat berperan sebagai orang tua atau keluarga pengganti dalam menggantikan fungsi keluarga.
Panti asuhan memberikan pelayanan pemeliharaan baik secara fisik, mental maupun sosial. Namun secara lebih lanjut, kondisi mental dan sosial anak asuh menjadi perhatian khusus. Dengan visinya yang ingin membentuk manusia secara utuh dengan cara memanusiakan manusia, panti asuhan mencoba untuk membentuk anak asuhnya dalam menghadapi stereotif masyarakat yang memandang bahwa anak panti asuhan memiliki kelas yang lebih rendah dan minder ini coba untuk diatasi panti asuhan ini melalui para pengasuh. Peranan seseorang pengasuh, mencerminkan tanggung jawab pengasuh untuk menghidupkan seluruh sumber daya yang ada di panti asuhan. Pada umumnya panti asuhan memberikan penanaman nilai-nilai kepercayaan diri agar bisa menerima kondisi dirinya dan mengatasi rasa minder dan rendah dirinya.
Berdasarkan uraian-uraian diatas dapat disimpulkan pada dasarnya anak yang tinggal di panti asuhan memerlukan adanya kebutuhan akan pengakuan, perhatian, dan kasih sayang. Kurang terpenuhinya kebutuhan tersebut akan menyebabkan anak mengalami hambatan dalam tugas selanjutnya. Anak yang tinggal di panti asuhan sering memiliki perasaan bahwa dirinya tidak sama seperti anak-anak yang tinggal dalam keluarga yang normal. Adanya orang tua sebagai keluarga pengganti yang di peroleh di panti asuhan tidak selamanya dapat membantu perkembangan jiwa anak. Hal ini cenderung mengakibatkan kemunduran-kemunduran yang berdampak pada penerimaan diri maupun kompetensi interpersonalnya.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar