Keadaan Psikologis Penderita Leukemia

Keadaan psikologis penderita leukemia hampir sama dengan penderita penyakit konis yang lain. Ada yang menerima dengan kesabatan, dan ada yang menolak, bahkan ada yang acuh tak acuh terhadap penyakitnya. Menurut Radley (1994) penderita penyakit kronis seperti leukemia dapat mengalami tiga akibat dari penyakit yang dideritanya atau pengobatan yang dijalaninya, yaitu:
  1. Impairment, yaitu kehilangan atau mengalami abnormalitas fungsi fisiologis atau anatomis. Misalnya tidak bisa menggerakkan tangan atau tidak bisa berjalan. 
  2. Disability, yaitu keterbatasan dalam kemampuan untuk mengerjakan suatu tugas atau untuk menjalankan peran secara normal. Misalnya tidak bisa mandi atau buang air kecil sendiri, tidak bisa bekerja, dan tidak bisa memasak. 
  3. Handicap, yaitu kerugian yang bersifat sosial berupa perlakuan orang lain kepada orang dengan impairment atau disability tertentu. Misalnya dikucilkan oleh orang lain.
Ketiga hal di atas dapat mempengaruhi kehidupan penderitanya. Lebih lanjut Charmaz (dalam Radley, 1994) menyatakan bahwa ada empat kondisi psikologis yang dapat dialami oleh orang yang hidup dengan penyakit kronis seperti leukemia yaitu:
  1. Kehidupan yang terbatas (restricted life). Hal ini terjadi jika seseorang terpaksa “terpuruk” di rumah, baik karena sakit yang dirasakan maupun pengobatan yang sedang dijalani. 
  2. Keterasingan sosial (social isolation). Hal ini merupakan akibat dari penyakit seseorang atau pengobatannya sehingga penderita terpaksa tidak dapat melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau dapat juga berasal dari perasaan penderita sendiri bahwa orang lain akan memperlakukan mereka berbeda. 
  3. Definisi diri yang tidak baik (discrediting definition of self). Hal ini terjadi jika orang lain menunjukkan rasa ingin tahu yang berlebihan, sikap yang tidak bersahabat atau rasa tidak nyaman saat berhubungan dengan penderita. Selain itu dapat terjadi jika penderita tidak dapat lagi melakukan pekerjaan yang sederhana seperti dulu. Keadaan-keadaan ini dapat menjadi sumber meningkatnya penilaian negative terhadap diri sendiri. 
  4. Merasa menjadi beban bagi orang lain (becoming a burden on others). Hal ini terjadi bila seseorang menderita sakit yang berat sehingga tidak dapat lagi menjalankan tugasnya seperti dulu. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak berguna baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar