Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kompetensi Interpersonal

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi interpersonal. Kompetensi interpersonal merupakan bagian dari kompetensi sosial (Hurlock, 2000). Kompetensi sosial dipengaruhi oleh partisipasi sosial yang dilakukan oleh individu, semakin besar partisipasi sosial semakin besar pula kompetensi sosialnya. Partisipasi sosial dipengaruhi oleh pengalaman sosial, dengan demikian dapat dikatakan bahwa perkembangan kompetensi interpaersonal dipengaruhi faktor pengalaman dimana pengalaman tersebut tidak terlepas dari faktor usia dan kematangan seksualnya.
Menurut Monks, dkk. (1990), ada beberapa faktor yang mempengaruhi kompetensi interpersonal, yaitu:
  1. Umur. Konformisme semakin besar dengan bertambahnya usia, terutama terjadi pada remaja usia 15 atau belasan tahun. 
  2. Keadaan sekeliling. Kepekaan pengaruh dari teman sebayanya sangat mempengaruhi kuat lemahnya interaksi teman sebaya. 
  3. Jenis kelamin. Kecenderungan laki-laki untuk berinteraksi dengan teman sebaya lebih besar daripada perempuan. 
  4. Kepribadian ekstrovert. Anak- anak ekstrovert lebih komformitas daripada introvert. 
  5. Besar kelompok pengaruh kelompok menjadi makin besar bila besarnya kelompok bertambah. 
  6. Keinginan untuk mempunyai status. Adanya dorongan untuk memiliki status inilah yang menyebabkan remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, individu akan menemukan kekuatan dalam mempertahankan dirinya di dalam perebutan tempat di dunia orang dewasa. 
  7. Interaksi orang tua. Suasana rumah yang tidak menyenangkan dan tekanan dari orang tua menjadi dorongan individu dalam berinteraksi dengan teman sebayanya. 
  8. Pendidikan. Pendidikan yang tinggi adalah salah satu faktor dalam interaksi teman sebaya karena orang yang berpendidikan tinggi mempunyai wawasan dan pengetahuan yang luas, yang mendukung dalam pergaulannya.
Selain faktor-faktor diatas, Lunandi (1987) menyatakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kompetensi interpersonal antara lain:
  1. Faktor psikologis, yaitu segala sesuatu yang ada di benak komunikator dan komunikan, termasuk sikap dan situasi kejiwaan komunikator. Hal ini akan mengiring komunikasi yang terjadi menjadi formal, tidak formal, tegang, atau bersahabat. 
  2. Faktor fisik, yaitu lingkungan fisik saat terjadi komunikasi, seperti restoran, bioskop, gereja, atau kantor. Lingkungan fisik akan mempengaruhi komunikasi yang terjadi. 
  3. Faktor sosial, meliputi hubungan manusia satu sama lain, misalnya orang tua dan anak, guru dan murid, atau antar teman sekerja. Relasi interpersonal yang terjadi meliputi aturan-aturan sosial yang ada dalam masyarakat. 
  4. Faktor budaya, meliputi tradisi, kebisaan, dan adat yang memiliki kekuatan besar unuk mempengaruhi karakter sesorang. Seluruh isi komunikasi akan mengikuti kebiasaan normal suatu budaya. 
  5. Faktor waktu, yaitu kapan sebuah komunikasi interpersonal terjadi. Waktu komunikasi bisa pagi, siang, sore, atau malam. Hari minggu dan bulan akan berpengaruh pada bentuk komunikasi. Karena sebagian orang aktif berkomunikasi di pagi hari sedangkan sebagian yang lain aktif berkomunikasi di malam hari, maka faktor waktu mempengaruhi kompetensi interpersonal.
Individu yang memiliki kesempatan untuk dapat berinteraksi dengan orang lain akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk meningkatkan perkembangan sosial dan perkembangan emosi serta lebih mudah dalam membina kemampuan interpersonal.
Menurut Soekanto (1982), faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi interpersonal, yaitu:
  1. Imitasi, mempunyai peran yang penting dalam proses interaksi. Salah satu segi positif dari imitasi adalah mendorong seseorang untuk mematuhi kaidah dan nilai-nilai yang berlaku. Tetapi imitasi juga dapat menyebabkan hal-hal negatif, misalnya ditirunya tindakan-tindakan yang menyimpang dan mematikan daya kreasi. 
  2. Sugesti, hal ini terjadi apabila individu memberi suatu pandangan dan atau sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima pihak lain. Berlangsung sugesti bisa terjadi karena pihak yang menerima sedang labil emosinya sehingga menghambat daya pikirnya secara rasional. Biasanya orang yang memberi sugesti orang yang berwibawa atau mungkin yang sifatnya otoriter. 
  3. Identifikasi, sifatnya lebih mendalam, karena kepribadian individu dapat terbentuk atas dasar proses identifikasi. Proses ini dapat berlangsung dengan sendirinya ataupun disengaja sebab individu memerlukan tipe-tipe ideal tertentu di dalam proses kehidupannya. 
  4. Simpati, merupakan suatu proses dimana individu merasa tertarik pada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan individu memegang peranan sangat penting walaupun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk kerjasama dengannya.
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan diatas, faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap kompetensi interpersonal dan menjadi variabel bebas pada penelitian ini yaitu penerimaan diri. Hal ini sesuai dengan pendapat yang di kemukakan oleh Sarwono (2000), salah satu faktor keberhasilan remaja panti asuhan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan di tentukan oleh kesanggupan dalam menerima keadaan dirinya sendiri. Seseorang dengan penerimaan diri yang baik akan menangkal emosi yang muncul karena dapat menerima diri dengan apa adanya.
Selain itu menurut Hurlock (2000) beberapa kondisi berperan dalam penerimaan diri seseorang: 
  1. Pemahaman diri 
  2. Harapan yang realistis 
  3. Bebas dari hambatan sosial 
  4. Perilaku sosial yang menyenangkan 
  5. Konsep diri yang stabil 
  6. Kondisi emosi yang menyenangkan.
Apabila remaja panti asuhan mampu memahami diri sendiri, memiliki harapan yang realistis, bebas dari hambatan sosial, dan memiliki konsep diri, perilaku sosial dan emosi yang menyenangkan maka diharapkan lebih mampu dalam meningkatkan kompetensi interpersonalnya.
Berdasarkan pernyataan di atas maka dapat di ambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kompetensi interpersonal antara lain umur, keadaan sekeliling, jenis kelamin, kepribadian ekstrovert, besar kelompok, keinginan untuk memperoleh status, interaksi orang tua, pendidikan, psikologis, fisik, sosial, budaya, waktu, imitasi, sugesti, identifikasi, simpati dan penerimaan diri.
loading...
Share on :


Related post:


1 komentar:

byusticia mengatakan...

faktor dari kompetensi interpersonal sumbernya dari buku apa ya?

Poskan Komentar