Bentuk-bentuk Komitmen Guru

Ada beberapa bentuk-bentuk komitment guru. Meyer (1997), menyatakan bahwa seseorang yang memiliki komitmen organisasi secara umum mencerminkan hubungan antara karyawan dengan organisasi, dan hal itu mempunyai implikasi bagi karyawan untuk memutuskan tetap berkeinginan menjadi anggota organisasi tersebut, dan ini memungkinkan bagi karyawan untuk tetap tinggal bersama-sama dalam organisasi tersebut.
Hal tersebut memberikan pemahaman bahwa guru yang mepunyai komitmen selain dapat menjalin kominikasi harmonis terhadap semua warga sekolah siswa juda mampu melaksanakan tugas profesinya secara optimal sebagai bentuk komitmen yang kerja dimilikinya kerja. Ada beberapa bentuk komitmen kerja yang harus dilaksanakan guru. Komitmen yang dimaksud diuraikan berikut ini:
Mengembangkan potensi siswa melalui aktivitas mengajar
Menurut pakar pendidikan Fox, seorang ahli pendidikan dari Inggris, menemukan bahwa guru-guru mendefinisikan tujuan mengajar berbeda-beda. Dia mengelompokkan definisi-definisi itu ke dalam empat kategori, yaitu: transfer, shaping, travelling, dan growing (dalam Celdic, 1995:23).
  1. Pernyatan tersebut dapat dikembangkan dengan model pengajaran sebagai berikut:Transfer; dalam model ini mengajar dilihat sebagai proses pemindahan pengetahuan (process of transferring knowledge) dari seseorang (guru) kepada orang lain (siswa). 
  2. Shaping; pengajaran merupakan proses pembentukan siswa pada bentuk-bentuk yang ditentukan. Di sini siswa diajar keterampilan-keterampilan dan cara-cara bertingkah laku yang dianggap bermanfaat bagi mereka. 
  3. Travelling; dalam model ini pengajaran dilihat sebagai pembimbingan siswa melalui mata pelajaran. Mata pelajaran dipandang sebagai sesuatu yang menantang dan kadang-kadang sulit untuk dieksplorasi. 
  4. Growing; model ini memfokuskan pengajaran pada pengembangan kecerdasan, fisik, dan emosi siswa.
Tugas guru adalah menyediakan situasi dan pengalaman untuk membantu siswa dalam perkembangan mereka. Ini merupakan model yang berpusat pada siswa (a child-centred model), di mana mata pelajaran penting, tidak sebagai tujuan, tetapi sepanjang sesuai dengan kebutuhan siswa dan berada dalam minat siswa.masing-masing model di atas mempunyai pengaruh yang penting pada tindakan dan komitmen guru, dan mendukung terbangunnya etos sekolah.
Memahami hakikat pendidikan
Secara filosofis universal, pendidikan bertujuan untuk perkembangan individu. Hal ini dapat dilihat dari tujuan pendidikan sebagaimana disampaikan oleh Hamm. Dia merujuk pendapat Hirst yang duambil oleh Pietersina Holle (2008) tentang hakikat pendidikan, yang kemudian membawanya pada kesimpulan bahwa tujuan pendidikan adalah perkembangan. Sejalan dengan pendapat Hirst tadi, John Dewey mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalan pertumbuhan dan perkembangan.
Sementara itu menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas), pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan.
Pendidikan nasional juga berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat, dan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (pasal 3).
Berdasarkan uraian di atas, maka pendidikan dapat dikatakan sebagai usaha untuk mengembangkan potensi peserta didik (siswa) agar menjadi manusia yang dicita-citakan, yang dilakukan secara sadar dan terencana. Karena dalam proses pembelajaran sebagai proses pendidikan itu terjadi aktivitas mengajar (oleh guru) dan aktivitas belajar (oleh siswa), maka mengajar dapat dimaknai sebagi upaya pengembangan potensi siswa. Jadi, mengajar berarti mengembangkan potensi siswa. Dengan demikian, dari empat definisi di atas, definisi yang paling sesuai adalah definisi yang terakhir yaitu sebagai penumbuhkembangan potensi siswa (growing).
Pemilihan definisi tersebut mengandung implikasi bahwa dalam proses pembelajaran, guru harus memfasilitasi siswa untuk mengembangkan potensi dirinya: bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Meskipun di dalamnya juga termasuk penyampaian informasi dan pembentukan, namun proses tersebut dikemas dalam pengembangan, dan berpusat pada siswa. Siswalah yang harus mengembangkan potensinya sendiri, guru hanya memfasilitasi. Karena pendidikan berbentuk proses pembelajaran, yang intinya guru mengajar dan siswa belajar, maka berdasarkan konteks ini, mengajar seyogyanya dimaknai sebagai penumbuhkembangan potensi siswa.
Menjadi agen pembelajaran
Banyak tugas harus dilaksanakan oleh guru sebagai orang yang berperan dalam dunia pendidikan. Salah satunya adalah sebagai agen pembelajaran. Guru sebagai agen pembelajaran berperan memfasilitasi siswa agar dapat belajar secara nyaman dan berhasil menguasai kompetensi yang sudah ditentukan. Untuk itu guru yang agen pembelajaran ini perlu merancang, agar proses pembelajaran berjalan lancar, dan mencapai hasil optimal.
Ada empat hal harus dipertimbangkan dalam menyusun rancangan pembelajaran, yakni: persiapan, pelaksanaan, penilaian dan refleksi. Apabila guru sebagai agen pembelajaran dapat melaksanakan keempat kegiatan itu dalam setiap proses pembelajaran secara baik, maka berarti tugas guru sebagai agen pembelajaran ini sudah berada pada jalur yang benar. Ini akan semakin memudahkan sang agen dalam mewujudkan cita-citanya menjadi guru profesional, sebagai bagian dari karakteristik seorang yang memiliki komitmen
Memperkuat tugas profesi
Di dalam perkembangan masyarakat yang semakin maju, guru masih memegang peranan strategis terutama dalam membentuk watak melalui perkembangan kepribadian dan nilai-nilai yang diinginkan. Masyarakat kita yang multicultural dan multi dimensional akibat adanya kemajuan teknologi secara global tidak berarti mengeliminasi tugas dan peranan guru, sebab teknologi secanggih apapun tidak bisa menggantikannya.
Jadi keberadaan guru merupakan suatu kebutuhan dan keniscayaan (necessity) dalam kehidupan bermasyarakat. Dilihat dari pekerjaan dan tugas guru yang amat penting, maka dalam diri guru perlu dikembangkan suatu keberanian tentang kesadaran melihat diri sendiri (self assesment).
Menyadari akan tugas profesi yang dimilikinya guru yang memiliki komitmen tinggi dalam melaksanakan kewajibannya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Mempunyai fungsi dan signifikasi sosial karena diperlukan untuk mengabdi kepada masyarakat 
  2. Memiliki keahlian/keterampilan tertentu yang diperoleh lewat pendidikan dan latihan yang intensif serta dilakukan dalam lembaga tertentu yang secara sosial dapat dipertanggungjawabkan (accountable). Proses pemerolehan keterampilan itu bukan hanya rutin, melainkan bersifat pemecahan masalah. Jadi dalam suatu profesi, independent judgment berperan dalam mengambil keputusan, bukan sekedar menjalankan tugas. 
  3. Didukung oleh suatu disiplin ilmu (a systematic body of knowledge), bukan sekedar serpihan atau hanya common sense 
  4. Terdapat kode etik yang menjadi pedoman perilaku anggotanya beserta sanksi yang jelas dan tegas terhadap pelanggaran kode etik 
  5. Mendapat imbalan finansial atau materiil sebagai konsekuensi logis dari layanan yang diberikan kepada masyarakat.
Profesionalisme guru merupakan keniscayaan global tuntutan masyarakat disetiap negara berkembang maupun negara-negara yang sudah maju. Lebih lanjut dalam jurnal terkemuka manajemen pendidikan Educational Leadership (Maret 2003) dinyatakan bahwa untuk menjadi professional, seorang guru harus:
  1. Memiliki komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Hal ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya 
  2. Menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarkannya kepada para siswa. 
  3. Bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar 
  4. Mampu befikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa 
  5. Merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.
Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh guru sebagai seorang professional harus dilandasi oleh sikap dan keyakinan sebagai pengabdian terhadap kemanusiaan untuk mencerdaskan kehidupan manusia. Pekerjaan mendidik tidak hanya didorong untuk mencari nafkah tetapi jauh dari itu didasari oleh idealisme sehingga akan melahirkan rasa cinta terhadap profesi guru, pekerjaan pendidikan dan terhadap para siswanya.
Memahami indera belajar siswa
Pada dasarnya orang mengenal dunia luar melalui inderanya. Bagi orang kebanyakan, lima indera yang dikenal dengan sebutan pancaindera merupakan alat yang dianugerahkan Tuhan untuk mengenali dunia luar. Kelima indera itu adalah penglihat (mata), pendengar (telinga), pembau (hidung), pengecap (lidah), dan peraba (kulit).Bagi siswa, umumnya mereka belajar melalui visual (yang dapat dilihat atau diamati), auditorial (yang dapat didengar), atau kinestetik (yang dapat digerakkan atau dimanipulasi), meskipun kadangkadang juga menggunakan pengecap dan peraba. Ketiga indera belajar yang sering digunakan ini dikenal dengan sebutan V-A-K (Visual-Auditorial-Kinestetik).
Bagi siswa tipe visual, mereka akan lebih mudah belajar apabila menggunakan grafik, gambar, chart, model, dan semacamnya. Sementara bagi siswa tipe auditorial, mereka akan lebih mudah belajar melalui pendengaran atau sesuatu yang diucapkan. Sedangkan siswa tipe kinestetik, mereka akan mudah belajar sambil melakukan kegiatan tertentu, misalnya membongkar dan memasang kembali, membuat model, memanipulasi benda, dan sebagainya.
Bagaimana guru memfasilitasi siswa yang beragam potensi dasarnya itu untuk bisa belajar dengan mudah dan mencapai tujuan pembelajaran secara optimal? Tentu saja, hal pertama yang harus dilakukan guru adalah mengenali kemudian memahami indera belajar seluruh siswanya di kelas yang diampunya. Setelah itu, baru guru dapat menentukan media dan metode apa yang digunakan dalam pembelajaran agar sesuai dengan kebutuhan siswa.
Yang pasti, seorang guru tidak akan berhasil memfasilitasi seluruh siswa di dalam kelasnya mencapai hasil belajar secara optimal apabila guru tersebut hanya menggunakan satu macam metode saja dalam pembelajaran. Satu macam metode, misalnya metode ceramah, hanya cocok bagi siswa tipe auditorial. Begitu pula, grafik atau chart hanya cocok bagi tipe visual, sementara anak-anak kinestetik juga tidak cocok apabila selama pembelajaran hanya duduk dan mendengarkan ceramah guru. Oleh karena itu, guru perlu memvariasikan metode dan media dalam pembelajaran. Ketiga tipe siswa sesuai V-A-K tadi harus mendapatkan porsi fasilitasi yang sama dalam belajar. Ini berarti guru harus, paling sedikit, menggunakan tiga bentuk fasilitasi, yakni: yang cocok buat tipe visual, cocok buat tipe auditorial dan cocok buat tipe kinestetik tadi.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar