Kelelahan Emosional

Kelelahan emosional merupakan sebuah keadaan ketidakseimbangan psikis dalam tubuh. Untuk mengetahui pengertian kelelahan emosional lebih dalam, kita akan mengkaji terlebih dahulu pengertian kelelahan. Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Kelelahan diatur secara sentral oleh otak (Amrizal, 2004). Menurut Suma’mur (1982) kelelahan adalah reaksi fungsionil dari pusat kesadaran yaitu cortex cerebri yang dipengaruhi oleh 2(dua) sistem antagonistik yaitu sistem penghambat (inhibisi) dan sistem penggerak (aktivasi) tetapi semuanya bermuara kepada pengurangan kapasitas kerja dan ketahanan tubuh. Kelelahan kerja (job bournout) adalah sejenis stres yang banyak dialami oleh orang–orang yang bekerja dalam pekerjaan–pekerjaan pelayanan terhadap manusia lainnya seperti perawat kesehatan, transportasi, kepolisian, pendidikan dan sebagainya (Schuler et.al, 1999).
Semenjak Freudenberger pada tahun 1974 mengenalkan istilah burnout. Sejak itu pula terminologi burnout berkembang menjadi pengertian yang meluas dan digunakan untuk memahami gejala kejiwaan pada diri seseorang. Berbagai tinjauan dari penggunaan terminologi hingga menyimpulkan sindroma yang kronik yang dialami oleh seseorang (Turnipseed & Moore, 1997). Menurut Freudenberger (1974), kelelahan emosional adalah respons individual yang unik terhadap stress yang dialami di luar kelaziman pada hubungan inter personal karena dorongan emosional yang kuat, timbulnya perasaan seakan-akan tak ada orang yang membantunya, depresi, perasaan terbelenggu dan putus asa (Tumipseed & Moore, 1997). Selain itu selalu merasa membatalkan pekerjaan, kehilangan pasanan kerja, pudarnya ilusi sebagai simpton lain dari kelelahan emosional dalam situasi yang kronik, yang dapat mendorong seseorang mengalami sakit mental bahkan bunuh diri. Potensi negatif kelelahan emosional ini melicinkan seseorang kearah putus asa dan depresi, dua karakteristik yang berpotensi kuat untuk melakukan bunuh diri (Turnipseed & Moore, 1997).
Kelelahan emosional selalu didahului oleh satu gejala umum, yaitu timbulnya rasa cemas setiap ingin memulai bekerja. Kabiasaan buruk ini mengubah individu menjadi frustasi, atau marah pada diri sendiri (Babakus, Cravens, Johnstan & Moncrif, 1999). Selanjutnya ditegaskan bahwa rasa cemas setiap ingin memulai bekerja itu merupakan suatu proses kelelahan emosional, sebagai dimensi sentral proses lain, yaitu yang menjelaskan prilaku dalam menyikapi perasaan stress yang tinggi di diri seorang tenaga penjual (Bebakus et.al.,1999:58). Selama ini kelelahan emosional kerapkali diujikan dengan menggunakan tenaga penjual di lapangan sebagai sampel, Analog dengan itu tenaga penjual di lapangan sebagai ujung tombak pemasaran, adalah setiap individu yang bekerja di dalam organisasi dan berfungsi sebagai pegawai garis depan yang berhadapan langsung dengan pihak-pihak yang harus dilayani. Misalnya, tenaga pendidik di perguruan tinggi yang berhadapan langsung dengan mahasiswa ketika memberi kuliah. Contoh lain, para perawat atau tenaga paramedik yang berhadapan langsung dengan pasiennya. Pekerja-pekerja garis depan itulah yang acapkali mengalami kelelahan emosional, dan jika itu terjadi maka seluruh rangkaian pekerjaan menjadi terganggu, tidak dapat mencapai sasaran secara tepat waktu, di samping pemborosan anggaran.
Burnout itu sendiri sebagai pangkal kelelahan emosional masih merupakan isu yang krusial dalam komitmen bisnis yang membicarakan persoalan kualitas dan organisasi yang menuntut adanya inovasi  yang konstan dan kebutuhan kinerja tinggi dari setiap orang yang bekerja. Dalam hal pembicaraan tentang emosional, Qui (1999), dalam The Academy of Manajement Review, mengemukakan gagasan yang menyangkut kecakapan emosional, kecerdasan emosional dan perubahan radikal. Kelelahan emosional ditempatkan sebagai salah satu aspek perubahan radikal berdasar kecakapan emosional dan kecerdasan emosional.
Menurut Qui (1999), akar kata emosi berasal dari kata kerja bahasa latin, movere, yang berarti "bergerak" (to move), atau yang mendorong yang terpicunya gerakan tiba-tiba untuk beraksi. Emosi menjadi dualistik, seperti pada gerak reflek sebagai karakter bawaan yang menghubungkan. Psikologikal dan proses-proses psikodinamik, sebagaimana sering terjadi pada struktur sosial. Pada perkembangan psikologikal yang sama, menjadi pertanda perbedaan emosional, yang dikenal sebagai "kesukaan" (joy) dan sebagai "keramahan" dan senantiasa terikat dengan penilaian kognitif pada situasi sosialisasi yang terkunci (Schachter & Singer 1962, dalam Qui, 1999). Kemarahan pada sltusasl sosialisasi yang terkunci itulah yang memunculkan kelelahan emosional, karena individu seakan tidak menemukan jalan tentang apa yang seharusnya dikerjakan. Qui tidak secara spesifik membahas kelelahan emosional dan hubungannya dengan sumberdaya manusia, tetapi lebih menekankan pada perubahan radikal. Secara teoritik pembahasan tentang kelelahan emosional selalu dihubungkan dengan dua peran yang melatar belakanginya, yaitu: (i) konflik peran, dan (ii) mendua peran.
Dalam penelitian ini, kelelahan emosional adalah “perasaan dimana seseorang tertekan dan kelelahan karena suatu pekerjaan” (Maslach dan Jackson, 1981; 101). Hal ini sering muncul ketika karyawan menyediakan pelayanan (Cordes dan Dougherty, 1993). Jasa profesional dibutuhkan untuk mempromosikan kesejahteraan dari klien-klien mereka dimana mengandung keragaman permintaan kognitif, emosional dan perilaku (Jonge dan Dorman, 2003). Sebenarnya, para pekerja jasa secara berkala sering mengalami reaksi negatif konsumen dan serangan verbal, hal ini dapat membuat mereka semakin cepat merasakan kelelahan emosional (Cordes dan Dougherty, 1993).
Penelitian ini menggunakan conservation resources theory (COR) untuk menggali dampak dari self efficacy seseorang dan gaya kepemimpinan pada kelelahan emosional. Teori COR menunjukkan bahwa kelelahan emosional muncul ketika pekerja melihat kurangnya sumberdaya untuk melakukan pekerjaan mereka (Halbesleben dan Buckley, 2004; Janssen et al., 2004). Ketika pekerja tahu kalau sumberdaya tidak cukup untuk memenuhi permintaan pekerjaan atau ketika tambahan dukungan personil tidak menyediakan hasil yang diinginkan, kelelahan emosional dapat muncul (Lee dan Ashforth, 1996; Wright dan Hofboll, 2004).
Pembahasan tersebut mengatakan bahwa ada dua faktor yang menyebabkan kelelahan emosional menjadi rendah:
  1. Persepsi pekerja bahwa mereka memiliki kemampuan untuk bekerja baik–ketepatan pekerjaan seseorang. 
  2. Pekerja percaya bahwa gaya kepemimpinan dapat bernilai pada alokasi sumberdaya dan menyediakan sumberdaya yang sama untuk memenuhi permintaan pekerjaan mereka.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar