Fisiologi Tidur

Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan menekan pusat otak agar agar dapat tidur dan bangun. Pusat pengaturan tidur terdapat pada medula oblongata (Hidayat, 2008). Menurut Hanun (2011), berdasarkan gambaran EGG tidur dapat dibagi menjadi dua fase yaitu non rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM).
Pada awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari tiga stadium NREM dan satu REM yaitu:
Tidur stadium 1 (N1)
Stadium ini merupakan antara tahap terjaga dan tahap awal tidur.Saat seseorang mulai mengantuk, perlahan-lahan kesadaran mulai meninggalktan dirinya.Stadium ini juga disebut dengan downiness, yaitu tahap ketika pikiran kita melayang-layang tak menentu tetapi masih menyadari kondisi disekeliling sehingga merasa belum tidur. Stadium ini hanya berlangsung 3-5 menit dan mudah ekali dibangunkan. Gambaran EKG biasanya terdiri dari gelombang campuran alfa, beta, dan kadang gelombang teta dengan amplitude yang rendah. Tidak didapatkan adanya gelombang sleep spindle dan kompleks K.
Tidur stadium 2 (N2)
Setelah stadium N1, maka akan semakin dalam tertidur dan masuk ke tidur fase stadium N2. Gelombang otak lambat masih menjadi latar, tetapi sesekali muncul gelombang khas berupa gelombang sleep spindle. Pada stadium ini, tidur semakin sulit bangunpanggilan berulang-ulang karena merupakan tahap tidur terbanyak, kira-kira 50 % dari total tidur satu malam.
Tidur stadium 3 (N3 )
Setelah kira-kira 10 menit dalam tahap N2, maka akan masuk ke stadium tidur yang lebih dalam, yaitu tahap stadium 3 (N3) atau sering disebut tidur slow wave karena gelombang otak semakin melambat dengan frekuensi yang lebih rendah. Pada gambaran EEG terdapat lebih banyak gelombang delta simetris antara 25%- 50% serta tampak gelombang sleep spindle. Dalam stadium ini hormone pertumbuhan (growth hormon) dan prolaktin dikeluarkan oleh tubuh untuk pertumbuhan pada bayi dan perbaikan untuk mempertahankan keutuhan maupun kemudaan jaringan tubuh.Sementara prolaktin adalah hormon yang banyak terdapat pada ibu menyusui maka semakin tinggi pula produksi prolaktin. Namun fungsi pada saat tidur belum dapat dijelaskan.
Tahap tidur REM
Dari tahap N3 biasanya akan terus meningkat dan kembali pada tahap N2. EEG akan menunjukkan aktivitas otak yang meningkat secara drastis, yang pertanda seseorang memasuki tahap tidur R (REM) atau hanyut dalam mimpi. Tahap ini tubuh tidak bisa menerima rangsangan apa pun, karena tubuh tidak merespon aktivitas otak yang menimbulkan lumpuh sesaat.
Pada lansia yang sering terbangun dan kembali tidur, maka tahap 1 akan dimulai kembali. Dalam pola tidur normal, sekitar 70 sampai 90 menit setelah awitan tidur. Konsekuensi dari terbangun pada malam hari dapat menimbulkan efek buruk pada fisiologis dan fungsi mental pada usia lanjut (Stanley, 2006).
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar