Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prasangka Sosial

Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi prasangka sosial. Dalam proses pembentukan prasangka sosial terdapat faktor-faktor yang berkaitan dan saling berinteraksi satu sama lain. Menurut beberapa ahli ada faktor-faktor mendasar yang berkaitan dengan prasangka sosial berserta definisinya.
Menurt Ahmadi (1990), seseorang tidak semata-mata melakukan atau mempunyai prasangka sosial tetapi ada faktor-faktor yang mendahuluinya sehingga seseorang berprasangka.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan seseorang berprasangka adalah:
  1. Orang berprasangka dalam rangka mencari kambing hitam. Dalam berusaha seseorang mempunyai kelemahan atau mengalami kegagalan. Sebab dalam kegagalan itu tidak dicari dalam dirinya tapi pada orang lain. 
  2. Orang mempunyai prasangka karena memang sudah terkondisi atau sudah mempersiapkanya.
Prasangka timbul karena adanya anggapan yang sudah menjadi pendapat umum atau kebiasaan dalam linggkungan tertentu. Kimball Young (dalam Ahmadi, 1990) menyatakan bahwa prasangka mempunyai ciri khas pertentangan dalam kelompok yang ditandai oleh kuatnya in-group dan out-group.
Menurut Brehm dan Kassin (1989), prasangka adalah perasaan negatif seseorang terhadap anggota kelompok tertentu.
Penyebab prasangka menurut Brehm dan Kassin adalah sebagai berikut:
  1. Individual differences, yaitu perbedaan faktor kepribadian seseorang. Seseorang berprasangka karena mempunyai kepribadian yang otoriter. Salah satu ciri kepribadian otoriter dengan adanya prasangka terhadap orang yang berbeda dengan dirinya. 
  2. Setting stage, yaitu seseorang berprasangka karena adanya tahapan-tahapan tertentu, di mana setiap tahapan berbeda tujuan dan tugasnya sengga seseorang berprasangka. Hal ini dijelaskan karena seseorang di dalam kelompok mempunyai superordinate goals yaitu tujuan-tujuan tertentu yang hanya dapat dicapai hanya dengan kerja sama antar sesama anggota kelompok. Mereka berprasangka terhadap orang-orang yang ada di luar kelompoknya. 
  3. Real conflict, yaitu orang yang berprasangka karena adanya kompetisi langgsung untuk mendapatkan sesuatu yang terbatas. Dalam hal ini pihak yang kalah akan merasa frustrasi. 
  4. Social jealeousy, yaitu adanya anggapan kelompok tertentu merasa lebih miskin dibanding kelompok lain, serta ada perasaan tidak puas terhadap kelompok atau orang yang lebih kaya. 
  5. Social identity, yaitu usaha seseorang untuk meningkatkan harga dirinya dengan mengidentifikasikan dirinya kepada kelompok tertentu. Hal ini menganggap kelompoknya adalah kelompok favorit sehingga individu diluar kelompoknya dianggap lebih rendah dibanding dirinya.
Watson dan Trigerthan (1984) menerangkan faktor-faktor dukungan sosial yang menyebabkan prasangka sosial, yaitu:
  1. Norma, yaitu standar prilaku individu di dalam keadaan tertentu. Hal ini dapat menjelaskan bahwa orang itu berprasangka bukan karena keadaan dirinya tetapi semata-mata individu konform terhadap norma yang berlaku dalam lingkungan sosialnya. Selain itu seseorang berprasangka karena normanya menuntut individu tersebut untuk berprasangka. 
  2. Peranan media massa, mempunyai arti besar dalam mendukung terjadinya prasangka sosial. 
  3. Faktor kognitif dalam prasangka sosial, yaitu cara berfikir seseorang yang negatif terhadap orang lain atau kelompok tertentu dapat menimbulkan prasangka sosial. 
  4. Adanya perasaan in-group dan out-group, yaitu rasa memiliki yang berlebihan terhadap kelompoknya sehingga menimbulkan sikap yang berbeda terhadap individu lain di luar kelompoknya.
Prasangka sosial memiliki tahapan tertentu (Baron dan Byrne, 1991). Pada awalnya prasangka sosial tidak selalu diaktualisasikan dalam bentuk perilaku yang nyata. Pada taraf yang lebih tinggi prasangka dapat menimbulkan adanya diskriminasi dan tindakan yang agresif.
Hal-hal yang menyebabkan timbulnya prasangka sosial menurut Baron dan Byrne (1991), adalah sebagai berikut:
  1. Adanya konflik horisontal antar kelompok yang teijadi karena adanya persaingan yang tidak kompetitif. Persaingan yang teijadi secara terus menerus secara tidak sehat mengakibatkan orang-orang yang terlibat akan selalu berfikiran negatif pada orang lain. 
  2. Karena adanya kategori sosial yang mendikotomikan kelompok yang satu dengan kelompok lain. Perbedaan yang teijadi timbul karena adanya perbedaan yang mendasar seperti, perbedaan ras, agama, jenis kelamin, status sosial ekonomi. Perbedaan dalam menentukan suatu kategori kelompok menyebabkan timbulnya prasangka sosial.
Dari keterangan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa prasangka sosial merupakan suatu sikap negatif yang diperlihatkan oleh individu atau kelompok tertentu terhadap individu atau kelompok lain yang teijadi akibat adanya suatu perbedaan. Perbedaan tersebut dapat mempengaruhi individu atau kelompok lain untuk memberikan kesan dan persepsi yang menghambat dan merugikan kepentingan kelompok lain.
loading...
Share on :


Related post:


2 komentar:

wisata muslim mengatakan...

terkadang prasangka menimbulkan jurang yang amat dalam antara satu dengan yang lainnya, maka dari itu kita diseru untuk menjauhi prasangka. apapun bentuknya...

umroh plus turki mengatakan...

betul tuh gan!

Poskan Komentar