Obat Adrenergik

Obat golongan adrenergik disebut obat adrenergik karena efek yang ditimbulkankannya mirip perangsangan saraf adrenergik, atau mirip efek neurotransmitor epinefrin (yang disebut adrenalin) dari susunan sistem saraf sistematis.  
Kerja obat adrenergik dapat dibagi dalam 7 jenis:
  1. Perangsang perifer terhadap otot polos pembuluh darah kulit dan mukosa dan terhadap kelenjar liur dan keringat 
  2. Penghambat perifer terhadap otot polos usus, bronkus, dan pembuluh darah otot rangka 
  3. Perangsang jantung, dengan akibat peningkatan denyut jantung dan kekuatan kontraksi 
  4. Perangsang Sistem saluran pernapasan 
  5. Efek metabolik, misalnya peningkatan glikogenilisis dihati dan otot dan pelepasan asam lemak bebas dari jaringan lemak 
  6. Efek endokrin, misalnya mempengaruhi sekresi insulin, rennin dan hormon hipofisis 
  7. Efek prasinaptik, dengan akibat hambatan atau peningkatan pelepasan neurotransmitor (Setiawati, 1995).  
Obat adrenergik dapat digolongkan menjadi dua yaitu berdasarkan mekanisme kerja dan efek farmakologinya.
Menurut mekanisme kerja obat adrenergik dapat dibagi menjadi:
  1. Adenergik yang berefek langsung --- Golongan ini bekerja secara langsung, membentuk kompleks dengan reseptor  khas. Contohnya epinefrin. 
  2. Adrenergik yang berefek tidak langsung --- Adrenergik ini bekerja dengan melepaskan katekolamin, terutama norepenefrin, dari granul-granul penyimpanan diujung saraf simpatetik atau menghambat pemasukan norepinefrin pada membran saraf.  Contoh: amfetamin, etilamfetamin. 
  3. Adrenergik yang berefek campuran --- Adrenergik ini dapat menimbulkan efek melalui pengaktifan adrenoreseptor dan melepaskan katekolamin dari tempat penyimpanan atau menghambat pemasukan katekolamin. Contoh: efedrin, fenilpropanolamin.
Berdasarkan efek farmakologis atau penggunaan terapi, obat adrenergik dibagi menjadi  lima golongan:
  1. Vasopresor, digunakan untuk pengobatan syok, dengan cara mengembangkan jaringan perfusi. Contoh: dobutamin HCl, dopamine HCl, isoproterenol HCl, fenilefrin HCl. 
  2. Bronkodilator, menyebabkan relaksasi otot polos bronkiola, dan digunakan sebagai penunjang pada pengobatan asma, bronchitis, emfisema dan gangguan pada paru-paru. Contoh: salbutamol sulfat, terbutalin sulfat, klenbuterol, metaproterenol sulfat, fenoterol HBr, prokaterol HCl, efedrin HCl, epinefrin. 
  3. Dekongestan hidung, digunakan untuk mengurangi aliran darah pada daerah yang bengkak karena menyebabkan vasokonstriksi arteriola pada mukosa hidung. Contoh: efedrin HCl, epinefrin, nafazolin HCl. 
  4. Midriatik, menyebabkan midriasis dengan cara menimbulkan kontraksi otot pelebaran iris mata. 
  5. Dekongestan mata, menimbulkan efek vasokonstriksi, midriasis dan menurunkan tekanan dalam mata. Digunakan untuk mengontrol pendarahan selama operasi mata, pengobatan glaucoma tiper tertentu, pengobatan beberapa penyakit mata dan untuk penjernih mata. Contoh: divefrin HCl, efedrin sulfat, epinefrin HCl, fenilefrin HCl, nafazolin HCl (Siswandono et al, 1995).
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar