Konstipasi

Definisi Konstipasi
Konstipasi adalah persepsi gangguan buang air besar berupa berkurangnya frekuensi buang air besar, sensasi tidak puas/lampiasnya buang air besar, terdapat rasa sakit, perlu ekstra mengejan atau feses yang keras. Disepakati bahwa buang air besar yang normal frekuensinya adalah 3 kali sehari sampai 3 hari sekali. Dalam praktek sehari-hari dikatakan konstipasi bila buang air besar kurang dari 3 kali seminggu atau 3 hari tidak buang air besar atau buang air besar diperlukan mengejan secara berlebihan (Djojoningrat, 2009).
Konstipasi berarti pelannya pergerakan tinja melalui usus besar dan sering disebabkan oleh sejumlah besar tinja yang kering dan keras pada kolon desenden yang menumpuk karena absorpsi cairan yang berlebihan (Guyton, 2007).
Tabel definisi konstipasi sesuai dengan International Workshop on Constipation:
Tipe
Kriteria
Konstipasi fungsional
Dua atau lebih dari keluhan ini paling sedikit dalam 12 bulan:
- Mengedan keras 25% dari BAB
- Feses yang keras 25% dari BAB
- Rasa tidak tuntas 25 % dari BAB
- BAB kurang dari 2 kali per minggu
Penundaan pada muara rectum
- Hambatan pada anus lebih dari 25% BAB
- Waktu untuk BAB lama
- Perlu bantuan jari- jari untuk mengeluarkan feses.

Epidemiologi konstipasi
Konstipasi merupakan keluhan saluran cerna yang terbanyak pada usia lanjut. Terjadi peningkatan keluhan ini dengan bertambahnya usia; 30-40% orang berusia di atas 65 tahun mengeluh konstipasi. Di Inggris, 30% orang berusia 60 tahun merupakan konsumen yang teratur menggunakan obat pencahar. Di Australia, sekitar 20% dari populasi berusia di atas 60 tahun mengeluh mengalami konstipasi dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pria. Suatu penelitian yang melibatkan 3000 orang berusia diatas 65 tahun menunjukkan sekitar 34% perempuan dan 26 % pria yang mengeluh konstipasi (Pranaka, 2009).
Konstipasi mempengaruhi 2% hingga 27% (rata-rata 14,8%) dari populasi orang dewasa di Amerika Utara sekitar 63 juta orang. Konstipasi lebih mempengaruhi perempuan dari pada laki-laki dan kulit hitam lebih sering dari pada kulit putih. Hal ini terjadi pada semua kelompok umur tetapi lebih sering terjadi pada mereka yang berusia lebih dari 65 tahun dan umur dibawah 4 tahun (Orenstein, 2008).
Konsensus menyimpulkan bahwa konstipasi kronis memiliki estimasi prevalensi 5-21% di wilayah Amerika latin, dengan rasio perempuan dan laki-laki 3:1. Individu dengan Konstipasi, 75% menggunakan beberapa jenis obat. (Wasermann, 2008).
Etiologi konstipasi
Adapun etiologi dari konstipasi adalah sebagai berikut:
  1. Pola hidup; diet rendah serat, kurang minum, kebiasaan buang air besar yang tidak teratur, kurang olah raga. 
  2. Obat – obatan; antikolinergik, penyekat kalsium, alumunium hidroksida, suplemen besi dan kalsium, opiate (kodein dan morfin) 
  3. Kelainan stuktural kolon; tumor, stiktur, hemoroid, abses perineum, magakolon. 
  4. Penyakit sistemik; hipotiroidisme, gagal ginjal kronik, diabetes mellitus. 
  5. Penyakit neurologic; hirschprung, lesi medulla spinalis, neuropati otonom. 
  6. Disfungsi otot dinding dasar pelvis. 
  7. Idiopatik transit kolon yang lambat, pseudo obstruksi kronis 
  8. Irritable Bowel syndrome tipe konstipasi (Djojoningrat,2009).
Patofisiologi konstipasi
Defekasi dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang menghantar feses ke rektum untuk dikeluarkan. Feses masuk dan merenggangkan ampula dari rekum diikuti relaksasi dari sfingter anus interna. Untuk menghindari pengeluaran feses secara spontan, terjadi refleks kontraksi dari sfingter anus eksterna dan kontraksi otot dasar pelvis yang dipersarafi oleh saraf pudendus. Otak menerima rangsangan keinginan untuk buang air besar dan sfingter anus eksterna diperintahkan untuk relaksasi, sehingga rektum mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot dinding perut. Kontraksi ini akan menaikkan tekanan dalam perut, relaksasi sfingter dan otot-otot levator ani (Pranaka, 2009).
Patogenesis dari konstipasi bervariasi, penyebab multipel mencangkup beberapa faktor yaitu:
  1. Diet rendah serat, karena motalitas usus bergantung pada volume isi usus. semakin besar volume akan semakin besar motalitas. 
  2. Gangguan refleks dan psikogenik. Hal ini termasuk (1) fisura ani yang terasa nyeri dan secara refleks meningkatkan tonus sfingter ani sehingga semakin meningkatnya nyeri; (2) yang disebut anismus (obstruksi pintu bawah panggul), yaitu kontraksi (normalnya relaksasi) dasar pelvis saat rektum terenggang. 
  3. Gangguan transport fungsional, dapat terjadi karena kelainan neurogenik, miogenik, refleks, obat-obatan atau penyebab iskemik (seperti trauma atau arteriorsklerosis arteri mesentrika). 
  4. Penyebab neurogenik. Tidak adanya sel ganglion di dekat anus karena kelainan kongenital (aganglionosis pada penyakit Hirschsprung) menyebabkan spasme yang menetap dari segmen yang terkena akibat kegagalan relaksasi reseptif dan tidak ada refleks penghambat anorektal (sfingter ani internal gagal membuka saat rektum mengisi). 
  5. Penyakit miogenik. Distrofi otot, sklerosisderma, dermatomiosistis dan lupus eritamatosus sistemik. 
  6. Obstruksi mekanis di lumen usus (misal, cacing gelang, benda asing, batu empedu). 
  7. Pada beberapa pasien konstipasi dapat terjadi tanpa ditemukannya penyebabnya. Stress emosi batau psikis sering merupakn faktor memperberat keadaan yang disebut irritable colon (Silbernag, 2007).
Gambaran klinis
Beberapa keluhan yang mungkin yang berhubungan dengan konstipasi adalah:
  1. Kesulitan memulai atau menyelesaikan buang air besar. 
  2. Mengejan keras saat buang air besar. 
  3. Massa feses yang keras dan sulit keluar. 
  4. Perasaan tidak tuntas saat buang air besar. 
  5. Sakit pada daerah rektum saat buang air besar. 
  6. Adanya pembesaran feses cair pada pakaian dalam. 
  7. Menggunakan bantuan jari- jari untuk mengeluarkan feses. 
  8. Menggunakan obat-obat pencahar untuk bisa buang air besar (Pranaka, 2009).
Diagnosis Konstipasi
Anamnesis
Anamnesis yang terperinci merupakan hal terpenting untuk mengungkapkan adakah konstipasi dan faktor resiko penyebab.
Kriteria Rome-II untuk diagnosis konstipasi fungsional
Dua atau lebih gejala klinis berikut ditemukan sekurang kurangnya 12 minggu dalam 12 bulan ( tidak boleh berturut-turut).
  1. Mengejan selama lebih dari satu dalam buang empat kali buang air besar. 
  2. Tinja keras dalam 4 kali buang air besar. 
  3. Sensasi defekasi yang tidak lampias dan lebih dari satu dalam empat kali buang air besar. 
  4. Menggunakan evakuasi digital (misalnya mengeluarkan tinja dengan jari tangan, penopang dasar panggul) dengan lebih satu dalam empat kali buang air besar. 
  5. Kurang dari 3 kali buang air besar per minggu. (a) Tanpa ada diare atau tinja yang lembek. (b) Gejala klinis tidak memenuhi kriteria sindrom usus iritabel (Lavan).
Pemeriksaan fisik meliputi:
  1. Inspeksi perineal mencari lesi yang nyeri dan lain-lain. 
  2. Pemeriksaan rektal perhatikan tonus anus, tekanan menjepit dan apakah rektum kosong atau terisi dan penuh dengan feses. 
  3. Pemeriksaan abdomen untuk melihat ada massa atau jaringan parut. 
  4. Pemeriksaan neurologik. 
  5. Pemeriksaan vagina untuk mengobservasi adanya rektokel.
Sigmoidoskopi untuk mencari lesi lokal.
Pemeriksaan darah lengkap, LED.
Urea, elektrolit, kalsium darah, tes fungsi tiroid.
Radiologi 
  1. Foto otot polos penting pada kecurigaan adanya obstruksi. 
  2. Barium enema merupakan indikasi pada semua kasus (Cooper).
Diagnosis banding
Diagnosis banding konstipasi:
  1. Idiopatik/ diet. 
  2. Neoplasma kolorektal. 
  3. Depresi. 
  4. Hipotiroidisme. 
  5. Hiperkalsemia. 
  6. Megakolon. 
  7. Penyakit Hirschsprung (Davey, 2003).
Penatalaksanaan konstipasi
Sebagian tergantung pada pandangan pasien mengenai masalahnya
Diet dan hidrasi
Pada pasien dengan gejala yang mengganggu, langkah pertama adalah mengoptimalkan asupan serat dan cairan.
Obat-obat pencahar. Ada 4 tipe golongan obat pencahar:
  1. Memperbesar dan melunakkan masa feses, antara lain: Cereal, Methyl Selulose, Psilium. 
  2. Melunakkan dan melicinkan feses, obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga mempermudah penyerapan air. Contoh Minyak kasto, Golongan docusate. 
  3. Golongan osmotik yang tidak diserap, sehingga cukup aman digunakan, misalnya pada penderita gagal ginjal, antara lain: Sorbitol, Lactulose, Glycerin. 
  4. Merangsang peristaltik sehingga meningkatkan motilitas usus besar (Pranaka, 2009).
Hubungan makan berserat dengan kejadian konstipasi 
  1. Serat makanan di dalam usus, akan menyerap cairan dan mengembang seperti karet busa, membentuk tinja menjadi besar dan lembab, sehingga lebih mudah keluar, konsumsi dietary fiber khususnya insoluble fiber misalnya pectin akan menghasilkan feses yang lunak. 
  2. Diet berserat tinggi mempertahankan kelembaban tinja dengan cara menarik air secara osmotis kedalam tinja dan dengan merangsang peristaltic kiolon melalui perengganggan.
loading...
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar