Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan

Dimensi mutu pelayanan kesehatan terdiri dari beberapa dimensi. Mutu suatu organisasi pemberi pelayanan sangat sulit diukur dan lebih bersifat subjektif.
Aspek dan dimensi mutu pelayanan kesehatan menggunakan beberapa dimensi/karakteristik sebagai berikut: 
  1. Communication, yaitu komunikasi atau hubungan antara penerima dan pemberi jasa 
  2. Credibility, kepercayaan pihak penerima jasa terhadap pemberi jasa. 
  3. Security, yaitu keamanan terhadap jasa yang ditawarkan. 
  4. Knowing the customer, yaitu pengertian dari pihak pemberi jasa pada penerima jasa atau pemahaman pemberi jasa terhadap kebutuhan dengan harapan pemakai jasa. 
  5. Tangible, yaitu bahwa dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan harus diukur atau dibuat standarnya. 
  6. Reliability, yaitu konsistensi kerja pemberi jasa dan kemampuan pemberi jasa. 
  7. Responsiveness, yaitu tanggapan pemberi jasa terhadap kebutuhan dan harapan penerima jasa. 
  8. Competence, yaitu kemampuan atau ketrampilan pemberi jasa yang dibutuhkan setiap orang dalam perusahaan untuk memberikan jasanya kepada penerima jasa. 
  9. Access, yaitu kemudahan pemberi jasa untuk dihubungi oleh pihak pelanggan. 
  10. Courtessy, yaitu kesopanan, aspek perhatian, dan kesamaan dalam hubungan personel.
Penyampaian jasa pelayanan kepada pelanggan kadang-kadang diterima tidak sesuai dengan harapan sehingga mengakibatkan kegagalan dalam penyampaian jasa sebagai berikut:
  1. Kesenjangan antara harapan pelanggan dengan prinsip manajemen. Manajemen tidak selalu memahami secara tepat apa yang diinginkan pelanggan. 
  2. Kesenjangan antara persepsi manajemen dan spesifikasi mutu jasa. Manajemen mungkin memahami secara tepat keinginan pelanggan, tetapi tidak menetapkan standar kinerja secara spesifik. 
  3. Kesenjangan antara spesifikasi antara mutu jasa dan penyampaian jasa. Petugas mungkin kurang terlatih, tidak mampu, atau tidak mau memenuhi standar. 
  4. Kesenjangan antara penyampaian jasa dan komunikasi eksternal. Harapan pelanggan dipengaruhi oleh pernyataan yang dibuat wakil-wakil dan iklan perusahaan. 
  5. Kesenjangan antara jasa yang dialami dan jasa yang diharapkan. Hal ini terjadi bila pelanggan mengukur kinerja dengancara yang berbeda dan memiliki persepsi yang keliru mengenai mutu jasa. (Satrianegara, M.F., & Sitti Saleha, 2009).
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar