Pola Asuh Anak

Pola asuh anak adalah pola-pola yang diberikan oleh orang tua dalam berinteraksi dengan anggota keluarga (anak). Pola asuh anak menentukan bagaimana anak berkembang dalam sebuah keluarga. Bahkan, menurut beberapa teori, pola asuh anak akan mempengaruhi perkembangan anak di kemudian hari.
Pola asuh merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi dengan anak- anaknya. Sikap tersebut meliputi cara orangtua memberikan aturan-aturan, memberikan perhatian. Pola asuh sebagai suatu perlakuakn orangtua dalam rangka memenuhi kebutuhan, memberi perlindungan dan mendidik anak dalam kesehariannya. Sedangkan Pengertian pola asuh orangtua terhadap anak merupakan bentuk interaksi antara anak dan orangtua selama mengadakan pengasuhan yang berarti orangtua mendidik, membimbing dan melindungi anak (Gunarsa, 2002).
Menurut Soetjiningsih (1995), kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang, secara umum digolongkan menjadi 3 kebutuhan dasar, antara lain:
Kebutuhan fisik-biomedis (“ASUH”)
Pola asuh orang tua terhadap anak meliputi:
  1. Pangan/gizi merupakan kebutuhan terpenting.
  2. Perawatan kesehatan dasar, antara lain imunisasi, pemberian ASI, penimbangan bayi/ anak yang teratur, pengobatan jika sakit, dan lain-lain.
  3. Papan/pemukiman yang layak.
  4. Higiene perorangan, sanitasi lingkungan.
  5. Sandang.
  6. Kesegaran jasmani, rekreasi.
Kebutuhan emosi/kasih sayang (“ASIH”)
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, hubungan yang erat, mesra dan selaras antara ibu dengan anak merupakan syarat mutlak untuk menjamin tumbuh kembang yang selaras baik fisik, mental maupun psikososial. Kasih sayang orang tua baik dari ayah maupun ibu menciptakan ikatan yang erat dan kepercayaan dasar ( basic trust).
Kebutuhan akan stimulasi (“ASAH”)
Stimulasi mental merupakan cikal bakal dalam proses belajar (pendidikan dan pelatihan) pada anak. Stimulasi mental (ASAH) ini mengembangkan perkembangan mental psikososial : kecerdasan, keterampilan, kemandirian, kreativitas, agama, kepribadian, moral, produktivitas, dan sebagainya. Dapat membahagiakan dan membanggakan orang tua yang telah susah payah membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang.
TIPE-TIPE POLA ASUH ANAK
Secara garis besar, ada tiga cara kepemimpinan dan pengasuhan yang secara tidak sengaja diterapkan oleh orang tua terhadap anak-anaknya. Ketiga tipe tersebut adalah:
Otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola asuh dimana orang tua cenderung berwatak keras, suka memaksa pendapat, senang mendominasi semua tingkah dan perilaku dari anak, suka menguasai pembicaraan, dan tidak senang dibantah.
Permisif
Pola asuh permisif adalah pola asuh dimana orang tua bersikap masa bodoh, terlalu cuek, serba tidak peduli atas apa yang terjadi, kurang berempati, kurang memahami perasaan orang lain, lemah, dan mudah mengalah pada anak.
Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh orang tua yang lebih menghargai pendapat dan hak-hak anak dan orang lain, bersikap mendorong, penuh penghargaan dan perhatian, selalu membimbing tanpa terkesan memaksakan kehendak.
KRITERIA POLA ASUH ANAK
Pola asuh orangtua terhadap perilaku anak memiliki beberapa kriteria yaitu (Syamsul, 2005):
  1. Pola asuh Authoritarian --- Pola asuh orangtua, dimana sikap orangtua yang rendah, namun kontrolnya tinggi, suka menghukum secara fisik dan bersikap komando.
  2. Pola asuh Permissive --- Pola asuh orangtua, dimana sikap orangtua meningkat namun kontrolnya rendah, memberikan kebebasan terhadap anak untuk mengatakan dorongan keinginannya.
  3. Pola asuh Authoritative --- Pola asuh oragtua, dimana sikap yang meninggat dan kontrolnya meningkat, bersikap responsif terhadap kebutuhan anak, mendorong anak untuk menyatakan pendapat atau pertanyaan, memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik atau buruk.
  4. Pola asuh Dominan --- Pola asuh orangtua yang mendominasi dalam segala hal yang menyangkut remaja dalam tindakan sehari-hari.
  5. Pola asuh Submission --- Orangtua cenderung senantiasa memberikan sesuatu yang diminta anak berperilaku semaunya dirumah.
  6. Pola asuh Overdisplin --- Orangtua senantiasa mudah memberikan hukuman, menanamkan kedisiplinan secara keras.
TIPS CARA MENDIDIK ANAK
Terdapat beberapa cara dalam mendidik anak bagi orangtua yaitu (Suwanto, 2009):
  • Bagi orangtua harus kompak memilih pola asuh yang akan diterapkan kepada anak. Jangan berubah-ubah agar anak tidak menjadi bingung.
  • Jadilah orangtua yang pantas diteladani anak dengan mencontohkan hal- hal positif dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai anak dipaksa melakukan hal baik yang orangtuanya tidak mau melakukannya. Anak nantinya akan menghormati dan menghargai orang tuanya sehingga setelah dewasa akan menyayangi orangtua dan anggota keluarga yang lain.
  • Sesuaikan pola asuh dengan situasi, kondisi, kemampuan dan kebutuhan anak. Pola asuh anak balita tentu akan berbeda dengan pola asuh anak remaja. Jangan mendidik anak dengan biaya yang tidak mampu ditalangi orangtuanya. Usahakan anak mudah paham dengan apa yang kita inginkan tanpa merasa ada paksaan, namun atas dasar kesadaran diri sendiri.
  • Kedisiplinan tetap harus diutamakan dalam membimbing anak sejak mulai kecil hingga dewasa agar anak dapat mandiri dan dihormati serta diharga masyarakat. Hal-hal kecil seperti bangun tidur tepat waktu, membantu pekerjaan rumah tangga orangtua, belajar dengan rajin, merupakan salah satu bentuk pengajaran kedisiplinan dan tanggungjawab pada anak.
  • Kedepankan dan tanamkan sejak dini agama dan moral yang baik pada anak agar kedepannya dapat menjadi orang yang saleh dan memiliki sikap dan perilaku yang baik dan agamis. Anak yang shaleh akan selalu mendoakan orangtua yang telah melahirkan dan membesarkannya walaupun orangtuanya telah meninggal dunia.
  • Komunikasi dilakukan secara terbuka dan menyenangkan dengan batasan- batasan tertentu agar anak terbiasa terbuka pada orangtua ketika ada hal yang ingin disampaikan atau hal yang mengganggu pikirannya. Jika marah sebaiknya orangtua menggunakan ungkapan yang baik dan tidak langsung yang dapat dipahami anak agar anak tidak lantas menjadi tertutup dan menganggap orangtua tidak menyenangkan.
  • Hindari tindakan negatif pada anak seperti memarahi anak tanpa sebab, menyuruh anak seenaknya seperti pembantu tanpa batas, menjatuhkan mental anak, merokok, malas beribadah, menbodoh-bodohi anak, sering berbohong pada anak, membawa pulang stres dari kantor, memberi makan dari uang haram pada anak, enggan mengurus anak, terlalu sibuk dengan pekerjaan dan lain sebagainya.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar