Pengukuran Kecerdasan Emosional

Emotional Competency Inventory (ECI) (Wolff, 2005) merupakan salah satu instrumen untuk mengukur kecerdasan emosional. Instrumen alat ukur kecerdasan emosi disusun berdasarkan teori kompetensi emosional dari Dr. Daniel Goleman dalam bukunya Emotional Intelligence dan Hay/McBer’s Generic Competency Dictionary atau yang biasa disebut juga dengan Self-Assessment Questionnaire (SAQ) dari Dr. Richard Boyatzis.
ECI (Wolff, 2005) mengukur 18 kompetensi emosional yang mencakup empat klaster yaitu kesadaran diri (self-awareness), pengelolaan diri (self-management), kesadaran sosial (social awareness) dan pengelolaan hubungan (relationship management). Berikut rincian ke-18 kompetensi emosional tersebut.
Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Kesadaran diri merujuk pada kemampuan mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumber daya, dan intuisi. Klaster kesadaran diri meliputi tiga kompetensi, antara lain:
  1. Kesadaran emosi (emotional awareness): Mengenali emosi diri sendiri dan efeknya.
  2. Penilaian diri secara teliti (accurate self-asssessment : Mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.
  3. Percaya diri (self –confidence): Keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.
Pengelolaan Diri (Self-Management)
Pengelolaan diri merujuk pada pengelolaan kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri. Klaster pengelolaan diri meliputi enam kompetensi, antara lain:
  1. Kendali diri emosi (emotional self-control): Mengelola emosi dan impuls yang merusak.
  2. Sifat dapat dipercaya (transparency): Memelihara integritas, berperilaku sesuai dengan nilai pada diri sendiri.
  3. Adaptabilitas (adaptability): Keluwesan dalam menghadapi perubahan.
  4. Dorongan berprestasi (achievement): Dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan.
  5. Inisiatif (initiative): Kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan.
  6. Optimisme (optimism): Kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan.
Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Kesadaran sosial merujuk pada bagaimana seseorang menangani hubungan dan kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan dan perhatian orang lain. Klaster kesadaran sosial meliputi tiga kompetensi, antara lain:
  1. Empati (empathy): Mengindra perasaan dan perspektif orang lain, dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka.
  2. Kesadaran politis (organizational awareness): Mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan perusahaan.
  3. Orientasi pelayanan (service orientation): Mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pengelolaan Hubungan (Relationship Management)
Pengelolaan hubungan adalah kemampuan atau kecakapan dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain. Klaster pengelolaan hubungan meliputi enam kompetensi, antara lain:
  1. Mengembangkan orang lain (developing others): Merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka.
  2. Kepemimpinan yang inspiratif (inspirational leadership): Membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain.
  3. Katalisator perubahan (change catalist): Memulai dan mengelola perubahan.
  4. Pengaruh (influence): Memiliki taktik untuk melakukan persuasi.
  5. Manajemen konflik (conflict management): Negosiasi dan pemecahan silang pendapat.
  6. Kolaborasi dan kooperasi (teamwork and collaboration): Kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama. Menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.
Emotional Competency Inventory (ECI) digunakan terutama untuk mengukur kecerdasan emosi di bidang industri dan organisasi. Hal ini terbukti dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa ECI berhubungan dengan hasil seperti kesuksesan hidup seseorang, kinerja departemen, persepsi kepemimpinan dalam kelompok, kinerja penjualan, kinerja pemadam kebakaran, kepuasan jamaah gereja, dan lain-lain (Wolff, 2005).
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar