Hubungan Kecerdasan Emosi dan Perilaku Seksual pada Remaja

Fase usia remaja merupakan masa dimana manusia sedang mengalami perkembangan begitu pesat, baik fisik, psikologis dan sosial. Perkembangan secara fisik ditandai dengan semakin matangnya organ-organ tubuh termasuk organ reproduksi. Kematangan secara seksual memiliki hubungan yang sejalan dengan perkembangan fisik termasuk didalamnya aspek-aspek anatomis dan fisiologis (Monks dkk, 1998).
Adanya kematangan fisik termasuk matangnya organ-organ seksual tanpa diimbangi percepatan pematangan emosi dan adanya kebebasan yang kian meningkat menyebabkan masalah seksualitas yang dialami remaja menjadi semakin kompleks. Hal tersebut diperparah dengan maraknya pemberitaan di media massa dan televisi yang menceritakan tentang pacaran dan cinta (Prihartini, 2002). Hal ini menyebabkan aktivitas seksual seolah-olah sudah menjadi hal yang lazim dilakukan oleh remaja yang berpacaran. Hurlock (dalam Mayasari, 2000) mengemukakan bahwa aktivitas seksual merupakan salah satu bentuk ekspresi atau tingkah laku berpacaran dan rasa cinta. Hal-hal tersebut telah menempatkan remaja pada posisi yang rentan. Menurut Pudjono (dalam Prihartini, 2002), kematangan secara seksual membuat remaja menjadi mudah terangsang akan hal- hal yang berbau seksualitas karena dorongan seksual yang meningkat.
Sebagian ahli mempertanyakan alasan keterlibatan remaja dalam berbagai perilaku seksual yang membuatnya terjebak pada resiko yang berkaitan dengan aspek sosial, emosional, maupun kesehatan. Turner dan Feldman (1996) menemukan bahwa alasan yang melandasi perilaku remaja adalah berkaitan dengan upaya-upaya untuk pembuktian perkembangan identitas diri; belajar menyelami anatomi lawan jenis, menguji kejantanan, menikmati perasaan dominan, pelampiasan kemarahan (terhadap seseorang), peningkatan harga diri, mengatasi depresi, menikmati perasaan berhasil menaklukkan lawan jenis, menyenangkan pasangan, dan mengatasi rasa kesepian. Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapat dikerjakan.
Menurut Mu’tadin (2002) salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pranikah pada remaja adalah faktor internal, dimana remaja yang melakukan perilaku seksual pranikah tersebut didorong oleh rasa sayang dan cinta dengan didominasi oleh perasaan kedekatan dan gairah yang tinggi terhadap pasangannya, tanpa disertai komitmen yang jelas. Rasa sayang dan rasa cinta merupakan salah satu bentuk emosi yang dirasakan setiap orang. Remaja yang perasaannya lebih didominasi oleh dorongan-dorongan seksual akan lebih memudahkan mereka untuk melakukan perilaku seksual pranikah dengan pasangannya sebagai wujud dari rasa sayang dan cinta tersebut.
Remaja perlu untuk mengontrol semua bentuk perilaku negatif mereka, salah satu hal yang dapat mengontrol perilaku negatif yang banyak dilakukan remaja adalah dengan memiliki kecerdasan emosi yang tinggi, hal ini didukung juga oleh penjelasan Gottman & DeClaire (1998) bahwa remaja yang cerdas secara emosi akan mampu memecahkan masalah mereka sendiri maupun bersama orang lain, mampu mengambil keputusan secara mandiri, lebih banyak mengalami sukses di sekolah maupun dalam hubungannya dengan rekan-rekan sebaya, dan terlindung dari resiko penggunaan obat terlarang, tindak kriminal dan perilaku seks yang tidak aman.
Menurut Salovey dan Mayer (dalam Shapiro, 1997) kecerdasan emosi juga akan mendukung terciptanya kemampuan pengendalian diri atau kontrol diri. Pengendalian diri ini meliputi pengendalian perilaku terutama perilaku-perilaku yang mengarah kepada konsekuensi negatif, pengendalian kognitif dan pengendalian keputusan (Averill dalam Elfisa, 1995). Selain itu, kemampuan mengontrol diri juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membimbing, mengatur, dan mengarahkan bentuk-bentuk perilaku melalui pertimbangan kognitif, sehingga dapat membawa kearah konsekuensi positif (Lazarus, 1976). Hal ini sejalan dengan Ekowarni (1993) bahwa ketegangan emosi yang tinggi, dorongan emosi yang sangat kuat dan tidak terkendali akan membuat remaja sering mudah meledak emosinya dan bertindak tidak rasional.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diketahui bahwa remaja yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan dalam bergaul dan tidak dapat mengontrol emosi dan perilakunya. Sebaliknya remaja yang berkarakter atau mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas dan sebagainya.
Share on :


Related post:


0 komentar:

Poskan Komentar